LightReader

Chapter 12 - Sesuatu yang terbangun

Getaran dari puncak menara semakin kuat.

Debu halus jatuh dari celah-celah batu di langit-langit lorong.

GRRRRMMMM…

Suara berat bergema seperti sesuatu yang sangat besar sedang bergerak.

Raka merasakan tanda hitam di telapak tangannya tiba-tiba berdenyut panas.

Aldren juga berhenti bergerak.

Kepalanya perlahan terangkat ke atas.

Matanya yang merah menyala menatap tangga menuju puncak menara.

"Ah…" gumamnya pelan.

"Sudah bangun rupanya."

Raka menelan ludah.

"Siapa yang bangun?"

Aldren tertawa pelan.

Suara tawanya bergema aneh di lorong batu.

"Kau benar-benar tidak tahu apa yang tinggal di puncak menara?"

Di dalam sel, pria yang dirantai itu tiba-tiba berteriak.

"Jangan naik ke sana!"

"Semuanya akan mati jika dia bangun!"

Aldren menoleh perlahan ke arah pria itu.

Ekspresi wajahnya langsung berubah dingin.

"Kau terlalu banyak bicara."

Seketika tubuh Aldren bergerak cepat.

CRASH!

Tangannya menghantam pintu besi sel hingga penyok.

Pria yang dirantai menjerit ketakutan.

"Tolong—!"

Aldren meraih leher pria itu melalui jeruji besi.

Tangannya yang besar mencengkeram seperti penjepit baja.

Raka langsung melangkah maju.

"Berhenti!"

Aldren menoleh sedikit.

Matanya menatap Raka dengan senyum tipis.

"Kau masih terlalu lemah untuk memberi perintah."

Kemudian terdengar suara retakan.

KRAK.

Tubuh pria itu langsung terkulai.

Sunyi menyelimuti lorong.

Raka membeku di tempatnya.

Aldren melepaskan tubuh tak bernyawa itu dengan santai.

Lalu ia kembali menatap Raka.

"Sekarang… hanya kita berdua."

Getaran dari puncak menara semakin kuat.

Tangga bergetar.

Batu-batu kecil jatuh dari dinding.

Dari atas terdengar suara sesuatu merangkak turun.

Suara kuku panjang menggesek batu.

SKRREEECH…

Raka merasakan udara di menara berubah dingin.

Aldren tersenyum lebar.

"Sepertinya penjaga puncak tidak suka dibangunkan."

Raka mengerutkan kening.

"Penjaga?"

Aldren menunjuk ke atas tangga.

"Monster yang menjaga jantung menara."

"Makhluk yang bahkan aku tidak bisa bunuh."

Suara dari atas semakin dekat.

Semakin jelas.

Seperti sesuatu yang memiliki banyak kaki.

TAP… TAP… TAP… TAP…

Terlalu banyak.

Terlalu cepat.

Raka merasakan instingnya menjerit bahaya.

Tiba-tiba…

Sebuah bayangan panjang muncul di dinding lorong.

Bayangan itu memiliki banyak lengan.

Dan kepalanya terlalu besar untuk tubuhnya.

Aldren tertawa pelan.

"Ah… akhirnya kita bertemu lagi."

Lalu ia menoleh ke arah Raka.

Matanya menyala merah lebih terang dari sebelumnya.

"Sekarang, pewaris…"

"Kita lihat apakah kau bisa bertahan hidup di lantai berikutnya."

Dan dari kegelapan tangga…

sesuatu mulai muncul.

More Chapters