LightReader

Chapter 2 - Bab 2 darah di jalr sunyi

Raka membeku di tengah jalur, tangannya masih menggenggam keris yang basah oleh embun pagi. Suara jeritan tadi—tajam, penuh rasa sakit—terdengar dari arah lembah di bawah.

Bukan perkelahian biasa, pikirnya, tubuhnya sudah bergerak sebelum otaknya selesai menganalisa. Itu teriakan orang yang disiksa.

Dia meluncur turun melalui jalur licin, kakinya menari di antara batu-batu tajam. Tiga hari telah berlalu sejak insiden dengan perampok, tapi rasa waspada itu belum hilang. Malah, semakin dalam.

Saat mencapai dasar lembah, bau menusuk memenuhi hidungnya. Bau besi berkarat dicampur sesuatu yang manis busuk. Darah. Darah yang sudah berumur beberapa jam.

Di balik semak pakis yang tinggi, dia menemukan sumbernya.

Dua mayat tergeletak di tanah basah. Bukan pendaki. Berpakaian bagus—kain halus dengan sulaman emas di tepinya. Pedagang kaya? Tapi apa yang mereka lakukan di jalur terpencil ini?

Raka berjongkok, memeriksa. Luka di tubuh mereka dalam, berantakan. Bukan tebasan pedang terlatih, tapi lebih seperti... pemotongan. Seperti seseorang mencoba memisahkan daging dari tulang.

"Lihat apa yang kita temukan."

Suara itu datang dari balik pohon. Tenang, hampir bersahabat, tapi ada nada melengking di bawahnya.

Tiga orang muncul. Mereka berbeda dari perampok sebelumnya. Pakaian mereka lebih rapi, senjata lebih terawat—golok pendek dengan bilah mengkilap, pisau belati di sabuk. Tapi yang paling mencolok adalah mata mereka. Dingin, kosong, seperti pedagang yang menilai barang dagangan.

Yang paling depan, pria berwajah tirus dengan janggut tipis, tersenyum. "Sepertinya ada yang penasaran."

Raka berdiri perlahan. "Mereka?" tanyanya, menunjuk mayat.

"Bisnis," jawab si Janggut Tipis. "Mereka punya barang, kami butuh barang. Sayangnya, terjadi kesalahpahaman."

Raka melihat sekeliling. Dua lainnya sudah menyebar—satu di kiri, satu di kanan. Formasi pengepungan. Mereka profesional.

"Siapa kalian?" tanya Raka, tangannya secara alami bergerak mendekati kerisnya.

"Kami adalah... pembersih jalur," kata si Janggut Tipis. "Dan kau menghalangi pembersihan."

Tanpa peringatan, orang di kanan melompat. Pisau belatinya menyambar ke leher Raka.

Raka menghindar dengan memutar badan, tapi kain bajunya tertarik, robek. Cepat. Terlalu cepat.

"Ah, lincah!" seru si Janggut Tipis, masih tersenyum. "Tapi lihat ini."

Dia mengangkat tangan—dan dunia berubah.

Tekanan.

Itu satu-satunya kata yang bisa menggambarkannya. Seperti udara di sekeliling Raka tiba-tiba mengental, menekan dari segala arah. Napasnya tersendat, langkahnya menjadi berat.

Apa ini? pikirnya panik.

"Kau merasakannya, ya?" bisik si Janggut Tipis. "Itu yang kami sebut RASA. Kemampuan untuk menekan tanpa menyentuh."

RASA. Kata itu terasa asing tapi juga akrab. Seperti mengingat mimpi yang terlupakan.

Orang di kiri menyerang kali ini. Goloknya menyapu rendah. Raka mencoba melompat, tapi tekanan udara itu membuatnya lambat. Bilah menyentuh betisnya—sreek!—luka dangkal, tapi perihnya masuk sampai ke tulang.

Darah mengalir. Raka terhuyung, tapi pikirannya bekerja cepat. Tekanan ini... berasal dari niatnya. Dari fokusnya. Jika fokusnya pecah...

Dia mengambil kerisnya, melemparkan sarungnya ke arah si Janggut Tipis.

Itu sekejap saja—mata pria itu mengikuti gerakan sarung—tapi tekanan itu melemah sebentar.

Cukup.

