LightReader

Chapter 15 - Penghuni puncak

Bayangan itu semakin jelas saat ia turun dari tangga.

Langkahnya pelan.

Tenang.

Namun setiap langkah membuat udara di dalam menara terasa semakin berat.

TOK…

TOK…

TOK…

Raka menahan napas.

Dari kegelapan tangga akhirnya muncul sosok itu.

Seorang pria.

Tubuhnya tinggi dan kurus.

Ia mengenakan jubah hitam panjang yang hampir menyentuh lantai batu.

Rambutnya putih pucat, jatuh hingga bahunya.

Kulitnya terlalu pucat.

Seperti seseorang yang sudah lama tidak melihat cahaya matahari.

Namun yang paling mengerikan adalah matanya.

Hitam pekat.

Tanpa pantulan cahaya sedikit pun.

Pria itu berhenti beberapa anak tangga di atas lorong.

Matanya perlahan menatap Raka.

Lalu… ia tersenyum tipis.

"Sudah lama sekali…"

suaranya tenang.

"…sejak menara memanggil pewaris baru."

Raka merasakan jantungnya berdetak keras.

"Siapa kau?"

Pria itu memiringkan kepalanya sedikit.

Seolah pertanyaan itu lucu baginya.

"Aku?"

Ia menatap ke seluruh lorong menara.

Kemudian tangannya menyentuh dinding batu dengan lembut.

"Aku adalah…"

suara pria itu terdengar hampir seperti bisikan.

"…orang yang pertama kali menyentuh jantung menara."

Lorong itu langsung menjadi sunyi.

Raka merasa tenggorokannya kering.

"Tidak mungkin…"

Aldren tiba-tiba berbicara dari belakang.

Suaranya rendah dan penuh kebencian.

"Kau seharusnya sudah mati."

Pria berambut putih itu menoleh pelan ke arah Aldren.

Matanya menyipit sedikit.

"Oh…"

"Aldren."

Ia tersenyum lebih lebar.

"Aku hampir tidak mengenalimu."

Pria itu menatap tubuh Aldren yang berubah menjadi monster.

"Menara benar-benar mempermainkanmu."

Aldren menggeram.

Suara geramannya menggema di lorong.

"Semua ini karena kau!"

Pria itu tertawa kecil.

"Tentu saja."

"Karena akulah yang menciptakan menara ini."

Kata-kata itu membuat Raka membeku.

"Apa…?"

Pria itu menatap Raka lagi.

Matanya yang hitam pekat seperti menelan cahaya.

"Menara ini bukan sekadar bangunan."

"Ini adalah makhluk."

Ia menunjuk ke arah dinding yang berdenyut seperti urat.

"Dan jantungnya…"

Ia menunjuk ke arah puncak tangga.

"…adalah sumber kehidupannya."

Raka merasakan tanda di tangannya semakin panas.

"Kenapa menara memilihku?"

Pria itu tersenyum.

Namun kali ini senyumnya terasa dingin.

Sangat dingin.

"Karena menara lapar."

Getaran kuat mengguncang menara lagi.

BOOOOM!

Dari atas terdengar suara retakan yang lebih besar.

Seperti sesuatu benar-benar pecah.

Pria berambut putih itu menatap ke arah puncak.

Ekspresinya berubah serius.

"Hm…"

"Sepertinya jantungnya sudah tidak sabar."

Ia kembali menatap Raka.

"Pewaris…"

suaranya sekarang lebih pelan.

"…apakah kau siap melihat bagaimana menara benar-benar hidup?"

Di belakangnya—

Tangga menuju puncak tiba-tiba retak terbuka.

Dan dari celah itu muncul cahaya merah yang sangat terang.

Seolah-olah jantung raksasa sedang berdetak tepat di atas mereka.

More Chapters