LightReader

Chapter 18 - Yang keluar dari jantung

Retakan di jantung menara semakin melebar.

KRAAAAK…

Cahaya merah menyembur keluar seperti darah yang memancar.

Ruangan di puncak menara bergetar hebat.

Batu-batu di langit-langit mulai runtuh.

DUM!

DUM!

DUM!

Detakan jantung itu kini terdengar seperti dentuman perang.

Raka mundur satu langkah.

"Di dalamnya… ada sesuatu."

Aldren tidak mundur.

Matanya justru bersinar penuh kegilaan.

"Aku sudah menunggu ini terlalu lama."

Ia melangkah semakin dekat ke jantung menara.

Pria berambut putih di belakang mereka menghela napas panjang.

"Kalian benar-benar tidak mengerti."

Ia mengangkat tangannya sedikit.

Namun sebelum ia melakukan sesuatu—

BOOOM!

Jantung menara pecah.

Pecahan merah gelap beterbangan ke seluruh ruangan.

Cahaya merah menyilaukan memenuhi puncak menara.

Raka menutup matanya.

Angin panas berputar di sekeliling mereka.

Lalu—

semuanya tiba-tiba sunyi.

Ketika Raka membuka matanya kembali…

jantung raksasa itu sudah terbelah dua.

Di dalamnya…

berdiri seseorang.

Tubuhnya ramping.

Kulitnya pucat seperti batu bulan.

Rambutnya hitam panjang menjuntai hingga pinggang.

Matanya perlahan terbuka.

Merah menyala.

Makhluk itu menghirup udara perlahan.

Seolah baru saja bangun dari tidur yang sangat lama.

"Ah…"

suaranya lembut.

"…akhirnya."

Raka merasakan bulu kuduknya berdiri.

Makhluk itu menatap ruangan di sekelilingnya.

Kemudian pandangannya berhenti pada Raka.

Ia tersenyum kecil.

"Aku mencium tanda pewaris."

Aldren menggeram.

"Apa kau penjaga jantung?"

Makhluk itu menoleh ke arah Aldren.

Matanya menelusuri tubuh monster itu.

Kemudian ia tertawa pelan.

"Tentu saja tidak."

Ia melangkah keluar dari pecahan jantung.

Kakinya bahkan tidak menyentuh lantai sepenuhnya.

Seperti melayang sedikit di udara.

"Aku adalah…"

Ia membuka kedua tangannya perlahan.

"…jantung yang sebenarnya."

Ruangan itu langsung terasa dingin.

Urat-urat hitam di dinding menara mulai bergerak seperti ular.

Raka merasakan tanda di telapak tangannya terbakar.

Makhluk itu menatap tangannya.

"Oh?"

Ia tampak tertarik.

"Menara memilihmu?"

Pria berambut putih akhirnya melangkah masuk lebih jauh ke ruangan.

Ekspresinya untuk pertama kalinya terlihat serius.

"Sudah cukup."

Makhluk dari jantung itu menoleh kepadanya.

"Ah…"

Ia tersenyum lebih lebar.

"Pencipta menara."

"Aku hampir lupa wajahmu."

Raka menatap mereka berdua dengan bingung.

"Kalian saling kenal?"

Makhluk itu tertawa pelan.

"Dia yang menciptakan menara ini."

Ia menunjuk ke dirinya sendiri.

"Dan aku yang membuatnya hidup."

Aldren menggeram keras.

"Cukup bicara!"

Ia melompat ke arah makhluk itu.

BOOOOM!

Cakarnya menyapu udara dengan kekuatan besar.

Namun makhluk itu hanya mengangkat satu jari.

Gerakan Aldren langsung berhenti di udara.

Seperti waktu berhenti.

Makhluk itu mendekatkan wajahnya ke Aldren.

Matanya menyala merah terang.

"Kau hanyalah kegagalan kecil."

Ia menjentikkan jarinya.

CRACK!

Tubuh Aldren terhempas keras ke dinding menara.

Batu pecah di belakangnya.

Raka menatap dengan napas tercekat.

Makhluk itu terlalu kuat.

Kemudian makhluk itu kembali menatap Raka.

Senyumnya berubah aneh.

"Hm…"

"Menarik."

Ia melangkah perlahan mendekati Raka.

Setiap langkah membuat lantai batu berdenyut seperti daging hidup.

"Pewaris…"

bisiknya pelan.

"…kau tidak sadar siapa dirimu sebenarnya, bukan?"

Raka menegang.

"Maksudmu apa?"

Makhluk itu tersenyum lebar.

Matanya menyala lebih terang.

"Karena…"

Ia menunjuk ke dada Raka.

"…kau adalah kunci yang membuka menara ini sejak awal."

Dan saat itu—

tanda hitam di tangan Raka meledak menjadi cahaya merah.

More Chapters