LightReader

Chapter 9 - Tangga Tanpa akhir

Suara dentuman itu terus terdengar.

DUM…

DUM…

DUM…

Seperti jantung raksasa yang berdetak di puncak menara.

Raka menatap tangga spiral yang berputar naik ke kegelapan.

Semakin lama ia mendengarkan suara itu, semakin kuat tarikan di dalam kepalanya.

Seolah sesuatu di atas sana benar-benar memanggilnya.

Aldren, pewaris sebelumnya, masih menempel di dinding menara. Tubuhnya yang besar menggantung seperti laba-laba raksasa.

Matanya merah menyala.

"Pergilah," katanya pelan.

"Menara sudah menunggu."

Pria berjubah hitam berdiri di samping Raka.

"Jika kau ingin mengetahui kebenaran," katanya, "kau harus naik."

"Namun setelah melewati lantai ketiga… tidak ada yang pernah kembali."

Raka menatapnya.

"Lalu kalian?"

Pria itu tersenyum pahit.

"Kami tidak pernah sampai ke sana."

Beberapa makhluk di sekitar mereka menunduk lebih dalam.

Seolah tangga di atas adalah sesuatu yang bahkan mereka takuti.

Raka menghela napas panjang.

Kemudian ia melangkah menuju tangga.

Begitu kakinya menyentuh anak tangga pertama—

Tanda di telapak tangannya bersinar terang.

Simbol-simbol di dinding menara mulai menyala satu per satu.

Seperti lampu yang baru dinyalakan setelah lama mati.

Tangga itu hidup.

Raka mulai naik.

Satu langkah.

Dua langkah.

Sepuluh langkah.

Udara semakin dingin.

Suara dari bawah semakin jauh.

Namun suara dentuman dari atas semakin keras.

DUM…

DUM…

DUM…

Setelah beberapa menit menaiki tangga, Raka akhirnya sampai di lantai pertama.

Sebuah lorong melingkar mengelilingi menara.

Ada banyak pintu di sepanjang lorong itu.

Semua pintu terbuat dari kayu hitam tua.

Sebagian tertutup rapat.

Sebagian sedikit terbuka.

Saat Raka berjalan melewati salah satu pintu yang terbuka…

Ia mendengar sesuatu dari dalam.

Suara seseorang berbisik.

"...tolong…"

Raka berhenti.

Ia perlahan mendekati pintu itu.

Dari celah pintu, ia melihat sebuah ruangan kecil.

Di dalamnya ada seseorang duduk di sudut.

Seorang pria.

Pakaiannya sangat tua dan compang-camping.

Kulitnya pucat.

Matanya kosong seperti sudah lama tidak melihat cahaya.

Ketika pria itu melihat Raka, matanya langsung melebar.

"Kau… pewaris baru?" katanya dengan suara serak.

Raka mengangguk pelan.

Pria itu tiba-tiba berdiri dan berlari ke arah pintu.

Namun sesuatu menarik tubuhnya kembali.

Raka baru menyadarinya.

Di kaki pria itu ada rantai hitam yang menancap ke lantai batu.

Pria itu menatap Raka dengan putus asa.

"Dengarkan aku…"

"Jangan pernah naik ke puncak menara."

Raka mengernyit.

"Kenapa?"

Pria itu gemetar.

Matanya penuh ketakutan.

"Karena jantung menara…"

Ia berhenti bicara.

Lalu berbisik sangat pelan.

"…masih hidup."

Tiba-tiba suara mengerikan menggema dari tangga di belakang Raka.

Suara seperti sesuatu yang besar mulai merangkak naik.

Dan suara Aldren terdengar dari bawah.

"Jangan terlalu lama berbicara dengan para tawanan…"

"Beberapa dari mereka… sudah gila."

More Chapters