Siang itu di dek observasi Thousand Sunny, suara logam berat yang saling beradu terdengar berirama. Zoro sedang berada dalam rutinitas latihan ekstremnya. Ia berkeringat deras, otot-otot lengannya menonjol saat ia mengangkat barbel raksasa seberat 50 ton dengan satu tangan.
Saitama berjalan mendekat sambil mengorek telinganya, tampak bosan setelah bangun dari tidur siang di dek.
"Oi, pendekar pedang," panggil Saitama. "Kau terlihat sedang kesulitan dengan benda itu. Mau kubantu?"
Zoro (Sambil mengatur napas berat): "Jangan... campuri... urusanku, Botak! Aku sedang mencoba melampaui batas kekuatanku! Ini 50 ton, dan aku akan menambahnya menjadi 100 ton!"
Saitama: "100 ton ya? Hmm, kelihatannya tidak terlalu berat. Sini, biar kuangkatkan piringannya supaya kau bisa memasang bautnya lebih mudah."
Tanpa menunggu jawaban, Saitama mendekati barbel raksasa itu. Dengan hanya menggunakan ibu jari dan jari telunjuknya, ia menjepit ujung besi 50 ton tersebut dan mengangkatnya seolah-olah itu hanyalah selembar tisu.
Zoro hampir tersedak ludahnya sendiri. Beban yang membuatnya harus mengerahkan seluruh kekuatan Haki dan ototnya, kini melayang ringan di tangan Saitama yang bahkan tidak berhenti menguap.
Bantuan yang Jelas Menyakitkan Hati Bagi Siapa Saja Yang Melihat.
Saitama: "Nah, sudah kuangkat. Cepat pasang piringan yang 100 ton itu. Eh, kenapa kau diam saja?"
Zoro: (Wajahnya memerah, antara malu dan marah) "Kau... kau mengangkatnya dengan dua jari?! Taruh benda itu sekarang! Kau merusak 'ritme' latihanku!"
Saitama: "Oalah, maaf. Kupikir kau butuh bantuan karena wajahmu tadi terlihat seperti sedang sembelit."
Saitama meletakkan beban itu kembali ke lantai kayu Sunny Go. BOOM! Dek kapal sedikit bergetar, tapi Saitama meletakkannya dengan posisi yang sangat presisi agar tidak merusak kapal buatan Franky.
Zoro kemudian memasang beban tambahan hingga totalnya mencapai 100 ton. Ia menggertakkan giginya, bersiap melakukan bench press. Namun, saat ia mencoba mengangkatnya, beban itu terasa sangat berat hingga urat di dahinya muncul.
Saitama (Berdiri di sampingnya, mencoba membantu): "Ah, sepertinya ini terlalu berat untukmu. Biar kubantu pegangi dari bawah ya, supaya tidak menindih dadamu."
Saitama menahan beban 100 ton itu dari bawah hanya dengan satu telapak tangan. Yang membuat Zoro frustrasi adalah Saitama melakukannya sambil menoleh ke arah dapur Sanji.
Saitama: "Oi, Sanji! Kapan makan siangnya siap? Aku mulai lapar!"
Zoro: "LEPASKAN TANGANMU, BOTAK! Aku tidak merasakannya! Kalau kau menahannya, aku merasa seperti sedang mengangkat bantal bulu! Aku tidak bisa berlatih kalau tidak ada bebannya!"
Saitama: "Tapi kalau kulepaskan, kau bisa gepeng. Wajahmu tadi sudah berubah warna jadi ungu."
Zoro: "BIARKAN SAJA AKU GEPENG! Itu namanya latihan!"
Aris (Muncul dari balik pintu laboratorium sambil membawa alat pemindai): "Tuan Zoro, saran saya, jangan biarkan Saitama-san membantumu. Secara teknis, gravitasi di sekitar Saitama-san menjadi tidak stabil karena kekuatannya. Baginya, 100 ton itu tidak memiliki berat massa. Bagi Anda, itu adalah latihan hidup dan mati; bagi dia, itu hanya 'memindahkan bantal'."
