LightReader

Chapter 207 - BAB 198: KEDAMAIAAN

​Suasana di Pulau Jeda memuncak. Aris telah menciptakan garis start dari partikel cahaya yang bergetar. Luffy, dengan topi jeraminya yang miring, melakukan pemanasan dengan meregangkan kakinya hingga melilit pohon kristal. Di sisi lain, Saitama hanya berdiri tegak, mengenakan jubah pahlawannya yang berkibar tertiup angin laut yang tenang.

​"Baiklah! Ini adalah lomba estafet lintas semesta!" teru Aris sambil mengangkat pistol udara ciptaannya. "Tim Topi Jerami melawan Tim Pahlawan Botak! Peraturannya: Tidak ada peraturan, selama kalian tidak menghancurkan pulau ini!"

​1. Leg Pertama: Duel Kecepatan Bawah Sadar

Peluit berbunyi! Sanji melesat menggunakan Blue Walk, menginjak udara seolah-olah itu adalah tangga padat. Di sampingnya, Genos melepaskan pembakar maksimal di kakinya. Keduanya menjadi dua garis cahaya satu biru api, satu perak metalik. Mereka melintasi lembah kristal dalam hitungan detik.

"Kau cepat, Cyborg!" teriak Sanji.

"Analisis: Kau memiliki kekuatan otot yang tidak logis untuk manusia biasa!" balas Genos. Keduanya mencapai titik operan secara bersamaan.

​2. Leg Kedua: Kekuatan yang Menembus Logika

Zoro menerima tongkat kayu dari Sanji dan langsung menggigit pedang ketiganya, berlari dengan kecepatan harimau. Namun, Saitama menerima tongkat dari Genos dengan santai.

Zoro menggunakan Sanjuroku Pound Ho untuk mendorong tubuhnya lebih cepat. Saitama? Dia hanya melakukan lari santai tapi setiap langkahnya menciptakan dentuman udara yang mendorongnya maju ratusan meter.

"Oi, pendekar pedang, jangan sampai jatuh!" Saitama mendahului Zoro sambil tetap menatap lurus ke depan dengan wajah datarnya. Zoro berteriak dalam amarah yang penuh semangat, memacu dirinya hingga batas tertinggi.

Garis Finish dan Ledakan Kebahagiaan

​3. Leg Terakhir: Sang Kapten dan Sang Pahlawan

Luffy menerima tongkat terakhir. "Gear 4: Snakeman!" Tubuhnya membesar dan ia memantul-mantul di antara tebing perak dengan kecepatan yang tak terlihat mata. Saitama tetap di sampingnya, berlari dengan tangan di saku jubahnya.

​Mereka mencapai puncak Gunung Cahaya secara bersamaan. Alih-alih satu pemenang, benturan energi mereka saat menyentuh garis finish menciptakan "Supernova Warna". Langit pulau yang tadi ungu berubah menjadi pelangi abadi yang sangat terang.

​"SHISHISHISHI! SERI!" Luffy tertawa terpingkal-pingkal sambil berguling di atas pasir perak.

Saitama duduk, menghapus sedikit debu di kepalanya. "Yah, lumayan juga. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat hari ini."

Dewa-Dewa Konyol

​Malam tiba, tapi Pulau Jeda tidak gelap. Pohon-pohon kristal bersinar seperti lampu lampion. Sanji mengeluarkan seluruh kemampuannya. Di tengah lapangan, terdapat meja raksasa yang terbuat dari batang pohon cahaya.

​Menu Pesta Malam Itu:

​Sea King BBQ ala Saitama: Daging monster laut yang lembut dengan saus rahasia Sanji.

​Sup Bintang Dimensi Kuah bening yang saat diminum memberikan sensasi kenangan indah.

​Ramen Instan Kelas Tinggi: Saitama memaksa Sanji memasak mie instan yang ia bawa dari dunianya, tapi Sanji menambahkannya dengan bahan-bahan laut segar.

