Aldren bergerak lebih dulu.
Tubuh besarnya melesat ke arah tangga seperti binatang buas.
BOOM!
Setiap langkahnya membuat batu retak.
Matanya hanya tertuju pada cahaya merah di puncak menara.
Jantung menara berdetak semakin keras.
DUM!
DUM!
DUM!
Raka mengepalkan tangannya.
Jika Aldren mencapai puncak lebih dulu…
Semua yang terjadi di menara ini akan semakin buruk.
Pria berambut putih menatap Raka dengan tenang.
"Jika kau ingin menghentikannya…"
Ia menunjuk ke arah tangga.
"…sekarang waktunya."
Raka tidak ragu lagi.
Ia langsung berlari menaiki tangga.
Langkahnya bergema di lorong batu.
Tangga berputar ke atas seperti spiral tak berujung.
Di depan—
Aldren merangkak cepat di dinding menara.
Seperti laba-laba raksasa.
Sesekali ia menoleh ke belakang.
Senyum mengerikan muncul di wajahnya.
"Kau terlalu lambat!"
Ia melompat ke lantai berikutnya.
CRASH!
Batu tangga pecah di bawah berat tubuhnya.
Raka terus berlari.
Napasnya mulai berat.
Namun tanda hitam di telapak tangannya semakin panas.
Seolah-olah jantung menara menariknya ke atas.
Tiba-tiba—
Tangga di depan mereka retak.
KRAAAAK!
Sebagian tangga runtuh ke bawah menara.
Raka hampir kehilangan keseimbangan.
Debu memenuhi udara.
Namun Aldren hanya tertawa.
"Menara sudah mulai runtuh!"
Ia menoleh ke arah Raka.
"Jika jantungnya hancur sebelum kita menyentuhnya…"
"…semuanya akan mati di sini!"
Raka melompati celah tangga yang runtuh.
Ia terus berlari naik.
Semakin tinggi.
Semakin dekat dengan sumber cahaya merah.
Akhirnya mereka mencapai lantai terakhir.
Sebuah ruangan besar terbuka di depan mereka.
Di tengah ruangan itu—
sesuatu berdetak.
Jantung raksasa.
Berwarna merah gelap.
Ukuran hampir sebesar rumah kecil.
Urat-urat hitam menjalar ke seluruh dinding menara.
Setiap detak membuat ruangan bergetar.
DUM…
DUM…
Aldren langsung melangkah maju.
Matanya penuh kegilaan.
"Akhirnya!"
Ia mengangkat tangannya.
Siap menyentuh jantung menara.
Namun tiba-tiba—
Sebuah suara terdengar dari belakang mereka.
Tenang.
Namun dingin.
"Berhenti."
Pria berambut putih muncul di pintu ruangan.
Matanya yang hitam menatap mereka.
"Jika kalian menyentuhnya sekarang…"
Ia menunjuk ke arah jantung yang retak.
"…menara ini akan memakan kalian berdua."
Raka menatap jantung itu.
Ia baru menyadari sesuatu.
Permukaannya dipenuhi retakan besar.
Seperti telur yang hampir pecah.
Dan dari dalamnya…
sesuatu sedang bergerak.
Aldren perlahan tersenyum.
Namun senyum itu bukan lagi kegilaan.
Melainkan keputusasaan.
"Sudah terlambat."
Ia menatap jantung menara.
Retakan itu semakin besar.
KRAAAAK…
Cahaya merah menyembur keluar dari dalamnya.
Dan suara dari dalam jantung itu akhirnya terdengar.
Suara yang sangat dalam.
Bukan manusia.
Bukan monster.
Suara itu berbisik satu kata.
"Bebas.
