LightReader

Chapter 29 - Raja para pemburu

Langit tiba-tiba menjadi gelap.

Bukan karena malam.

Tapi karena sesuatu yang sangat besar menutupi cahaya bulan.

Semua orang di puncak menara menatap ke atas.

Awan-awan bergerak perlahan… lalu terbelah.

Dari baliknya muncul bayangan raksasa.

Lebih besar dari semua menara.

Lebih besar dari monster penghancur menara.

Makhluk itu turun perlahan dari langit seperti raja yang datang ke medan perang.

Tubuhnya tinggi dan kurus seperti manusia, namun panjangnya seperti gunung.

Kulitnya hitam pekat dengan garis-garis cahaya ungu yang berdenyut.

Di kepalanya terdapat mahkota tulang yang melengkung seperti tanduk.

Dan matanya—

dua mata putih kosong yang bersinar seperti bintang mati.

Makhluk dari jantung menara langsung mundur satu langkah.

Wajahnya berubah pucat.

"Itu dia…"

Aldren menelan ludah.

"Siapa?"

Makhluk itu menjawab dengan suara pelan.

"Pemimpin para pemburu."

"Raja dari luar dunia."

Makhluk raksasa itu akhirnya menyentuh tanah.

BOOOOOOOM!

Getaran dari langkahnya terasa hingga ke seluruh menara.

Semua makhluk pemburu yang jatuh dari langit langsung berlutut.

Suara mereka bergema bersamaan.

"Salam… Raja."

Raja itu tidak melihat mereka.

Matanya hanya menatap satu hal.

Avatar energi Raka.

Suara dalam kepala semua orang tiba-tiba terdengar lagi.

Namun kali ini lebih berat.

Lebih tua.

"Jadi… kau adalah kunci dunia ini."

Avatar Raka berdiri tegak.

Energi merah dari menara berkumpul di tubuhnya seperti badai.

"Aku penjaganya."

Raja pemburu memiringkan kepalanya sedikit.

"Menarik."

Ia mengangkat satu tangan.

Udara di sekitarnya langsung retak seperti kaca.

Energi dari menara tiba-tiba bergetar.

Penjaga pertama berbisik dengan suara tegang.

"Dia… menekan jaringan menara."

Aldren menggenggam pedangnya.

"Raka bisa menahannya?"

Raja itu melangkah maju satu langkah.

Tanah di sekitarnya langsung hancur.

"Dunia ini seharusnya sudah jatuh ribuan tahun lalu."

Matanya bersinar lebih terang.

"Menara-menara ini hanya menunda takdirnya."

Avatar Raka mengangkat tangannya.

Cahaya merah menembus langit.

"Selama menara masih berdiri…"

Energi raksasa berkumpul di tubuhnya.

"...dunia ini tidak akan jatuh."

Raja pemburu tertawa.

Suara tawanya seperti gempa.

"Kalau begitu… hancurkan saja menaranya."

Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

Di langit—

ratusan lingkaran hitam muncul.

Setiap lingkaran seperti portal yang berputar.

Makhluk dari jantung menara menatap dengan wajah ngeri.

"Itu bukan portal biasa."

Aldren bertanya dengan suara serak.

"Lalu apa?"

Makhluk itu menjawab pelan.

"Senjata."

Dari setiap lingkaran hitam—

muncul tombak raksasa dari energi gelap.

Jumlahnya ribuan.

Semua mengarah ke menara-menara di dunia.

Raja pemburu tersenyum tipis.

"Mari kita lihat… berapa lama dunia ini bisa bertahan tanpa fondasinya."

Avatar Raka mengepalkan tangannya.

Seluruh menara di dunia menyala bersamaan.

Energi merah mengalir deras seperti lautan api.

Suara Raka bergema melalui jaringan menara.

"Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh satu menara pun."

Raja pemburu menatapnya dengan rasa penasaran.

"Kau yakin?"

Ia menurunkan tangannya.

Ribuan tombak hitam langsung jatuh dari langit.

Seperti hujan kiamat.

Aldren berteriak.

"RAKA!"

Namun sebelum tombak-tombak itu menyentuh menara—

cahaya merah dari seluruh dunia tiba-tiba berkumpul.

Satu.

Dua.

Puluhan.

Ratusan.

Di atas setiap menara—

muncul avatar penjaga lain.

Bentuk mereka berbeda-beda.

Ada yang seperti ksatria cahaya.

Ada yang seperti naga energi.

Ada yang seperti raksasa api.

Penjaga pertama menatap dengan mata terbelalak.

"Ini…"

Pria berambut putih berbisik kagum.

"Semua penjaga menara yang pernah ada…"

"...dipanggil kembali oleh Raka."

Avatar Raka mengangkat tangannya ke arah langit.

"Menara bukan hanya bangunan."

Ia menatap Raja Pemburu.

"Menara adalah warisan semua penjaga dunia ini."

Ratusan avatar penjaga mengangkat senjata mereka bersamaan.

Cahaya merah memenuhi langit.

"Dan selama kami berdiri bersama—"

Energi mereka ditembakkan ke langit sekaligus.

BOOOOOOOOOOOM!

Hujan tombak hitam langsung hancur di udara.

Langit kembali dipenuhi cahaya merah.

Raja pemburu akhirnya berhenti tersenyum.

Matanya menyala tajam.

"Jadi begitu."

Ia membuka kedua tangannya.

Aura gelap raksasa menyebar dari tubuhnya.

Tanah di sekitarnya mulai berubah menjadi hitam.

"Kalau begitu… aku sendiri yang akan menghancurkanmu."

Tubuhnya mulai berubah.

Semakin besar.

Semakin mengerikan.

Mahkota tulangnya tumbuh seperti cabang raksasa.

Penjaga pertama berbisik dengan suara gemetar.

"Dia… membuka bentuk aslinya."

Avatar Raka mengepalkan tombak cahaya di tangannya.

Langit kembali bergetar.

Perang terbesar antara penjaga menara dan raja dari luar dunia—

akhirnya dimulai.

Dan satu pukulan dari mereka saja…

bisa menghancurkan sebuah benua.

More Chapters