​Luffy dan Saitama berlomba makan. Luffy memanjangkan lehernya untuk mengambil daging di ujung meja, sementara Saitama menggunakan kecepatan tangannya untuk menyambar udang sebelum Luffy sempat melihatnya.

​"Oi, Botak! Kau curang!" teriak Luffy dengan mulut penuh.

"Siapa cepat dia dapat, Luffy," balas Saitama sambil mengunyah dengan tenang.

​Di sudut lain, Zoro dan Genos duduk bersama. Zoro menuangkan sake ke gelas Genos (yang sebenarnya tidak bisa minum, tapi ia mencoba memasukkan cairan itu ke sistem pendinginnya).

"Kau punya semangat tempur yang bagus, Mesin," gumam Zoro.

"Terima kasih. Saya akan memasukkan data teknik pedangmu ke inti prosesor saya," jawab Genos kaku.

​Bab: Pesan dalam Botol Cahaya

​Saat pesta mulai melambat, Aris mengajak semua orang berkumpul di pinggir tebing yang menghadap laut perak. Ia membagikan gelas-gelas kecil berisi sari buah cahaya.

​"Sebelum portal terbuka," Aris berkata dengan nada emosional. "Aku ingin kita semua meninggalkan sesuatu di pulau ini. Sebuah pesan untuk masa depan."

​Usopp dan Chopper membuat tanda tangan besar di sebuah batu kristal. Nami menggambar peta jalur dimensi yang mereka lalui. Robin menuliskan sejarah singkat pertemuan ini dalam bahasa kuno.

​Luffy kemudian berdiri, menatap Saitama. "Botak, suatu hari nanti, jika aku sudah jadi Raja Bajak Laut, aku akan mencari cara untuk pergi ke duniamu. Aku ingin melihat supermarket yang kau banggakan itu!"

​Saitama tersenyum lebar bukan senyum datar biasanya. "Boleh saja. Tapi pastikan kau datang pada hari Sabtu, karena itu hari diskon daging sapi."

​Portal di belakang mereka mulai berdenyut, memancarkan cahaya putih yang menarik Saitama dan Genos masuk.

​"Terima kasih untuk semuanya, Teman-teman!" teriak Saitama saat tubuhnya mulai memudar masuk ke portal.

"SAMPAI JUMPAAAAAA!" teriak seluruh kru Topi Jerami serentak,

Siap, Kai. Mari kita pertebal lagi narasinya. Kita masuk ke area teknis yang konyol di mana dua insinyur beda dimensi ini beradu argumen. Ini akan memberikan tambahan ribuan karakter untuk novelmu.

'Perang Ideologi Mesin - Cola vs Inti Nuklir

​Sore itu di bengkel darurat di pesisir Pulau Jeda, Franky sedang memoles lengan besarnya dengan oli kelapa lokal, sementara Genos duduk diam sambil melakukan diagnosa sistem internalnya yang terus-menerus mengeluarkan uap panas.

​Franky menatap ke arah Genos dengan tatapan penuh selidik. "Oi, bocah mesin! Aku sudah memperhatikanmu sejak kita sampai di sini. Kau punya teknologi yang sangat halus, tapi aku tidak mencium aroma bahan bakar yang SUPER dari tubuhmu. Apa yang membuatmu bergerak?"

​Genos menoleh, matanya yang mekanis berkedip kuning. "Saya digerakkan oleh Inti Energi Nuklir Berdensitas Tinggi yang dikembangkan oleh Dokter Kuseno. Ini adalah energi murni yang sanggup menghancurkan satu kota kecil dalam satu kali tembakan insinerasi. Bahan bakar organik sangat tidak efisien bagi sistem saya."

​Franky tertawa terpingkal-pingkal hingga baut di pundaknya sedikit longgar. "Nuklir?! OWWWW! Itu sangat membosankan! Kau hanya mesin tanpa jiwa jika hanya mengandalkan radiasi!"