Genos (Muncul tiba-tiba di belakang Aris, mencatat): "Catatan: Guru Saitama mencoba mengajarkan kerendahan hati kepada pendekar pedang ini dengan menunjukkan bahwa gunung yang ia daki hanyalah butiran debu di telapak tangan Guru. Kesimpulan Pendekar pedang ini masih butuh latihan 100 tahun lagi."
Zoro Menyerah (Untuk Sementara)
Zoro akhirnya menjatuhkan barbelnya dan duduk bersandar di tiang kapal, wajahnya tampak sangat lelah secara mental.
Zoro: "Sialan... Aku sudah berlatih di bawah air terjun, di pegunungan salju, dan di kastil Mihawk... tapi baru kali ini aku merasa latihan fisik ku tidak ada artinya."
Saitama: "Jangan begitu. Kau hebat kok, kau bisa mengangkat benda seberat itu sambil bicara. Aku saja dulu kalau latihan push-up selalu diam karena takut gigiku copot."
Luffy (Berteriak dari jauh): "ZOROOO! SAITAMAAAA! MAKAN SIANG SIAP! ADA DAGING IKAN PINGSAN TADI PAGI!"
Saitama: "Asyik! Ayo makan, Zoro. Jangan dipikirkan, nanti rambutmu jadi rontok dan kau jadi botak sepertiku kalau terlalu banyak berpikir."
Zoro hanya bisa mendengus, menyimpan pedangnya, dan berjalan menuju dapur dengan bahu yang lunglai. "Aku tidak akan pernah membiarkan pria itu mendekati ruang latihanku lagi... tidak akan pernah."
Suasana di Sunny Go benar-benar menjadi ujian kesabaran bagi kru yang memiliki ambisi tinggi. Kehadiran Saitama adalah pengingat bahwa di atas langit, masih ada "Si Botak".
Siang itu, setelah insiden latihan beban yang menghancurkan mental Zoro, Aris mengumpulkan semua kru di ruang santai.
Ia merasa perlu memberikan penjelasan logis agar kru Topi Jerami tidak terus-menerus mengalami krisis eksistensi akibat kekuatan Saitama.
Aris telah menyiapkan proyektor hologram yang menampilkan grafik energi, peta atom, dan simulasi dimensi.
"Semuanya, perhatikan," ujar Aris dengan nada serius sambil mengetuk layar tabletnya. "Aku telah menganalisis data saat Saitama-san memancing dan membantu Zoro tadi. Secara ilmiah, kekuatan Saitama-san tidak berasal dari otot atau Haki."
Luffy (Sambil mengupil): "Hah? Jadi dia pakai sihir?"
Aris: "Bukan. Setiap makhluk hidup di alam semesta ini memiliki apa yang kusebut sebagai 'Limiter' atau Pembatas Pertumbuhan. Itu adalah kode genetik yang mencegah kita menghancurkan diri kita sendiri karena kekuatan yang terlalu besar. Namun..."
Aris menggeser hologram ke arah Saitama yang sedang duduk di pojok ruangan.
"Saitama-san telah menghapus pembatas itu. Saat dia memukul, dia tidak menggunakan energi kinetik biasa. Dia melakukan 'Vibrasi Kausalitas'. Artinya, sebelum tangannya menyentuh target, realitas sudah memutuskan bahwa target itu harus hancur. Itulah sebabnya tidak ada pertahanan yang bisa menahannya."
Zoro (Menyimak dengan dahi berkerut): "Jadi maksudmu, dia memanipulasi takdir?"
Aris: "Lebih tepatnya, dia melampaui hukum sebab-akibat. Dalam dunianya, 'Satu Pukulan' adalah hukum tetap fisika, seperti gravitasi. Tapi yang menarik adalah,.."
Aris menoleh ke arah Saitama untuk meminta konfirmasi. Namun, pemandangan yang ia temukan adalah Saitama tertidur pulas dengan mulut terbuka, gelembung ingus kembang-kempis di hidungnya, dan suara dengkur yang sangat pelan tapi konstan.
Usopp: "Dia tidur?! Di tengah penjelasan yang menentukan masa depan dunia?!"
Genos (Mencatat dengan tenang): "Dengkuran Guru adalah bentuk meditasi tingkat tinggi untuk mengistirahatkan sel-sel tak terbatasnya. Harap jangan mengganggu."
