Di ruang navigasi yang biasanya penuh dengan peta laut dan kompas, kini Nami sedang menyalakan lampu meja dengan intensitas maksimal. Di depannya, selebaran "Diskon Besar Akhir Pekan Munageya" milik Saitama terbentang. Nami bahkan menggunakan kaca pembesar yang biasa ia gunakan untuk meneliti rute arus laut.
"Luar biasa..." bisik Nami, matanya bergetar. "Aris, kemari! Lihat serat kertas ini!"
Aris mendekat sambil membawa alat pemindai mikroskopisnya. "Ada apa, Nami-san? Itu hanya kertas glossy standar dari dimensi Saitama-san."
"Hanya?!" teriak Nami sambil menunjuk ke arah gambar potongan daging paha ayam. "Lihat ketajaman warnanya! Di dunia kita, untuk mendapatkan warna merah setajam ini, para pelukis harus mencari pigmen dari serangga langka di Grand Line. Tapi lihat ini... warnanya dicetak dengan titik-titik kecil yang sangat presisi! Ini bukan sekadar kertas iklan, ini adalah teknologi seni tingkat tinggi!"
Misteri "Daging Murah" di Mata Navigator
Nami mulai membaca tulisan kanji yang tertera di sana. Meskipun ia tidak sepenuhnya paham bahasa dunia Saitama, ia bisa membaca angka-angka diskonnya.
"Saitama-kun," panggil Nami dengan nada menginterogasi. "Apa maksudnya angka '70%' yang dicoret di samping gambar daging sapi ini? Apakah ini kode rahasia untuk menunjukkan lokasi harta karun?"
Saitama yang sedang berdiri di pintu sambil mengupil hanya menatap datar. "Eh? Itu bukan harta karun. Itu artinya harganya dipotong tujuh puluh persen. Jadi aku bisa beli banyak dengan uang sedikit. Itu hal yang paling penting di dunia, kau tahu."
Nami terdiam sejenak. Kalkulator di otaknya mulai berasap. "Diskon tujuh puluh persen... untuk daging kualitas setinggi ini? Tanpa perlu bertarung dengan Sea King?!
Nami tiba-tiba memegang pundak Saitama dengan sangat kencang. "Saitama! Kau sadar tidak?! Jika kita bisa membawa teknik 'Diskon' ini ke Loguetown atau Water Seven, kita bisa menguasai pasar pangan dunia! Kita bisa menciptakan inflasi buatan dan membeli seluruh pulau di East Blue!"
Saitama: "Anu... aku hanya ingin beli sayuran untuk makan malam, bukan untuk menjatuhkan ekonomi dunia."
Aris mulai melakukan scanning pada permukaan selebaran tersebut. Layar hologram di ruang navigasi menampilkan struktur molekul polimer yang melapisi kertas itu agar mengkilap.
"Nami-san, secara teknis kertas ini memiliki lapisan plastik tipis yang membuatnya tahan air," Aris menjelaskan dengan nada profesor. "Jika kita menggunakan printer milik Franky dan sedikit modifikasi pada tinta dialami, kita bisa mereplikasi ribuan 'Sertifikat Palsu' yang terlihat lebih asli daripada dokumen resmi Pemerintah Dunia."
Nami tersenyum licik, sebuah senyum yang membuat Usopp (yang baru masuk membawa minuman) langsung merinding.
"Aris... jangan hanya sertifikat," bisik Nami. "Bisakah kau meniru tekstur kertas ini untuk membuat Poster Buronan kita sendiri? Bayangkan, poster buronan yang mengkilap, tahan air, dan warnanya tidak pudar meskipun terkena badai! Kita bisa menjual 'Ruang Iklan' di pinggiran poster buronan Luffy! 'Dicari: Monkey D. Luffy - Diskon 10% untuk Cola Franky di bar terdekat!'"
Usopp: "Nami! Kau benar-benar sudah gila! Kau mau menjadikan harga buronan Kapten sebagai media promosi?!"