​Franky kemudian membuka perutnya (sebuah kulkas kecil) dan mengeluarkan tiga botol Cola dingin. Ia memasukkannya ke dalam mesin di dadanya. Glek... glek... glek...

​"Dengarkan aku, Cyborg! Cola adalah bahan bakar para juara! Karbonasi di dalamnya menciptakan ledakan tekanan yang tidak hanya memberiku tenaga, tapi juga memberiku gaya hidup! Kau bisa melakukan tembakan nuklir, tapi bisakah kau menembakkan Strong Right sambil merasakan sensasi segar di tenggorokanmu?"

​Genos terdiam sejenak, memproses logika Franky yang sama sekali tidak masuk akal dalam buku fisika mana pun. "Secara termodinamika, penggunaan gula dan karbonasi sebagai sumber energi untuk perangkat keras tempur adalah kegagalan sistem yang fatal. Bagaimana kau bisa menstabilkan tekanan output saat bertarung?"

​"Itulah seninya!" teriak Franky sambil berpose bintang. "Jika aku terlalu bersemangat, rambutku akan berubah jadi aneh! Itu adalah indikator energi yang lebih akurat daripada layar hologrammu yang membosankan!"

​Aris yang sedang memantau pengisian daya portal tiba-tiba mendekat. Ia melihat peluang untuk eksperimen gila. "Bagaimana kalau kita mencoba menyilangkan teknologi kalian? Sedikit energi nuklir Genos-san yang distabilkan oleh molekul Cola milik Franky-san?"

​Genos dan Franky saling pandang.

"Untuk kemajuan sains," ujar Genos kaku.

"Untuk sesuatu yang SUPER," balas Franky.

​Aris mengambil sebuah tabung reaksi. Ia meminta sedikit uap energi dari telapak tangan Genos dan mencampurnya dengan satu kaleng Cola milik Franky. Campuran itu mulai bergejolak, berubah warna dari cokelat menjadi ungu neon yang bersinar terang, dan mulai melayang di udara.

​Usopp yang melihat dari jauh mulai mundur pelan-pelan. "Aku punya firasat buruk tentang ini... Chopper, lari!"

​Tiba-tiba, campuran itu meledak kecil, mengeluarkan gas aroma karamel yang sangat kuat hingga seluruh pantai tercium seperti pabrik permen. Namun, dampaknya lebih aneh: Energi itu terserap ke dalam pasir perak pulau.

​Tiba-tiba, pasir di bawah kaki mereka mulai bergerak dan membentuk patung-patung pasir raksasa yang bisa menari dan menyanyikan lagu-lagu bajak laut dengan suara robot.

​Saitama yang sedang mencoba tidur di bawah pohon terbangun karena kaget. "Oi... kenapa pasirnya berisik sekali? Dan kenapa mereka menyanyi tentang diskon minuman ringan?"

​Aris: "Luar biasa! Penggabungan energi kalian menciptakan 'Materi Hidup Spontan'! Genos-san, kau baru saja memberikan 'jiwa' pada pasir ini lewat bantuan Cola Franky!"

​Genos (Mencatat dengan bingung): "Catatan: Bahan bakar minuman berkarbonasi memiliki efek samping magis yang tidak dapat dijelaskan oleh Dokter Kuseno. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai hubungan antara rasa haus dan daya hancur."

​ Dendam Usopp

​Karena terganggu oleh pasir yang bernyanyi, Usopp akhirnya menantang Saitama untuk kompetisi memancing yang "benar".

​"Kali ini, tidak ada pukulan! Tidak ada Haki! Hanya tongkat kayu, benang, dan kesabaran!" Usopp menyerahkan sebuah dahan pohon kristal kepada Saitama.

​Saitama menghela napas. "Baiklah. Kalau ini membuatmu diam."

​Mereka duduk di dermaga alami selama tiga jam. Usopp menggunakan segala tekniknya, mengganti umpan setiap sepuluh menit, berbicara pada ikan, hingga melakukan tarian pemanggil ikan. Hasilnya: nol.

