LightReader

Chapter 9 - BAB 9: PETIR SUCI VS API ABADI PHOENIX

Udara di Ruang Simulasi bergetar hebat saat sistem memproses data lingkungan baru. Dalam sekejap, ruangan putih itu berubah menjadi dek kapal raksasa yang sangat ikonik: Moby Dick. Samudra biru membentang luas di sekeliling kami, dengan awan putih yang berarak tenang.

Di tengah dek kayu yang luas itu, Akeno Himejima berdiri dengan anggun. Pakaian pendetanya berkibar tertiup angin laut, dan senyum lembut bin misterius selalu menghiasi wajah cantiknya. Namun, siapa pun yang mengenalnya tahu bahwa di balik kelembutan itu terdapat sadisme yang dingin.

"Sistem," suaraku bergema dari atas tiang kapal. "Muat Proyeksi: Marco the Phoenix. Level: Komandan Puncak Yonko."

[Memproses... Memuat Proyeksi Simulasi: Tangan Kanan Shirohige. Peringatan: Target memiliki kemampuan regenerasi absolut dari Buah Iblis Mythical Zoan.]

Sesosok pria dengan rambut pirang berbentuk nanas muncul di ujung dek. Ia mengenakan kemeja terbuka dan celana pendek, tampak santai dengan tangan di saku. Namun, saat ia membuka matanya, api biru yang indah mulai menyelimuti lengan dan bahunya.

Marco menatap Akeno, lalu menggaruk kepalanya. "Yare yare... seorang gadis pendeta di atas kapal ayah? Ini pemandangan yang langka, yoi."

Akeno menutup mulutnya dengan tangan, tertawa kecil yang terdengar sangat provokatif. "Ara ara... burung biru yang cantik. Aku ingin tahu, berapa lama api birumu bisa menahan sengatan petirku?"

Akeno tidak menunggu. Ia mengangkat tongkat pendetanya, Raiju.

[Shunpo]

Dalam sekejap, Akeno sudah melayang di udara, tepat di atas Marco. Ia mengarahkan ujung tongkatnya ke bawah.

"Jatuhlah... Raiju!"

BZZZZZZZT!

Sambar petir berwarna hitam pekat—bukan petir biasa, melainkan petir yang telah dikompresi dengan Busoshoku Haki tingkat tinggi—menghujam dek kapal. Ledakan listrik itu begitu kuat hingga menciptakan lubang besar di Moby Dick simulasi.

Namun, dari dalam kepulan asap, Marco melesat keluar. Lengan bajunya telah berubah menjadi sayap api biru yang megah. Luka bakar di bahunya menutup seketika, seolah serangan Akeno tidak pernah terjadi.

"Cukup menyakitkan, yoi," ucap Marco sambil melesat di udara dengan kecepatan tinggi. "Phoenix Brand!"

Ia menendang ke arah Akeno dengan kaki yang dilapisi api biru dan Haki. Akeno menggunakan Shunpo berantai untuk menghindar di udara, namun Marco terus mengejarnya. Di udara, Marco memiliki keunggulan mobilitas yang luar biasa.

"Kau sangat lincah, Burung Kecil," bisik Akeno. Ia menyilangkan jari-jarinya. "Bankai... Raiju: Cage of the Thunder God!"

Mendadak, langit di atas Moby Dick berubah menjadi hitam pekat. Ribuan tombak petir hitam turun dari langit, membentuk sangkar raksasa yang mengurung Marco di area tertentu. Setiap kali Marco mencoba menembus sangkar itu, petir Haki Akeno menyambar dan membakar apinya.

Akeno menyadari satu hal: Marco tidak bisa mati selama apinya masih menyala. Tapi, setiap regenerasi membutuhkan energi. Strategi Akeno sederhana: Melebihi batas regenerasi Marco dengan output energi yang menghancurkan.

"Mari kita lihat seberapa kuat daya tahanmu!" Akeno berteriak, matanya berkilat ungu.

Ia memusatkan seluruh Haki-nya ke ujung tongkatnya. Petir hitam itu mulai berputar, membentuk naga listrik raksasa yang menyelimuti seluruh tubuh Akeno.

"Thunder Dragon's Judgement!"

Akeno meluncur jatuh seperti meteor petir. Marco, menyadari bahaya yang datang, mengumpulkan seluruh api birunya ke depan, membentuk perisai Phoenix raksasa.

BOOOOOOOOOOMMMMM!!!

Benturan antara petir hitam Haki dan api biru Phoenix menciptakan ledakan yang begitu dahsyat hingga membelah lautan simulasi di sekitar kapal. Dek Moby Dick hancur berantakan. Tekanan udara yang dihasilkan membuat air laut terangkat ke langit dalam bentuk hujan raksasa.

Saat cahaya memudar, Akeno berdiri di atas reruntuhan dek dengan napas tersengal. Jubahnya sedikit terbakar di beberapa bagian, dan darah mengalir dari dahi cantiknya. Di depannya, Marco kembali ke wujud manusia, berlutut dengan satu kaki. Api birunya meredup, mencoba menutup luka bakar besar di dadanya yang terkena dampak langsung petir hitam.

Keduanya saling menatap. Marco kelelahan karena terus-menerus melakukan regenerasi paksa, sementara Akeno telah menguras hampir seluruh cadangan Haki-nya untuk serangan terakhir tadi.

Ting!

[Simulasi Dihentikan.] [Analisis Data: Karakter Akeno Himejima mampu menandingi stamina dan regenerasi Target Komandan Puncak Yonko.] [Hasil Akhir: SERI (Kualifikasi Lulus).]

Pemandangan laut menghilang, kembali ke ruang putih yang sunyi. Akeno mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan tongkatnya di bahu. "Hah... burung itu benar-benar ulet. Aku hampir saja kehabisan tenaga hanya untuk membuatnya berlutut."

Aku melompat turun dari tiang (yang sekarang sudah menjadi lantai putih), memberikan botol air padanya. "Kau luar biasa, Akeno. Menembus regenerasi Marco adalah pencapaian yang bahkan Admiral pun kesulitan melakukannya."

Aku menoleh ke arah Meiko Shiraki yang sedang meregangkan ototnya, dan Vladilena Milize yang sedang memeriksa peta digital di tangannya.

"Meiko, Lena," panggilku. "Hanya tinggal kalian berdua di barisan menengah. Meiko, kau akan menghadapi si 'Hujan' yang haus darah. Dan Lena... kau akan menunjukkan padaku bagaimana taktikmu bisa menumbangkan raksasa dari Bajak Laut Binatang Buas."

Meiko menyeringai, mengayunkan cambuk hitamnya hingga mengeluarkan suara ledakan udara. "Shiryu dari Hujan, ya? Aku akan memastikan dia belajar bagaimana cara menghormati atasannya."

Status Karakter (End of Training):

Akeno Himejima: Level Komandan Puncak Yonko (Setara Marco/Katakuri).

Skill Spesialis: AoE & Elemental Destroyer (Output energi Haki-Petir yang masif).

Haki: Busoshoku (Tingkat Tinggi), Kenbunshoku (Menengah).

More Chapters