Genos yang sejak tadi mencatat interaksi tersebut, tiba-tiba angkat bicara. "Berdasarkan analisis saya, Nami-san memiliki keserakahan yang setara dengan monster tingkat bencana 'Demon'. Namun, efisiensi strateginya dalam memanfaatkan sumber daya sepele sangat mirip dengan metode Guru dalam menghemat pengeluaran."
Saitama: "Oi, Genos, jangan memujiku dalam konteks seperti itu."
Nami akhirnya melipat selebaran itu dengan sangat hati-hati, seolah-olah itu adalah Poneglyph terakhir. "Saitama, anggap saja hutang parkirmu lunas. Tapi sebagai gantinya, aku ingin kau memberikan testimoni. Jika suatu saat aku berhasil menciptakan sistem supermarket di Grand Line, aku ingin fotomu terpampang sebagai 'Pelanggan Teladan yang Paling Hemat'."
Saitama membayangkan wajahnya yang botak terpampang di seluruh tiang kapal dan toko di dunia One Piece. "Asalkan aku dapat voucher makan gratis, terserah kau sajalah."
Aris dan Nami menghabiskan malam itu dengan merancang sistem "Ekonomi Diskon" yang akan mereka terapkan di pulau berikutnya. Sementara Saitama berjalan keluar menuju dek, menatap bintang-bintang sambil menghela napas panjang.
"Dunia ini benar-benar aneh," gumam Saitama. "Aku memberikan mereka informasi tentang cara belanja murah, dan mereka malah berencana menjatuhkan pemerintah dengan itu."
Di kejauhan, suara tawa Luffy dan dentingan botol Cola Franky masih terdengar. Pulau Jeda tetap tenang, menyimpan rahasia tentang bagaimana sebuah selebaran supermarket bisa menjadi pemicu revolusi ekonomi di tangan seorang navigator berambut oranye.
Discount" Navigator Nami
Nami tidak bisa tidur. Di kepalanya, angka-angka menari-nari seperti balerina yang baru saja memenangkan lotre. Ia telah memanggil Aris dan Franky untuk mengadakan rapat darurat di ruang navigasi pada jam dua pagi.
"Dengarkan kalian berdua," ujar Nami sambil menunjuk sketsa kasar di papan tulis. "Dunia ini menderita karena monopoli Pemerintah Dunia terhadap jalur perdagangan. Tapi, dengan teknologi cetak dari dunia Saitama-kun, kita bisa menciptakan 'Katalog Harga Terpadu'. Kita akan menyebarkan selebaran ke seluruh pulau lewat berita burung News Coo!"
Aris mengusap dagunya yang mulus. "Nami-san, kau ingin menggunakan teknik pemasaran Saitama-san untuk menghancurkan pasar gelap broker Doflamingo yang masih tersisa?"
"Bukan hanya itu!" seru Nami dengan mata berapi-api. "Kita akan memasukkan kupon potongan harga. Bayangkan, seorang warga biasa di Alabasta bisa mendapatkan diskon air minum jika mereka menunjukkan kupon yang dicetak dengan teknik glossy milik Aris. Ini akan menciptakan loyalitas massa kepada kita, bukan kepada Pemerintah!"
Franky (Menangis terharu): "OWWWW! Itu adalah rencana yang sangat licik dan SUPER indah! Aku akan membuat mesin cetak bertenaga Cola yang bisa memproduksi sepuluh ribu selebaran per jam!"
Kapitalisme Dadakan
Keesokan paginya, Saitama dibangunkan oleh cahaya lampu kilat kamera. CEKREK!
"Apa... ada apa ini?" tanya Saitama dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya.
Di depannya, Nami sudah menyiapkan kru pemotretan. Usopp memegang reflektor cahaya, dan Sanji sedang menata kerah jubah Saitama agar terlihat "lebih heroik namun tetap hemat".
"Tahan posisi itu, Saitama!" perintah Nami. "Berikan ekspresi wajah yang bilang: 'Aku kuat karena aku belanja cerdas'. Kita butuh wajahmu untuk halaman depan katalog perdana kita!"
