LightReader

Chapter 3 - Chapter 3: Tinta yang Mengubah Takdir

Meja kayu di depanku terasa seperti medan perang, dan mesin ketik ini adalah senjatanya. Selama tiga jam terakhir, aku hanya terpaku pada selembar kertas kosong. Maya sesekali melirik dari balik meja kerjanya, menyesap kopi hitam yang aromanya memenuhi seisi loteng.

"Jangan hanya menatapnya, Arlan. Mesin itu tidak akan menulis sendiri kalau tidak kau sentuh," sindir Maya tanpa mengalihkan pandangan dari tumpukan naskah lain.

Aku menarik napas panjang. "Aku hanya sedang berpikir... dari mana harus memulai."

Suaraku masih terasa asing. Begitu jernih. Begitu lancar. Di dunia yang kutinggalkan—dunia dengan gedung kaca dan sinyal nirkabel—setiap kali aku ingin bicara, lidahku rasanya seperti terikat batu besar. Tapi di sini, di tahun 1982 yang berdebu ini, beban itu seolah menguap.

Aku mulai menekan tuts.

Tik. Tik. Tik-tik-tik.

Aku tidak menulis tentang detektif lagi. Aku memutuskan untuk menulis sesuatu yang "baru" untuk orang-orang di era ini. Aku menulis tentang sebuah dunia di mana informasi bergerak secepat cahaya, tentang kotak kecil di saku yang bisa menghubungkan dua orang di belahan bumi berbeda, dan tentang kesepian yang muncul di tengah keramaian digital.

Aku menuliskan fragmen-fragmen masa depanku dalam bentuk fiksi ilmiah.

Maya berjalan mendekat, berdiri di belakang bahuku. Aku bisa merasakan kehangatan kehadirannya. Ia membaca baris demi baris yang baru saja kucetak di atas kertas samir itu.

"Internet? Protokol nirkabel? Arlan, istilah apa ini?" Maya mengerutkan kening, namun matanya berkilat penuh rasa ingin tahu. "Ini... ini gila. Tapi narasinya begitu nyata. Seolah kau pernah melihatnya sendiri."

"Aku hanya... punya imajinasi yang terlalu liar, Maya," jawabku pelan.

"Imajinasi liar adalah komoditas mahal di kantor redaksi ini," Maya mengambil kertas yang baru setengah jadi itu dengan antusias. "Kalau kau bisa menyelesaikan ini sebelum matahari terbenam, aku akan membawanya langsung ke meja Redaktur Utama. Ini bisa jadi berita utama di suplemen akhir pekan."

"Benarkah?"

"Tentu saja! Orang-orang bosan dengan berita politik yang kaku. Mereka butuh visi. Mereka butuh sesuatu yang membuat mereka bermimpi tentang masa depan." Maya tersenyum, dan untuk sesaat, aku merasa seolah dialah satu-satunya alasanku berada di sini.

Namun, tepat saat aku hendak melanjutkan ketikan, kepalaku berdenyut hebat.

Zuuut—

Sebuah kilatan putih melintas di sudut mataku. Selama sepersekian detik, pemandangan loteng yang hangat itu memudar. Aku tidak melihat Maya. Aku melihat sesosok wanita paruh baya dengan pakaian serba hitam, duduk di samping sebuah ranjang besi, wajahnya tertutup tangan, bahunya terguncang karena tangisan yang tertahan.

"Arlan... bangun, Nak... Ibu di sini..."

Suara itu lirih, seperti bisikan angin di tengah badai.

"Arlan? Kau pucat sekali. Apa kau sakit?" suara Maya menarikku kembali.

Aku mengerjapkan mata. Loteng itu kembali utuh. Cahaya matahari sore yang jingga masuk menembus celah jendela, menyinari debu-debu yang menari di udara. Maya menatapku dengan cemas, tangannya menyentuh keningku. Tangannya terasa nyata. Hangat. Bukan bayangan.

"Aku... aku hanya pusing sedikit," aku berbohong. Aku mencengkeram pinggiran meja kayu itu dengan erat. "Mungkin karena aku terlalu bersemangat menulis."

"Istirahatlah sebentar. Aku akan ambilkan air," Maya berbalik menuju dispenser air di sudut ruangan.

Aku menatap mesin ketik di depanku. Ada ketakutan kecil yang mulai tumbuh di sudut hatiku. Jika ini benar-benar transmigrasi, mengapa aku mendengar suara dari dunia asalku? Mengapa bayangan wanita itu—ibuku—terasa begitu menyakitkan?

Aku segera menggelengkan kepala, mengusir pikiran itu. Aku tidak ingin kembali. Di sana, aku bukan siapa-siapa. Di sini, di bawah tatapan penuh harapan dari Maya dan di hadapan mesin ketik ini, aku merasa memiliki arti.

Aku kembali menekan tuts mesin ketik. Aku akan menulis lebih banyak. Aku akan membuat namaku abadi di era ini, sehingga takdir tidak punya pilihan selain membiarkanku tinggal.

More Chapters