Dua minggu kemudian.
Meskipun Auranya belum secara sepenuhnya bangkit, tapi dia tahu bahwa dia telah membuat perkembangan yang pesat, sekarang yang perlu dia lakukan hanya menunggu.
Baik Netero dan Ives positif akan kebangkitannya. Meskipun Ives baru membangkitkan Auranya beberapa minggu lalu, tapi ternyata dia sudah bisa merasakan apakah orang lain dekat atau tidak dengan kebangkitan Aura mereka.
Hari ini, seperti sebelumnya, Netero secara tiba-tiba menerima panggilan penting yang mengharuskannya untuk keluar kota. Dia berjanji akan segera kembali minggu ini.
Menerima kabar ini, mereka tahu bahwa mereka dilibuar sampai beberapa hari kedepan. Mereka akan tetap berlatih, tapi tidak akan sampai level seperti biasanya, palingan latihan kecil di pagi dan sore hari.
Setelah latihan pagi selesai, tiba-tiba Ives mengajaknya untuk bermain bola voli. Dia pikir bukan ide yang buruk. Setelah membeli bola voli di kota terdekat, mereka langsung pergi ke lereng bukit dengan area yang cukup lapang. Mereka bisa pergi ke padang rumput seperti biasanya, tapi karena bosan dan ingin menemukan tempat baru, mereka datang ke sini.
"Ambil ini!" Melompat tinggi, Biscuit men-servis bola tersebut dengan pukulan yang cukup keras.
"Ayo!" Lari ke depan, Ives berjongkok dan menerima servis tersebut dengan cukup mudah. Saat bola terpental ke atas, dia mengambil ancang-ancang lalu melompat dan melakukan spike!
"Yeah, haha!" Melihat bola itu masuk tanpa perlawanan, dia mengangkat tinjunya sambil tersenyum senang.
"Hei, curang!" Biscuit yang tidak bisa membalikkan serangan lawan, cemberut.
"Curang? Mengaku saja kalau kamu tidak bisa membalikkan seranganku."
"Lihat saja, kamu akan menyesal!" Mengambil bola, Biscuit langsung memberikan pukulan terkuatnya.
"Tunjukkan padaku!"
Suara teriakan dan tawa menghiasi lereng bukit. Karena mereka hanya dua orang, mereka dapat bermain semau dan sepuas mereka. Peraturan tidak penting, yang penting adalah apakah mereka terhibur atau tidak.
Setelah cukup lama bermain, mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak. Berdiri menghadap pohon besar, Ives bermain dengan bola volinya sambil menggumamkan sesuatu.
"Ives, apa yang sedang kamu gumamkan?" Tanya Biscuit dengan penasaran.
"Oh, aku hanya bertanya-tanya apakah aku bisa menumbangkan pohon itu dengan bola voli ini?"
"Hmm? Bukankah sudah jelas mustahil? Meskipun kamu kuat, tapi jika kamu melempar bola itu terlalu keras, bola itu hanya akan berakhir hancur saat mengenai pohon itu, kan?" Jawabnya. Jika Ives mau, dia tahu bahwa dia dapat mendorong pohon itu sampai tumbang mengingat seberapa kuat dia sekarang, tapi menumbangkan pohon itu dengan bola yang terbuat dari karet ini? Mustahil.
"Kamu benar, tapi bagaimana jadinya jika kita melapisi bola ini dengan Aura kita?" Menoleh ke arah gadis itu, dia mengangkat alisnya sambil tersenyum.
"Kamu... bisa melakukannya?" Sekarang dia penasaran.
"Tentu saja. Biarkan aku mencoba." Merilekskan tubuh dan pikirannya, dia mulai membayangkan bola itu sebagai bagian dari tubuhnya. Butuh beberapa menit, tapi Auranya akhirnya berhasil menyelimuti seluruh bola voli tersebut. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah Aura ini masih akan bertahan ketika bola ini dilemparkan?
Mengambil ancang-ancang, dia memutar pinggulnya lalu melemparkan bolanya dengan kekuatan sedang.
Bang! Dentuman tumpul terjadi.
Dengan sigap, dia berlari dan menangkap kembali bola yang terpental itu.
"Wow, ada bekas penyokan!" Biscuit mengecek titik benturan tadi dan menemukan bahwa pohon itu benar-benar penyok karena lemparan barusan, walaupun kerusakannya agak kecil.
"Hmm, benar saja, dengan melapisi bola ini, durabilitasnya meningkat."
"Benar-benar luar biasa, meskipun bola ini tidak hancur tapi seperti yang telah aku perkirakan, nampaknya mustahil untuk menumbangkannya." Kata Biscuit.
"Lemparan sebelumnya aku tidak mengerahkan seluruh tenagaku. Mari kita coba lagi." Mencengkram bola itu dengan erat, dia memutar pinggulnya dengan sudut tajam, kemudian melempar.
Boom! Kali ini suara benturan itu terdengar jauh lebih keras.
"Bola itu menembusnya!" Melihat lubang seukuran bola voli tersebut, Biscuit terkejut. "I-ini... tersendat... di dalam." Biscuit mencoba mengelurakan bola voli tersebut, tapi bola itu tidak mau bergerak. Saat dia mengerahkan lebih banyak tenaga, suara Puff! terjadi, benar, bola itu meledak di dalam.
"Ketika Auraku menghilang dari bola, bola itu tidak lagi memiliki ketahanan super."
Access 40 extra chapters here: patréon.com/mizuki77
Use code: SUMMER for 50% Discount. Valid till July 26, 2026.
