LightReader

Chapter 25 - Penghianatan jantung menara

CRAAAAAAACK!

Suara pecahan segel itu menggema seperti petir yang meledak di dalam tubuh menara.

Jantung menara yang selama ini berdenyut stabil tiba-tiba retak besar.

Cahaya merah yang keluar dari dalamnya berubah menjadi hitam pekat.

Pria berambut putih langsung berteriak.

"JANGAN!"

Namun sudah terlambat.

Makhluk dari jantung menara menarik tangannya keluar dari retakan.

Di telapak tangannya kini berdenyut inti hitam yang berputar seperti pusaran.

Ia menatap benda itu dengan mata penuh kepuasan.

"Akhirnya…"

Ia tertawa pelan.

"...aku bebas dari sangkar ini."

Penjaga pertama langsung bergerak.

Dengan satu langkah raksasa ia menghantam makhluk itu.

BOOOM!

Namun makhluk dari jantung menara hanya mengangkat satu tangan.

Energi hitam meledak dari tubuhnya.

Penjaga pertama terpental puluhan meter dan menghantam dinding menara.

Batu-batu runtuh di sekelilingnya.

Aldren menatap dengan mata melebar.

"Dia… jauh lebih kuat sekarang."

Makhluk raksasa penghancur menara juga berhenti bergerak.

Puluhan matanya menatap makhluk dari jantung menara dengan penuh kebencian.

"Pengkhianat kecil."

Makhluk dari jantung menara tersenyum.

"Ah, kau masih ingat aku."

Ia memutar inti hitam di tangannya seperti mainan.

"Aku sudah menunggu ribuan tahun untuk ini."

Raka menatapnya dengan mata merah menyala.

"Apa yang kau lakukan?"

Makhluk itu menoleh pada Raka.

Senyumnya semakin lebar.

"Yang seharusnya sudah terjadi sejak awal."

Ia menunjuk monster raksasa itu.

"Kau pikir menara-menara ini dibuat hanya untuk menahannya?"

Raka mengerutkan kening.

Makhluk itu tertawa.

"Naif sekali."

Ia mengangkat inti hitam itu tinggi-tinggi.

"Kami dulu dua makhluk."

Seluruh puncak menara tiba-tiba terasa lebih dingin.

Pria berambut putih berbisik dengan wajah pucat.

"Tidak…"

Makhluk itu melanjutkan.

"Dia adalah tubuh."

Ia menunjuk monster raksasa penghancur menara.

"Dan aku…"

Ia menepuk dadanya.

"...adalah hatinya."

Keheningan jatuh seketika.

Puluhan mata monster raksasa itu menyala marah.

"KAU MELARIKAN DIRI."

Makhluk dari jantung menara mengangkat bahu.

"Aku memilih hidup."

Ia menatap Raka.

"Dan menara ini memisahkan kami."

Ia mengangkat inti hitam itu lagi.

"Selama ribuan tahun aku dipenjara di jantung menara."

Ia tersenyum.

"Tapi sekarang…"

Cahaya hitam dari inti itu mulai menyatu dengan tubuhnya.

"...aku akan kembali menjadi utuh."

Monster raksasa itu menggeram keras.

"AKU TIDAK AKAN MENYATU DENGAN PENGKHIANAT."

Makhluk dari jantung menara tertawa.

"Kau tidak punya pilihan."

Ia menatap Raka dengan tatapan tajam.

"Karena penjaga kecil ini baru saja memberiku energi dari semua menara."

Raka menyadari sesuatu.

"Jaringan menara…"

Makhluk itu mengangguk.

"Ya."

"Kau membuka semua segel."

Ia tersenyum sangat lebar.

"Dan aku mengambil semua energinya."

Langit di atas menara berubah menjadi hitam.

Petir merah menyambar di mana-mana.

Penjaga pertama bangkit perlahan dari reruntuhan.

Tubuh batunya retak.

Namun matanya masih menyala.

"Raka…"

"Jika mereka menyatu…"

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Karena semua orang sudah tahu jawabannya.

Dunia akan berakhir.

Makhluk dari jantung menara mulai melayang ke udara.

Energi hitam mengalir ke tubuhnya dari segala arah.

Monster raksasa itu mencoba menyerangnya.

Namun pusaran energi menahannya.

Makhluk itu membuka kedua tangannya.

"Akhirnya…"

Tubuhnya mulai berubah.

Lebih besar.

Lebih gelap.

Lebih mengerikan.

Ia menatap monster raksasa itu.

"Ayo pulang."

Tiba-tiba—

Raka melangkah maju.

Cahaya merah dari tubuhnya meledak lagi.

Makhluk itu berhenti.

"Oh?"

Raka menatapnya dengan tenang.

"Kau lupa satu hal."

Makhluk itu menyipitkan mata.

"Apa itu?"

Raka mengepalkan tangannya.

Seluruh menara bergetar hebat.

"Listrik dari semua menara memang mengalir…"

Ia tersenyum tipis.

"...tapi bukan ke arahmu."

Makhluk itu langsung menyadari sesuatu.

Matanya membesar.

Energi yang mengalir dari langit tiba-tiba berubah arah.

Bukan menuju makhluk itu.

Tapi—

menuju Raka.

Seluruh tubuh Raka bersinar seperti bintang merah raksasa.

Penjaga pertama berbisik kagum.

"Dia… menjadi inti menara."

Pria berambut putih menatap dengan mata basah.

Makhluk dari jantung menara akhirnya kehilangan senyumnya.

"Ah."

"Jadi itu rencanamu."

Raka mengangkat tangannya.

Dan seluruh jaringan menara di dunia menjawab panggilannya.

"Kau benar tentang satu hal."

Ia menatap kedua monster itu.

"Aku memang kunci."

Cahaya merah memenuhi langit.

"Dan sekarang…"

Raka membuka tangannya.

"...aku akan mengunci kalian berdua."

Namun tiba-tiba—

monster raksasa itu tertawa.

Suara tawanya mengguncang dunia.

"TERLAMBAT."

Di langit hitam—

sebuah retakan raksasa tiba-tiba terbuka.

Lebih besar dari menara mana pun.

Lebih besar dari langit itu sendiri.

Dan dari dalam retakan itu—

sesuatu yang bahkan lebih besar dari kedua monster itu mulai bergerak.

Penjaga pertama berbisik dengan suara gemetar.

"Itu…"

Makhluk dari jantung menara tersenyum lagi.

"Oh…"

"Sepertinya kita semua membuat kesalahan."

Raka menatap langit yang retak.

Dan sesuatu dari luar dunia mulai melihat ke dalam.

More Chapters