​Sementara itu, Saitama tertidur sambil memegang tongkatnya. Seekor Sea King berukuran sedang (yang sepertinya penasaran dengan kepala mengkilap Saitama) menggigit kail Saitama. Karena Saitama sedang tidur, tangannya tidak sengaja bergerak karena gatal, dan secara refleks ia menarik tongkatnya.

​SREEEET!

​Ikan itu terbang melintasi langit, melewati puncak gunung, dan mendarat tepat di dapur Sanji.

​Saitama terbangun. "Eh? Ada yang menggigit?"

​Usopp mematahkan alat pancingnya menjadi dua. "AKU MENYERAH! DUNIA INI SUDAH TIDAK ADIL! DIA BAHKAN MENANG SAAT TIDUR!"

​Luffy tertawa terpingkal-pingkal di atas dek Sunny Go. "Shishishi! Saitama memang yang terbaik dalam hal tidak sengaja!"

​ Galaksi

​Sore itu, saat sinar matahari Pulau Jeda mulai meredup dan berubah menjadi warna emas yang tenang, Nami terlihat sedang duduk di meja kerja kecilnya di atas dek Sunny Go. Di depannya terdapat setumpuk kertas perkamen, sebuah sempoa, dan pena bulu. Matanya berkilat dengan simbol "Beli" (mata uang One Piece) yang sangat tajam.

​"Mari kita lihat..." gumam Nami sambil menghitung dengan cepat. "Biaya coating energi, biaya konsumsi daging Sea King, biaya sewa ruang udara untuk portal, dan... biaya kompensasi stres akibat kerusakan logika yang dialami Usopp."

​Saitama yang sedang asyik memandangi cakrawala sambil memikirkan apakah ia meninggalkan kompor menyala di apartemennya, tiba-tiba merasakan aura dingin di belakang punggungnya. Ia menoleh dan menemukan Nami sudah berdiri di sana dengan selembar kertas panjang yang menjuntai hingga ke lantai.

​"Saitama-kun," ucap Nami dengan suara yang sangat manis namun penuh ancaman. "Sebagai navigator handal, aku bertanggung jawab atas manajemen logistik kapal ini. Dan karena kau dan muridmu telah menghabiskan waktu lebih lama dari yang dijadwalkan... ada sedikit 'administrasi' yang perlu kita selesaikan."

​Saitama mengambil kertas itu. Matanya membelalak melihat deretan angka nol yang berbaris rapi. "Satu... sepuluh... sejuta... SATU MILIAR BERRY?!"

​"Itu harga diskon untuk teman, lho," tambah Nami sambil tersenyum lebar.

Teknik "Lupa Ingatan" Kelas S

​Saitama terdiam. Keringat dingin mulai mengucur di dahinya yang licin. Di dunianya, ia sering kesulitan membayar sewa apartemen, apalagi membayar tagihan sebesar itu di dimensi lain.

​"Eh... anu... Nami-san," Saitama mencoba bicara dengan nada datar andalannya. "Tiba-tiba kepalaku terasa agak aneh. Siapa aku? Di mana ini? Aku... sepertinya aku mengalami amnesia mendadak akibat tekanan atmosfer pulau ini."

​Genos yang berada di sampingnya langsung bereaksi dengan mode serius. "Guru! Apakah ada kerusakan pada lobus temporal Anda?! Biarkan saya melakukan pemindaian otak segera! Jika Guru kehilangan ingatan, ini adalah bencana tingkat dewa!"

​Saitama: (Berbisik pada Genos) "Bodoh, jangan discan! Aku sedang pura-pura agar tidak perlu membayar!"

​Nami menyilangkan tangannya di dada, sama sekali tidak tertipu. "Amnesia, ya? Sayang sekali. Padahal aku baru saja mau menawarkan paket cicilan tanpa bunga. Tapi karena kau amnesia, mungkin aku harus menahan jubah pahlawanmu ini sebagai jaminan?"

