Kabut menggantung rendah di Pegunungan Bebas. Raka melangkah mantap di jalur setapak sempit, tubuhnya yang atletis bergerak luwes di antara batu dan akar.
Jalur mulai licin hari ini, pikirnya sambil menyesuaikan keseimbangan.
Tiba-tiba—kreek! Batu di bawah kaki kanannya bergeser.
Dia terpeleset, tubuh miring ke jurang. Jantungnya berdebar kencang, tapi napasnya tetap terkontrol. Tenang. Jangan lawan gravitasi, alihkan.
Tangannya mencengkeram akar yang mencuat, menarik badan kembali ke jalur. Dia berdiri, mengusap debu dari baju longgarnya.
"Gunung memang tidak pernah kompromi," gumamnya sendiri.
Dia terus berjalan, tapi sesuatu menghentikannya—naluri yang terasa seperti peringatan halus. Matanya menyapu lereng di bawah. Kabut menipis sebentar, cukup untuk melihat asap tipis mengepul dari balik punggungan.
Api unggun. Ada manusia.
Raka mengeratkan ikat pinggang kainnya. Keris sederhana di pinggangnya terasa berat. Pilihan: hindari atau konfirmasi? Filosofi pegunungan mengajarkan: bahaya yang diketahui lebih baik daripada yang tak terduga.
Dia memilih mendekati.
---
"Benda sialan! Cuma besi tua ini!"
Suara kasar menggema di dataran kecil. Tiga pria berpakaian lusuh duduk mengelilingi api. Yang paling muda—wajahnya penuh jerawat—memutar-mutar sebuah keris sederhana.
"Tapi si tua itu mati masih memegangnya, Bro," kata pria kedua, lebih gemuk, dengan tawa terkekeh. "Pasti ada harganya."
Yang ketiga—bertubuh besar dengan bekas luka di alis—mengeluarkan botol minuman. "Kita cari perbekalan, bukan barang antik. Mayatnya juga cuma bawa ubi dan dendeng."
Raka membeku di balik pohon pinus besar. Itu keris Pak Tua Giran.
Jantungnya berdebar lebih kencang. Pak Tua sudah sepuh, tapi adalah penjaga jalur timur yang dihormati. Jika kerisnya ada di tangan mereka...
"Kita harusnya cari kafilah yang lewat," gerutu si Jerawat. "Bunuh penjaga jalur tua cuma dapat ini."
Si Besar mendelik. "Dia yang pilih mati. Cuma menusuk bahunya sudah menjerit seperti babi."
Raka mengepalkan tangan. Mereka membunuhnya. Darahnya mendidih, tapi pikirannya tetap dingin. Tiga lawan satu. Mereka berpengalaman, kejam. Bodoh kalau langsung menyerang.
Tapi matanya tak bisa lepas dari keris itu—simbol penghormatan yang sekarang diinjak-injak.
"Lagipula," si Gemuk menambahkan, "siapa peduli dengan penjaga jalur tua? Pegunungan ini milik yang kuat."
Kata-kata itu memantik sesuatu dalam diri Raka. Pegunungan tidak pernah 'milik' siapapun. Kita hanya tamu di sini.
Dia mengambil napas dalam-dalam—dan melangkah keluar.
Tiga pasang mata langsung menatapnya.
"Eh, siapa kau?" tanya si Besar, berdiri dengan sigap. Golok pendek sudah di tangannya.
Raka tidak menjawab. Matanya tetap pada keris di tangan si Jerawat.
Si Gemuk tertawa. "Pasti pendaki tersesat. Lihat bajunya—kain kasar, bukan bahan kota."
"Bunuh saja," gerutu si Jerawat. "Jangan tinggalkan saksi."
Mereka menyebar—formasi sederhana tapi efektif. Si Besar di depan, dua lainnya di samping. Mereka terbiasa bekerja sama, pikir Raka.
"Kau tahu mereka?" tanya Raka tiba-tiba, suaranya datar.
Si Besar mengerutkan kening. "Siapa?"
"Yang kau bunuh untuk dapat keris itu."
Suasana berubah. Ketiga perampok saling pandang. Si Jerawat menggenggam keris lebih erat.
"Jadi kau kenal si tua itu," kata si Besar, senyumnya mengerikan. "Berarti kau juga penjaga jalur?"
"Bukan," kata Raka. "Tapi saya menghormatinya."
Si Gemuk meludah. "Omong kosong! Di gunung, yang kuat yang berkuasa!"
Mereka menyerang bersamaan.
Si Besar maju dengan tebasan vertikal. Raka menghindar ke kiri—tapi si Jerawat sudah menunggu dengan tusukan keris. Mereka menjebak!
Raka memutar tubuh, kerisnya sendiri masih terbungkus. Tangannya menepis serangan si Jerawat, mendorongnya hingga tersandung.
"Dasar anak muda!" teriak si Jerawat marah.
Tapi si Gemuk sudah di belakang Raka, goloknya menyapu rendah. Raka melompat—tepat waktu—tapi mendarat di tanah licin. Keseimbangannya goyah.
Bodoh! hardiknya dalam hati. Terburu-buru!
Si Besar tak memberi waktu. Tebasan berikutnya datang horizontal, mengarah ke leher. Raka membungkuk, merasakan angin bilah melewati rambutnya. Tapi kini dia terjepit—tebing di belakang, tiga musuh di depan.
"Sudah habis akal, ya?" ejek si Besar.
Raka menatap mereka satu per satu. Napasnya berat, tapi pikirannya bekerja cepat. Mereka mengandalkan formasi. Pecah itu.
