LightReader

Chapter 23 - Penjaga yang tidak pernah mati

i

DUM.

DUM.

DUM.

Langkah kaki berat itu semakin dekat dari koridor gelap menara.

Debu jatuh dari langit-langit setiap kali suara itu terdengar.

Raka menatap ke arah lorong dengan mata menyala merah.

Pria berambut putih berbisik pelan dengan wajah pucat.

"Itu… tidak mungkin."

Makhluk dari jantung menara menyipitkan matanya.

Untuk pertama kalinya sejak awal pertempuran—

ia terlihat tegang.

Aldren menggeram.

"Apa lagi sekarang…"

Dari kegelapan lorong…

sebuah bayangan besar perlahan muncul.

Sosok itu tinggi.

Lebih tinggi dari manusia biasa.

Tubuhnya tertutup zirah batu hitam yang menyatu dengan dinding menara.

Di dadanya bersinar segel merah tua yang sama seperti milik Raka.

Namun jauh lebih besar.

Setiap langkahnya membuat lantai bergetar.

Akhirnya ia keluar dari bayangan.

Wajahnya terlihat.

Namun bukan wajah manusia biasa.

Matanya kosong seperti patung kuno.

Kulitnya pucat seperti batu yang sudah terkubur ratusan tahun.

Ia berhenti beberapa meter dari Raka.

Lalu menundukkan kepala.

"Penjaga baru."

Suaranya berat seperti batu yang saling bergesekan.

Raka menatapnya dengan tegang.

"Siapa… kau?"

Sosok itu mengangkat kepalanya perlahan.

"Aku adalah penjaga pertama menara ini."

Pria berambut putih langsung mundur satu langkah.

"Itu mustahil…"

Makhluk dari jantung menara tertawa kecil.

"Ah… aku ingat."

Ia menatap sosok itu dengan senyum tipis.

"Kau yang mencoba membunuhku tiga ratus tahun lalu."

Penjaga pertama menatapnya tanpa emosi.

"Aku gagal."

Ia menoleh ke arah makhluk raksasa yang hampir keluar dari retakan.

"Dan kegagalan itu menghancurkan dunia lama."

Makhluk raksasa itu menggeram.

Puluhan matanya menyala terang.

"Penjara lama."

"Aku ingat kau."

Penjaga pertama mengangkat tangannya.

Dinding menara langsung bergetar keras.

Urat-urat hitam menara bergerak seperti tentakel raksasa.

Namun makhluk dari jantung menara tertawa.

"Kau tidak lagi punya kekuatan untuk menahanku."

Penjaga pertama menatapnya dingin.

"Benar."

Lalu ia menunjuk Raka.

"Tapi dia punya."

Semua mata langsung tertuju pada Raka.

Raka mengepalkan tangannya.

Tanda di telapak tangannya masih retak.

Namun kini cahaya merahnya semakin kuat.

Makhluk raksasa dari retakan mulai tertawa.

Suara tawanya membuat udara bergetar.

"Dua penjaga…"

"Dan satu menara yang hampir mati."

Ia menarik tubuhnya lebih jauh keluar.

Sekarang hampir seluruh badannya terlihat.

Ukurannya begitu besar hingga puncak menara terasa terlalu kecil untuknya.

Pria berambut putih berteriak.

"Jika ia keluar sepenuhnya—"

Penjaga pertama menyelesaikan kalimatnya.

"—dunia akan runtuh."

Aldren tiba-tiba tertawa keras.

"Terlalu banyak omong kosong!"

Dengan kekuatan terakhirnya ia menghancurkan batu yang menahannya.

CRASH!

Ia melompat menuju jantung menara yang retak.

"Aku akan mengambil kekuatan itu sekarang!"

Makhluk dari jantung menara menoleh malas.

"Cacing kecil."

Ia mengangkat satu tangan.

Udara di sekitar Aldren langsung terdistorsi.

BOOOM!

Tubuh Aldren terpental keras ke dinding menara.

Namun sebelum Aldren jatuh—

tangan batu raksasa menangkapnya.

Itu adalah penjaga pertama.

Ia menahan Aldren di udara seperti boneka kecil.

"Aku butuh kau hidup."

Aldren menggeram marah.

"Lepaskan aku!"

Penjaga pertama menatap Raka.

"Penjaga baru."

"Pilihanmu sekarang akan menentukan segalanya."

Makhluk dari jantung menara tersenyum.

Makhluk raksasa dari retakan menggeram.

Pria berambut putih menatap Raka dengan penuh harapan.

Raka berdiri di tengah semuanya.

Ia merasakan seluruh menara bergetar di dalam pikirannya.

Ia bisa merasakan:

Retakan.

Monster.

Energi jantung menara.

Bahkan makhluk raksasa di bawah fondasi.

Semuanya terhubung padanya.

Raka menarik napas dalam.

Lalu berkata pelan.

"Aku sudah memutuskan."

Makhluk dari jantung menara menyipitkan mata.

"Oh?"

Raka mengangkat tangannya.

Seluruh menara tiba-tiba bersinar merah terang.

Namun bukan hanya menara ini.

Jauh di kejauhan—

di seluruh dunia—

menara-menara lain mulai menyala juga.

Pria berambut putih membeku.

"Itu…"

Penjaga pertama berbisik.

"Menara segel lainnya."

Makhluk raksasa dari retakan tiba-tiba berhenti bergerak.

Puluhan matanya menatap Raka dengan tajam.

Raka tersenyum tipis.

"Jika satu menara tidak cukup untuk menahanmu…"

Ia mengepalkan tangannya.

"...maka aku akan menggunakan semua menara."

Dan untuk pertama kalinya—

makhluk raksasa itu terlihat marah.

More Chapters