LightReader

Chapter 3 - Tanda pewaris

Raka membeku.

Suara napas di belakangnya terasa sangat dekat. Dingin, berat, seperti sesuatu yang tidak hidup.

Perlahan ia menoleh.

Gelap.

Kamar penginapan itu benar-benar gelap. Tidak ada cahaya sama sekali setelah lampu minyak padam.

Namun anehnya…

Raka masih bisa melihat jejak kaki basah di lantai.

Jejak itu berkilau samar, seperti memantulkan cahaya yang tidak ada.

Setapak… setapak… setapak…

Jejak itu bergerak.

Bukan sekadar bekas langkah.

Jejak itu sedang berjalan.

Menuju meja di sudut kamar.

Raka menelan ludah.

Tiba-tiba laci meja terbuka sendiri.

Pelan.

Kayu tua itu berderit panjang.

Dari dalam laci, sesuatu jatuh ke lantai.

Ting.

Suara logam kecil.

Raka memberanikan diri mendekat. Tangannya meraba-raba meja sampai akhirnya ia menemukan lampu minyak.

Ia menyalakannya kembali dengan tangan gemetar.

Cahaya kecil kembali memenuhi kamar.

Jejak kaki basah itu sudah hilang.

Namun di lantai, tepat di depan kakinya, ada sebuah benda.

Sebuah kunci hitam.

Bentuknya aneh.

Batangnya panjang dan berukir simbol-simbol yang tidak pernah Raka lihat sebelumnya.

Saat ia mengambil kunci itu—

Raka merasakan sesuatu menusuk telapak tangannya.

Ia terkejut dan menjatuhkan kunci itu.

Di telapak tangannya muncul sebuah tanda.

Simbol yang sama seperti ukiran pada kunci.

Tanda itu seperti terbakar di kulitnya.

Namun anehnya… tidak terasa sakit.

Justru terasa dingin.

Sangat dingin.

Tiba-tiba dari luar jendela terdengar suara teriakan.

"MENARA ITU MUNCUL LAGI!"

Raka berlari ke jendela.

Kabut di hutan mulai bergerak.

Perlahan.

Sesuatu menjulang dari tengah kabut itu.

Menara hitam itu muncul lagi.

Namun kali ini berbeda.

Di dinding menara, satu per satu jendela mulai menyala dengan cahaya merah.

Seperti mata yang baru bangun dari tidur panjang.

Dan di puncaknya…

Sosok yang sama kembali berdiri.

Angin malam membawa suara dari arah menara.

Suara yang kini terdengar jauh lebih jelas.

"Datanglah…"

"Pewaris."

Di tangan Raka, tanda hitam itu tiba-tiba bersinar redup.

Seolah menjawab panggilan dari menara.

More Chapters