Dia memutuskan. Kakinya menendang tanah, menyemburkan debu dan kerikil ke arah si Gemuk.
"Matanya! Matanya!" teriak si Gemuk, mengusap wajah.
Formasi terbuka. Raka melesat ke celah itu—tapi si Jerawat sudah menunggu. Keris Pak Tua Giran sekarang diacungkan ke arahnya.
"Untuk si tua!" teriak si Jerawat menusuk.
Waktu seakan melambat.
Raka melihat bilah itu mendekat. Matanya menangkap detail—pamor sederhana, gagang kayu usang, noda coklat di pangkal bilah. Noda darah.
Sesuatu dalam dirinya berubah.
Napasnya yang tadinya tersengal, tiba-tenang. Jantung yang berdebar kencang, menjadi stabil berirama. Otot-ototnya yang tegang, merileks—bukan karena menyerah, tapi karena menemukan keselarasan.
Bunyi!
Kerisnya sendiri—masih terbungkus—berhasil dia tarik tepat waktu, menangkis serangan. Tapi kekuatannya berbeda.
Si Jerawat terlempar mundur, kerisnya terlepas dari genggaman. "A-Apa?!" wajahnya pucat.
Raka sendiri terkejut. Tadi... tubuhku seperti punya tenaga sendiri.
Si Besar tak peduli. "Bunuh dia!"
Tebasan terakhir datang—penuh amarah, tak terkendali. Raka melihat celah: emosi buta membuat gerakan terbuka.
Dia memutar tubuh, menghindar dengan sempurna—lalu tangannya bergerak. Bukan menusuk. Tapi menampar sisi gagang golok dengan pangkal kerisnya.
Dentang!
Golok itu terlepas, berputar di udara sebelum jatuh ke jurang.
Si Besar terpana, memandangi tangan kosongnya. "Kau... kau..."
Raka tak memberi waktu. Kaki menyapu, menjatuhkan si Besar ke tanah. Kerisnya kini terbuka—bilah sederhana terarah ke leher pria itu.
"Jangan! Jangan bunuh!" si Besar menjerit.
Raka menatapnya. "Seperti kau membunuh Pak Tua?"
"Bukan! Maksudku—"
Tapi Raka sudah melihat ke arah lain. Si Gemuk dan si Jerawat sudah kabur, menghilang ke dalam kabut. Hanya terdengar langkah kaki tergesa.
Si Besar gemetar. "Mereka... mereka meninggalkanku..."
Raka menghela napas. Mereka hanya sekutu karena kuat. Saat bahaya, ikatan itu rapuh.
Dia menurunkan kerisnya. "Di mana mayatnya?"
Si Besar menunjuk ke semak belukar di pinggir dataran. "Di sana... kami kubur dangkal."
Raka berjalan ke sana. Di balik semak, ada gundukan tanah baru. Dia menggali dengan tangan—dan menemukan wajah tua yang sudah pucat. Mata Pak Tua Giran terbuka, masih memandang langit.
Dengan lembut, Raka menutupinya. "Maaf, Pak. Saya terlambat."
Dia mengambil keris Pak Tua yang tergeletak di tanah, membersihkannya sebelum mengembalikannya ke sarung di pinggang mayat. "Ini tempatnya."
Si Besar masih duduk di tanah, memandangi Raka dengan campuran takut dan heran. "Mengapa... mengapa kau tidak membunuhku?"
Raka menoleh. "Karena saya bukan hakim hidup-mati."
"Tapi tadi... kekuatanmu. Itu bukan sekadar silat." Si Besar terdiam sejenak. "Aku pernah lihat pendekar kota bertarung. Mereka cepat, kuat. Tapi kau... berbeda. Seperti gunung yang bergerak."
Raka mengerutkan kening. Gunung yang bergerak? Dia sendiri tak mengerti apa yang terjadi tadi. Hanya tahu bahwa saat nyawanya terancam, sesuatu dalam dirinya bangkit—sesuatu yang lebih dalam dari sekedar ketrampilan.
"Pergilah," kata Raka akhirnya. "Tapi jika kau masih di jalur ini besok, saya tidak akan berbaik hati lagi."
Si Besar mengangguk cepat, berdiri dengan goyah sebelum menghilang ke arah yang sama dengan kawannya.
Raka tinggal sendiri. Dia mulai menggali kuburan yang layak untuk Pak Tua, pikirannya berputar. Gunung yang bergerak. Apa maksudnya?
Dia tak tahu. Tapi satu hal yang pasti: perampok yang kabur akan membawa cerita. Dan di Pegunungan Bebas, cerita menyebar lebih cepat dari kabut.
Saat matahari mulai turun, Raka berdiri di tepi kuburan baru. "Selamat beristirahat, Pak."
Dia berbalik untuk pergi—tapi tiba-tiba merasakan sesuatu. Sebuah sensasi geli di tengkuk, seperti ada yang mengawasi.
Dia menoleh cepat ke tebing tinggi di sebelah barat. Kabut tebal, tak terlihat apa-apa.
Hanya imajinasi, pikirnya.
Tapi di balik kabut itu, sesosok bayangan berdiri diam. Seorang pria berjubah gelam, memegang alat pengintai dari tembaga. Senyum tipis mengembang di wajahnya.
"Potensi RASA mentah, tapi murni," bisiknya dengan logat asing. "Layak dilaporkan."
Dia menghilang ke dalam bayangan, meninggalkan Raka yang masih memandang tebing dengan perasaan tidak enak.
Pegunungan ini menyimpan lebih dari yang kukira, pikir Raka sebelum akhirnya berjalan pergi, menuju jalur yang semakin gelap.
---
