LightReader

Chapter 8 - Sikap Dingin Alisa

Pagi menyapa Desa Gelagah Sari dengan kabut tipis yang masih menggantung. Seperti rutinitas biasanya, Andini sudah sibuk membantu ibunya. Tangannya yang terampil menyusun berbagai macam gorengan yang masih hangat dan tumpukan sayuran ke dalam raga bambu. Raga itu kemudian diletakkan dengan hati-hati di boncengan sepeda tua milik mereka.

Andini mulai mendorong sepeda yang bebannya cukup berat itu, sementara Bu Savia berjalan perlahan di sampingnya, menjaga agar dagangan mereka tidak miring. Di sepanjang jalan, pikiran Andini masih tertahan pada pengakuan ibunya semalam. Bayangan foto ayahnya dan kenyataan bahwa ia dibuang karena kasta membuat hatinya terasa sangat berat.

Di sebuah persimpangan menuju sekolah, langkah Andini terhenti saat melihat sosok yang sangat ia kenal. Alisa berjalan dari arah berlawanan. Penampilannya tampak sangat berbeda; ia mengenakan hijab lebar dan baju syar'i yang sangat rapi. Wajahnya tampak teduh, khas seorang guru. Ya, Alisa baru saja diterima menjadi guru honorer di SD Gelagah Sari.

"Alisa..." panggil Andini pelan saat mereka berpapasan.

Alisa menoleh. Ia tersenyum, namun senyum itu tidak lagi sehangat dulu. "Eh, Ndin. Mau ke pasar ya?" tanyanya singkat.

"Iya, Lis. Wah, makin rapi saja sekarang mah semenjak jadi Ibu Guru," puji Andini mencoba mencairkan suasana.

Alisa hanya mengangguk kecil. "Alhamdulillah, Ndin. Ya sudah, aku duluan ya, takut telat masuk kelas. Mari, Bu Savia," pamit Alisa tanpa menunggu jawaban lebih lama. Ia melangkah pergi begitu saja, meninggalkan jarak yang terasa semakin lebar.

Andini menatap punggung sahabatnya itu dengan perasaan hampa. Ada rasa sesak yang tiba-tiba muncul. Ia merasa kehilangan sosok Alisa yang dulu selalu ceria dan menjadi tempat curhatnya. "Naha Alisa teh jadi kitu? Apa karena aku jadian sama Raka?" bisiknya dalam hati, merasa sangat kehilangan.

Sesampainya di pasar, Andini lebih banyak melamun. Meski tangannya sibuk melayani pembeli, matanya tampak kosong. Murungnya Andini ternyata tak luput dari perhatian Bu Savia. Ibunya tahu, pengakuan semalam pasti menjadi beban berat bagi anaknya.

"Ndin, sudah jam sembilan. Kamu pulang saja duluan atuh," ucap Bu Savia lembut sambil mengusap bahu Andini.

"Nggak apa-apa, Bu. Aku bantu sampai habis dulu," jawab Andini berat hati.

"Sudah, nggak apa-apa. Kamu kelihatannya kurang enak badan. Istirahat di rumah saja," desak Bu Savia. Akhirnya, dengan berat hati, Andini meninggalkan ibunya sendirian di lapak pasar, Andini melangkah pulang.

Di tengah jalan, sebuah motor berhenti tepat di sampingnya. Raka, dengan senyum khasnya, sudah ada di sana. "Ndin! Tumben sudah mau pulang? Yuk, ikut aku sebentar, kita jajan dulu."

Andini awalnya ragu, namun ia butuh pengalihan. Ia pun naik ke boncengan motor Raka. Mereka berhenti di warung siomay Mang Udin yang terletak di pinggir jalan raya desa. Saat mereka sedang menunggu pesanan, sebuah suara cempreng yang sangat akrab di telinga terdengar dari meja sebelah.

Ternyata di sana ada Bi Icih, si tukang gosip desa yang selalu membanggakan anaknya yang bekerja sebagai PNS di kabupaten. Bi Icih sedang asyik ngobrol dengan ibu-ibu lain, namun matanya terus melirik sinis ke arah Andini dan Raka.

"Aduh, zaman sekarang mah ya, ada saja orang yang nggak tahu diri," sindir Bi Icih dengan suara sengaja dikeraskan. "Anak orang kaya, cakep, kok mau-mauan diajak jajan di pinggir jalan sama anak tukang gorengan. Padahal mah ya, Raka teh pantasnya dapet yang sederajat, yang punya jabatan, jiga anak saya yang PNS itu atuh."

Andini yang emosinya sudah di ubun-ubun sejak semalam, merasa darahnya mendidih. Sindiran Bi Icih seolah menyiram bensin ke api yang sedang berkobar di dadanya. Ia berdiri dari bangkunya, menatap tajam ke arah Bi Icih.

"Maksud Bi Icih apa ngomong kitu?!" bentak Andini, suaranya menggelegar hingga membuat seluruh pengunjung warung menoleh.

Bi Icih tersentak, wajahnya mulai memucat. "Lho, kok kamu marah? Emang bener kan? Kamu mah nggak pantas sama Raka!"

"Dengar ya, Bi!" Andini melangkah maju, sorot matanya sangat mematikan. "Jangan pernah bawa-basa keluarga aku! Mau aku anak tukang gorengan, mau bapak aku nggak jelas, itu bukan urusan Bibi! Urus saja anak Bibi yang PNS itu, nggak usah sibuk ngatur hidup orang lain! Kalau sekali lagi mulut Bibi menghina keluarga aku, jangan harap aku tinggal diam!"

Bi Icih yang tadinya berani, kini pucat pasi melihat keberanian Andini yang meledak-ledak. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia buru-buru menyambar tasnya dan kabur pulang dengan langkah seribu.

Raka yang melihat kejadian itu hanya bisa terdiam terpaku. Ia belum pernah melihat Andini semarah itu. Setelah suasana agak tenang, Raka memegang tangan Andini yang masih gemetar karena emosi.

"Ndin, tenang atuh... jangan didengerin," ucap Raka lembut.

Andini menatap Raka dengan mata yang berkaca-kaca karena marah.

"Aku capek, Rak! Capek dibilang nggak pantas terus-terusan!"

Raka menarik napas panjang. Ia menatap Andini dengan sangat serius, seolah-olah sebuah keputusan besar telah bulat di kepalanya. "Ndin, dengerin aku. Aku nggak mau lagi kita sembunyi-sembunyi jiga gini. Aku sudah putuskan... aku mau melamar kamu secepatnya. Aku mau kasih tahu Bapak kalau kamu teh calon istri aku, apa pun risikonya."

Andini tertegun. Kalimat Raka bukannya membuatnya senang, malah membuatnya merasa badai yang lebih besar akan segera datang menghantam hidupnya.

More Chapters