Raka menutup jendela dengan keras.
Napasnya tidak teratur. Tangannya sedikit gemetar.
Ia yakin barusan melihat seseorang berdiri di puncak menara itu. Sosok tinggi, kurus, dan terlalu jauh untuk terlihat jelas.
Namun yang paling membuatnya merinding bukanlah sosok itu.
Melainkan suara yang ia dengar.
"Selamat datang… pewaris berikutnya."
Raka mencoba menenangkan dirinya.
"Mungkin aku hanya lelah," gumamnya pelan.
Ia duduk di tempat tidur kayu di kamar penginapan. Lampu minyak di atas meja bergoyang pelan karena angin yang masuk dari celah dinding.
Namun tiba-tiba—
Tok… tok… tok…
Ada suara ketukan dari pintu.
Raka menoleh.
"Masuk," katanya.
Tidak ada jawaban.
Ketukan itu terdengar lagi.
Tok… tok… tok…
Kali ini lebih pelan.
Raka berdiri dan berjalan menuju pintu. Saat ia membukanya, lorong penginapan kosong.
Tidak ada siapa pun.
Hanya lorong kayu panjang dengan lampu redup yang hampir padam.
"Pemilik penginapan?" panggil Raka.
Tidak ada jawaban.
Namun saat ia hendak menutup pintu, sesuatu membuatnya berhenti.
Di lantai lorong…
Ada bekas jejak kaki basah.
Seperti seseorang baru saja keluar dari air.
Jejak itu tidak menuju keluar.
Jejak itu justru mengarah ke kamarnya.
Perlahan.
Setapak demi setapak.
Seolah seseorang yang basah kuyup baru saja berdiri tepat di depan pintunya.
Raka merasakan dingin menjalar di punggungnya.
Ia menoleh kembali ke dalam kamar.
Lampu minyak masih menyala.
Tempat tidurnya masih kosong.
Namun di lantai kamar…
Ada satu jejak kaki basah yang baru muncul.
Padahal barusan tidak ada.
Raka mundur satu langkah.
Lalu dua langkah.
Tiba-tiba—
Lampu minyak padam.
Kamar menjadi gelap total.
Dan dari sudut ruangan yang gelap…
Terdengar suara napas.
Bukan napasnya.
Melainkan napas seseorang yang berdiri sangat dekat di belakangnya.
Sebuah bisikan dingin muncul di telinganya.
"Menara itu… sudah menunggumu."
