Enam bulan kemudian, Han-eol sedang berada di bandara internasional di Jepang untuk transit. Saat dia sedang duduk di sebuah kedai ramen murah sambil tertawa menceritakan lelucon konyol pada seorang turis asal Brasil, dia melihat sosok yang familiar.
Si-woo.
Anak itu tampak kusam, mengenakan jaket yang sudah agak kekecilan, sedang bekerja paruh waktu membersihkan meja di area food court bandara. Dia sepertinya sedang mengikuti program kerja musim panas atau melarikan diri dari kemiskinan di Korea.
Mata mereka bertemu.
Si-woo mematung. Nampan di tangannya sedikit bergetar. "Ayah...?"
Han-eol terdiam sejenak. Ingatannya kembali ke masa depan yang kelam—saat Si-woo mencaci makinya hingga dia mati kesepian. Tapi kemudian, dia melihat Si-woo yang sekarang. Seorang remaja yang akhirnya merasakan kerasnya hidup.
Han-eol berdiri, tapi dia tidak berlari memeluknya. Dia hanya tersenyum tipis—senyum seorang pria yang sudah benar-benar sembuh.
"Kerja yang bagus, Si-woo," kata Han-eol pelan. "Bersihkan mejanya sampai mengkilap. Dunia tidak suka dengan orang yang setengah-setengah."
Han-eol meletakkan selembar uang tip yang cukup besar di atas meja, lalu menepuk bahu anaknya sekali. Bukan sebagai ayah yang memohon cinta, tapi sebagai seorang pria dewasa yang memberi nasihat pada pemuda asing.
"Ayah! Tunggu! Aku... aku minta maaf!" teriak Si-woo dengan suara serak.
Han-eol terus berjalan menuju gerbang keberangkatannya tanpa menoleh. Dia sudah memaafkan, tapi dia tidak ingin kembali. Rantai itu sudah putus sejak lama.