Saitama: "Aku tidak mau. Ini memalukan. Dan kenapa aku harus memegang brokoli kristal ini?"
Nami: "Saitama-kun... jika kau melakukannya, aku akan meminta Sanji membuatkanmu bekal khusus yang isinya daging kelas super untuk perjalanan pulangmu. Gratis. Selamanya."
Saitama terdiam. Matanya mendadak berubah menjadi serius. "Gratis? Selamanya? Oke, ayo ambil fotonya. Mau gaya apa? Gaya 'Tinjuan Maut untuk Harga Tinggi' atau 'Tendangan Diskon'?"
Untuk menguji keampuhan revolusi ekonomi ini, Nami mengadakan simulasi di dek kapal. Chopper berperan sebagai pembeli, sementara Zoro (yang dipaksa) berperan sebagai pedagang ikan yang galak.
Nami memberikan selembar "Kupon Diskon 50% Berkilau" kepada Chopper.
"Permisi, Tuan Penjual Ikan yang Seram," kata Chopper dengan malu-malu. "Aku ingin beli tuna ini, dan aku punya kupon dari Selebaran Saitama!"
Zoro: "Hah? Kupon apa? Aku tidak peduli, bayar penuh atau pergi!"
Tiba-tiba, Saitama muncul di belakang Chopper dengan aura yang mengintimidasi, persis seperti di foto selebaran. "Oi... di selebaran itu tertulis harga diskon. Kau mau melanggar kebijakan konsumen?"
Zoro berkeringat dingin. Tekanan dari Saitama membuatnya tidak punya pilihan. "O-oke! Ambil saja setengah harga! Tapi jangan pukul aku!"
Nami mencatat hasilnya dengan puas. "Lihat! Bahkan pendekar pedang paling keras kepala pun tunduk pada kekuatan psikologi diskon dan ancaman fisik sang Ikon! Ini akan berhasil!"
Aris mengamati kegilaan ini dari kejauhan. Ia mulai merasa sedikit bersalah. "Sepertinya aku baru saja membantu menciptakan monster ekonomi yang lebih berbahaya daripada Yonko."
Genos mendekati Aris. "Aris-dono, berdasarkan perhitungan saya, jika Nami-san melanjutkan rencana ini, dalam tiga bulan dia akan memiliki kekayaan yang cukup untuk membeli separuh Red Line. Namun, tingkat kebahagiaan masyarakat akan meningkat karena harga sayuran menjadi terjangkau."
Aris menghela napas. "Yah, setidaknya ini cara revolusi yang lebih damai daripada perang. Siapa yang sangka, senjata terkuat yang dibawa Saitama ke dunia ini bukanlah tinjunya, melainkan selebaran supermarket Munageya."
Tiba-tiba, suara dengungan rendah bergema dari puncak gunung kristal. Portal dimensi yang tadinya merah redup kini telah berubah menjadi Emas Putih yang cemerlang. Energi pulau telah terisi penuh.
Aris: "Semuanya! Pengisian daya selesai! Portal akan terbuka secara permanen dalam sepuluh menit!"
Nami segera menghentikan sesi pemotretannya. Ia berlari ke arah Saitama dan menyerahkan tas belanja raksasa yang sudah penuh dengan barang-barang barter dan bekal.
"Ini janjiku," kata Nami, memberikan kedipan mata. "Terima kasih atas 'inspirasi bisnis'-nya, Saitama. Kau benar-benar pahlawan bagi dompetku."
Saitama menerima tas itu, merasakan beratnya daging yang sangat nyata. "Yah... sama-sama. Aku juga belajar banyak di sini. Ternyata orang yang paling kuat di kapal ini bukan si Karet itu, tapi kau."
Luffy tertawa sambil merangkul pundak Saitama. "Shishishi! Nami memang menakutkan kalau soal uang! Tapi hei, kita bersenang-senang, kan?"
