LightReader

Chapter 9 - Raka kecelakaan

Malam itu, kediaman Juragan Suhendar terasa begitu mencekam. Rumah megah dengan pilar-pilar besar itu seolah kehilangan kehangatannya. Raka duduk di ruang tamu yang luas, menanti ayahnya yang baru saja selesai menghitung setoran hasil panen. Di tangannya, segelas teh hangat sudah mendingin, sama dinginnya dengan suasana hatinya saat ini.

​Begitu sang ayah duduk di kursi jati kebesarannya, Raka menarik napas panjang. Ia tahu, kata-kata yang akan ia ucapkan bisa menjadi pematik ledakan besar.

​"Pak, ada hal penting yang mau aku bicarakan teh," buka Raka, mencoba menstabilkan suaranya.

​Juragan Suhendar hanya berdeham sambil tetap fokus pada buku catatannya.

"Soal apa? Kalau soal motor baru, nanti saja bapak lagi pusing."

​"Bukan, Pak. Ini soal masa depan aku... soal Andini," ucap Raka mantap.

​Gerakan tangan Juragan Suhendar terhenti. Ia meletakkan pulpennya perlahan, lalu mendongak menatap anak tunggalnya dengan sorot mata yang menajam. "Mau bicara apa lagi kamu soal anak tukang gorengan itu?"

​"Aku mau serius, Pak. Aku mau melamar Andini secepatnya. Aku sayang sama dia, dan aku pengen dia jadi istri aku," jawab Raka tanpa ragu sedikit pun.

​Hening sejenak, sebelum akhirnya tawa sinis keluar dari mulut Juragan Suhendar. Tawa yang meremehkan, yang membuat telinga Raka terasa panas.

​"Kamu teh gila atau sudah kena pelet, Raka?!" bentak Juragan Suhendar tiba-tiba sambil menggebrak meja jati di depannya. "Melamar Andini? Kamu pikir bapak bakal setuju punya menantu yang tiap hari bau minyak goreng? Kamu teh pewaris semua kekayaan bapak, Raka! Mau ditaruh di mana muka bapak kalau punya besan macam Bu Savia?"

​"Tapi Pak, kebahagiaan aku teh bukan diukur dari harta! Andini itu perempuan baik, dia yang paling ngerti aku," bela Raka, suaranya mulai meninggi.

​"Halah! Omong kosong!" Juragan Suhendar berdiri, menatap anaknya dengan penuh amarah. "Dengerin bapak! Dia mah orang miskin, bapaknya juga nggak jelas rimbanya, entah berantah di mana! Entah anak siapa itu si Andin teh sebenarnya! Kamu mau bawa bibit yang kotor jiga gitu ke keluarga ini? Malu-maluin!"

​"Andini nggak salah apa-apa, Pak! Jangan bawa-bawa orang tuanya atuh!"

​"Cukup!" teriak Juragan Suhendar, suaranya mengguncang ruangan. "Bapak sudah putuskan. Kamu bakal bapak jodohkan sama anak sahabat bapak, juragan tanah dari desa sebelah. Dia sederajat sama kita, sekolahnya tinggi, keluarganya jelas! Bukan jiga si Andin yang asal-usulnya nggak karuan itu!"

​Raka terpaku. Rasa kecewa yang luar biasa menghujam dadanya. Ia tidak menyangka ayahnya benar-benar sudah menyiapkan rencana sejauh itu tanpa bertanya padanya. "Jadi Bapak sudah jodohin aku? Tanpa nanya mau aku apa?"

​"Bapak melakukan ini buat kebaikan kamu, Raka! Biar kamu nggak salah jalan!"

​"Salah jalan kata bapak? Yang salah jalan mah bapak yang terlalu sombong sama harta!" ucap Raka dengan nada getir.

​"Kurang ajar kamu! Berani kamu bilang bapak sombong?!" Juragan Suhendar mengangkat tangannya, hampir saja mendaratkan tamparan jika tidak segera ditahan oleh harga dirinya sendiri. "Pilih sekarang! Ikuti kemauan bapak dan jadi pewaris tunggal, atau kamu nekat sama perempuan itu dan jangan harap bisa injak rumah ini lagi!"

Raka menatap ayahnya dengan tatapan kosong. Kekecewaan itu kini telah berubah menjadi kepahitan yang nyata. Tanpa menjawab satu patah kata pun, Raka berbalik. Ia melangkah cepat meninggalkan ruang tamu, mengabaikan teriakan ayahnya yang memanggil namanya berkali-kali.

Raka menyambar kunci motornya yang tergeletak di meja depan. Ia memacu motor besarnya keluar dari halaman rumah dengan kecepatan tinggi, membelah kegelapan malam Desa Gelagah Sari. Ia butuh ketenangan, ia butuh ruang untuk bernapas dari sesak yang menghimpit dadanya.

Di bawah sorot lampu jalan yang remang-remang, Raka meluncur tanpa tujuan pasti, hanya ingin menjauh sejauh mungkin dari rumah yang kini terasa seperti penjara baginya.

Hatinya hancur, namun tekadnya untuk mempertahankan Andini justru semakin mengeras di tengah badai yang baru saja dimulai.

Deru mesin motor besar Raka memecah keheningan malam Desa Gelagah Sari. Pikirannya benar-benar kalut, bayangan wajah murka ayahnya terus berputar-putar di kepalanya. Raka memacu motornya semakin kencang saat memasuki jalan raya kabupaten yang sepi dan minim penerangan. Angin malam yang dingin menghantam tubuhnya, namun tak sedikit pun mampu mendinginkan hatinya yang sedang membara.

Di sebuah tikungan tajam yang menanjak, sebuah truk pengangkut pasir melaju lambat dari arah berlawanan. Raka yang sedang dalam kecepatan tinggi tersentak. Ia mencoba mengerem mendadak, namun ban motornya selip di atas aspal yang berpasir. Motor besar itu hilang kendali, terseret belasan meter sebelum akhirnya menghantam pembatas jalan dengan suara benturan yang mengerikan.

Tubuh Raka terlempar ke bahu jalan, tak sadarkan diri dengan luka yang cukup parah.

Warga yang mendengar suara benturan keras itu segera berhamburan keluar. Raka yang bersimbah darah segera dilarikan ke Rumah Sakit Umum Kecamatan menggunakan mobil bak terbuka milik warga yang kebetulan lewat.

More Chapters