Raka melesat ke depan, bukan ke samping. Langsung menuju sumber tekanan. Si Janggut Tipis terkejut, mengambil langkah mundur. Tapi Raka sudah terlalu dekat.

Kerisnya menusuk lurus ke perut.

Tapi bilahnya berhenti setengah jalan—seperti menabrak dinding karet. Hanya masuk beberapa sentimeter sebelum tertahan.

Si Janggut Tipis tertawa terengah-engah. "RASA Tubuh, anak muda. Kulitku sekarang sekeras kayu besi."

Dia membalas dengan tamparan. Raka berusaha menghindar, tapi tamparan itu masih menyentuh bahunya.

Braak!

Suara tulang retak. Rasa sakit yang membakar menyebar dari bahu ke seluruh tubuhnya. Raka terlempar ke belakang, jatuh di atas daun basah.

"Lihat? Ini bukan pertarungan," kata si Janggut Tipis, mendekati. "Ini pendidikan."

Raka mencoba bangun, tapi bahunya yang terluka tidak menuruti. Matanya berkunang-kunang. Dari sudut pandangnya, dia melihat dua lainnya mendekat dengan senyuman puas.

Ini akhir, pikirnya. Akan mati di sini, di lembah sunyi, tanpa ada yang tahu.

Tapi kemudian, sesuatu bergerak dalam dirinya.

Bukan kemarahan. Bukan ketakutan. Tapi sesuatu yang lebih dalam, lebih tua. Seperti insting purba yang terbangun dari tidur panjang.

Napasnya yang tadinya tersengal-sengal, tiba-tiba melambat. Terlalu lambat. Seperti setiap tarikan menghirup seluruh udara di lembah.

Dunia di sekelilingnya menyempit. Warna memudar menjadi nuansa abu-abu. Suara menghilang—desau angin, kicau burung, bahkan suara ketiga orang itu. Yang tersisa hanya detak jantungnya sendiri. Bum. Bum. Bum.

Dan di tengah kesunyian itu, sebuah suara:

"Berdiri."

Bukan suara di telinga. Tapi di tulang-tulangnya.

Raka berdiri.

Gerakannya cair, alami, seperti air yang mengalir. Bahu yang retak tadi masih sakit, tapi sekarang rasa sakit itu jauh, seperti milik orang lain.

Si Janggut Tipis berhenti tersenyum. "Apa—"

Raka melangkah. Hanya satu langkah, tapi seketika dia sudah ada di depan pria itu. Bukan lari. Bukan teleportasi. Hanya... efisiensi mutlak. Setiap otot bekerja sempurna, tanpa energi terbuang.

Kerisnya yang sederhana terangkat.

Si Janggut Tipis mengerahkan RASA Tubuhnya lagi, kulitnya mengeras. "Percuma!"

Raka menusuk.

Tidak ada suara benturan. Tidak ada perlawanan. Bilah keris masuk seperti melalui mentega, menembus perut, keluar di punggung.

Si Janggut Tipis membelalak. Darah mengalir dari mulutnya. "Tidak... mungkin... aku Tingkat 2..."

Dia roboh.

Dua lainnya terpana. Mereka saling pandang, lalu berbalik lari. Tapi Raka sudah bergerak.

Dia tidak mengejar. Hanya membungkuk, mengambil segenggam kerikil dari tanah. Lalu melemparkannya.

Bukan melempar biasa. Kerikil-kerikil itu melesat seperti panah, mengenai betis kedua orang itu tepat di tendon.

Mereka jatuh, menjerit.

Raka berjalan mendekati mereka, langkahnya tenang seperti sedang berjalan di taman. "Siapa kalian sebenarnya?"

"S-suruhan Kongsi!" salah satunya menjawab, ketakutan. "Kami disuruh bersihkan jalur dari saksi!"

"Kongsi apa?"

"Lintas Bayangan! Mereka yang mengontrol jalur rahasia!"

Raka mengangguk pelan. Kongsi Lintas Bayangan—dia pernah dengar nama itu dari para penjaga jalur tua. Organisasi bayangan yang menggerakkan barang dan informasi di balik layar.

"Dan mayat-mayat ini?"

"Pedagang ilegal! Mereka coba jual barang tanpa bayar 'pajak' Kongsi!"