​Saitama langsung tegak berdiri. "Oh! Tunggu! Sepertinya ingatanku kembali sedikit! Tapi... ah, saku celanaku! Kosong! Genos, apa kau bawa uang dunia ini?"

​Genos: "Uang Berry tidak ada dalam inventaris saya, Guru. Namun, saya memiliki beberapa koin emas dari reruntuhan markas monster tempo hari. Apakah itu bisa digunakan?"

​Nami melihat koin emas yang dikeluarkan Genos. Matanya langsung berubah menjadi simbol koin yang berputar. Namun, sebelum ia sempat menyambarnya, Aris datang menengahi.

​"Nami-san, ingat, Saitama-san telah membantu kita menstabilkan portal. Dan tanpa dia, Pulau Jeda ini mungkin sudah menghisap kita semua," ujar Aris sambil menatap tabletnya. "Bagaimana kalau kita barter saja?"

​Nami: "Barter? Dengan apa? Aku butuh modal untuk dana darurat kru!"

​Aris: "Saitama-san, kau punya selebaran diskon dari duniamu, kan? Selebaran yang berisi teknologi cetak warna tinggi dan bahan kertas yang tidak ada di sini? Aku bisa mempelajarinya, dan Nami-san bisa menjadikannya sebagai 'Barang Antik Langka' dari dimensi lain."

​Saitama merogoh sakunya dan mengeluarkan tumpukan selebaran supermarket yang sudah agak lecek. "Hanya ini yang kupunya. Ini selebaran diskon wagyu edisi terbatas bulan depan."

​Nami mengambil selebaran itu dengan ragu. Ia melihat kualitas cetakannya, warnanya yang tajam, dan gambar daging yang terlihat sangat nyata. "Hmm... kertas ini... bahannya sangat halus dan kuat. Di pasar gelap Mariejois, benda 'asing' seperti ini bisa laku jutaan Berry sebagai artefak dimensi."

​Saitama: "Jadi... kita lunas?"

​Nami: (Sambil memandangi selebaran itu dengan penuh rencana bisnis) "Baiklah, kali ini kulepaskan. Tapi jika kau datang lagi lewat portal Aris, pastikan kau membawa lebih banyak 'sampah kertas' seperti ini!"

​Saitama menghela napas lega yang sangat panjang. "Hampir saja. Menghadapi wanita ini lebih menakutkan daripada menghadapi Boros."

​Setelah drama tagihan berakhir, mereka semua kembali berkumpul di sekitar api unggun. Luffy sedang asyik membakar marshmallows yang dibawa Saitama.

​"Oi, Saitama," panggil Luffy sambil mulutnya penuh. "Nanti kalau kau sudah sampai di rumah, apa yang pertama kali akan kau lakukan?"

​Saitama menatap langit yang kini dipenuhi oleh aura portal yang hampir penuh dayanya. "Entahlah. Mungkin memeriksa apakah ada jamur di langit-langit apartemenku. Atau mungkin... langsung tidur di kasurku yang tipis. Di sini menyenangkan, tapi kasur di rumah tetap yang terbaik."

​Aris tersenyum mendengar itu. "Itulah indahnya petualangan. Kita pergi jauh hanya untuk menyadari betapa berharganya tempat kita pulang."

​Genos (Mencatat): "Catatan: Guru merindukan kelembaban apartemennya meskipun berada di surga dimensi. Kesimpulan: Kekuatan sejati berasal dari kenyamanan lingkungan yang kumuh."

​Franky: "OWWWW! Percakapan ini sangat SUPER emosional! Ayo kita nyanyikan satu lagu terakhir!"

​Malam itu ditutup dengan nyanyian Brook yang mengalun lembut, diiringi suara ombak laut perak. Saitama menutup matanya, menikmati kedamaian terakhir sebelum kembali ke dunianya yang penuh dengan raksasa dan monster tapi kali ini, ia membawanya dengan hati yang sedikit lebih ringan.

More Chapters