Raka melihat ke mayat pedagang, lalu kembali ke dua orang ini. "Kalian membunuh karena uang."

"Itu aturan dunia! Yang kuat—"

Raka mengangkat tangan. Orang itu langsung diam, seperti dicekik oleh udara.

"Pulang," kata Raka, suaranya datar. "Bawa mayat bos kalian. Dan sampaikan pada Kongsi: Pegunungan Bebas bukan wilayah mereka."

Dia menurunkan tangan. Tekanan itu hilang.

Kedua orang itu segera bangun, membawa mayat si Janggut Tipis dengan tergesa-gesa sebelum menghilang ke dalam hutan.

Raka berdiri sendiri di tengah lembah, melihat darah di kerisnya, lalu di tangannya. Tubuhnya mulai gemetar. Efek samping? Atau rasa takut yang tertunda?

Dia berlutut, muntah.

Apa yang barusan terjadi? Kekuatan apa yang membuat kerisnya bisa menembus pertahanan RASA Tubuh? Kenapa dunia tadi menyempit? Kenapa napasnya bisa begitu terkontrol?

RASA, bisik hatinya. Itu RASA sebenarnya. Bukan sekadar trik. Bukan sekadar latihan.

Dia baru saja membunuh seorang pengguna RASA Tingkat 2. Dan melakukannya dengan mudah.

Di kejauhan, salah satu orang yang terluka berteriak sambil lari:

"Dia bukan orang gunung biasa! Dia monster!"

Suara itu menggema di lembah, lalu hilang ditelan kabut yang mulai turun.

Raka melihat kerisnya. Bilah sederhana itu sekarang terasa berbeda—lebih berat, lebih hidup. Seperti bagian dari lengannya yang lain.

Dia memungut sarungnya, membersihkan keris, lalu memasukkan kembali. Tapi sebelum sempat berdiri, sesuatu menarik perhatiannya.

Di tanah, dekat mayat pedagang, ada selembar kertas setengah terbakar. Hampir seluruhnya hangus, tapi beberapa kata masih terbaca:

"...pengiriman berikutnya melalui Jalur Tikus... barang spesial dari luar Nusantara... harga sepuluh kali..."

Lalu ada cap stempel. Gambarnya kabur, tapi bentuknya aneh—bukan simbol Nusantara. Lebih seperti... bunga dengan duri.

Dari luar Nusantara? pikir Raka. Apa yang dimaksud?

Dia melipat sisa kertas itu, menyimpannya di dalam tas. Mungkin penjaga jalur lain tahu.

Saat dia berdiri untuk pergi, bahunya yang terluka kembali mengingatkan diri. Rasa sakitnya nyata. Pertarungan tadi nyata. Kematian itu nyata.

Dan kekuatan barunya—itu juga nyata.

Dia mulai berjalan kembali ke jalur, pikirannya penuh pertanyaan. Tapi satu hal yang dia tahu: dunia di luar Pegunungan Bebas lebih besar, lebih berbahaya, dan lebih gelap dari yang pernah dia bayangkan.

Dan entah bagaimana, dia sekarang terlibat di dalamnya.

Di tempat lain, tinggi di atas tebing yang mengawasi lembah, pria berjubah gelap itu kembali muncul. Kali ini, ada orang bersamanya—seorang wanita dengan rambut diikat rapi, memegang papan tulis kecil.

"Laporannya?" tanya wanita itu.

"Subjek menunjukkan lonjakan RASA spontan dari Tingkat 1 langsung ke puncak Tingkat 2, mungkin menyentuh 3," jawab pria berjubah. "Mengalahkan anggota Kongsi Lintas Bayangan tingkat rendah dalam hitungan detik."

Wanita itu mencatat. "Potensinya?"

"Lebih tinggi dari perkiraan. Dia mungkin bisa mencapai Tingkat 4 jika dilatih."

"Atau jika dipancing," tambah wanita itu dengan senyum tipis. "Terus pantau. Dan pastikan Kongsi tidak mengirim orang level tinggi setelahnya. Kita butuh dia hidup... untuk sekarang."

Mereka berdua menghilang, meninggalkan Raka yang tidak tahu bahwa dirinya bukan hanya diawasi.

Tapi dimanipulasi.

More Chapters