Tiba-tiba, tablet milik Aris bergetar hebat. Layar hologram yang tadinya menunjukkan grafik otot Saitama berubah menjadi pola gelombang statis berwarna ungu tua yang mengerikan.
Aris: "Tunggu... ini bukan dari sistemku. Ada intervensi sinyal eksternal!"
Sebuah suara statis yang berat muncul dari speaker kapal, terdengar seperti suara yang berasal dari dalam sumur yang sangat dalam.
"...Telah terdeteksi... penghapusan pembatas... di dimensi yang salah..."
Nami: "Suara siapa itu?! Aris, apa portalnya masih terbuka?!"
Aris (Jemari bergetar di atas tombol): "Portal ke dunia Saitama tertutup rapat! Tapi sinyal ini datang dari bawah laut kita sendiri... tepat di lokasi tempat Saitama memukul air tadi pagi!"
Layar menampilkan koordinat di kedalaman 10.000 meter di bawah kapal Sunny Go. Di sana, di sebuah palung yang seharusnya kosong, muncul sebuah Objek Silinder Raksasa yang mulai bercahaya.
Dampak dari "Pukulan Memancing"
Aris: "Gawat! Pukulan 'Normal Tap' Saitama tadi pagi... getarannya menembus lapisan kerak bumi yang paling tipis di area ini. Sepertinya pukulan itu tidak sengaja membangunkan sesuatu yang terkubur sejak Abad Kekosongan!"
Robin (Wajahnya memucat) "Aris, lihat pola ukiran di objek itu pada layar... itu bukan ukiran manusia. Itu adalah tanda peringatan dari peradaban yang bahkan mendahului Joy Boy."
Luffy (Matanya berbinar): "Oooo! Jadi ada monster kuat yang bangun karena si Botak?!"
Saitama (Tiba-tiba terbangun karena suara alarm, mengusap matanya) "Hoammm... Ada apa? Apa diskonnya sudah mulai?"
Aris: "Saitama-san! Pukulanmu tadi pagi membangunkan sebuah artefak kuno di dasar laut yang sekarang sedang memancarkan sinyal 'Panggilan Induk' ke langit!"
Saitama menatap layar yang menunjukkan monster atau mesin raksasa yang mulai bergerak naik ke permukaan. Ia hanya menggaruk kepalanya yang mengkilap.
Saitama: "Oh... jadi itu sebabnya airnya tadi terasa agak keras. Jadi, apa kita harus memukulnya lagi supaya dia tidur?"
Genos: "Guru, biarkan saya yang menangani anomali ini. Ini adalah kesempatan untuk menguji upgrade senjata saya."
Namun, misteri sebenarnya baru dimulai: Objek itu tidak menyerang. Ia justru memproyeksikan sebuah pesan ke langit yang bisa dilihat oleh seluruh dunia One Piece: "LOGIKA DUNIA TELAH RUSAK. MEMULAI PROSES RESET."
Pukulan konyol Saitama saat memancing ternyata memicu protokol pembersihan dunia yang sudah tertidur selama ribuan tahun.
Keputusan untuk menyelam diambil seketika. Namun, ini bukan penyelaman biasa. Aris menyadari bahwa objek di bawah sana tidak hanya memancarkan energi, tapi juga merubah hukum ruang di sekitarnya.
"Franky! Pasang 'Coating Energi'! Kita tidak bisa pakai gelembung sabun biasa," teriak Aris. "Tekanan di bawah sana sudah tidak masuk akal. Objek itu menciptakan gravitasi buatan yang bisa meremukkan baja dalam sekejap!"
Penyelaman ke "Palung Neon"
Sunny Go meluncur turun. Namun, alih-alih kegelapan laut yang biru tua, semakin dalam mereka turun, laut justru berubah menjadi warna yang belum pernah dilihat oleh mata manusia Ultra-Violet Neon.
Ikan-ikan di sekitar mereka mulai bermutasi secara visual; sirip mereka memancarkan cahaya laser, dan air di sekitar kapal mulai terasa kental seperti merkuri cair.
Luffy: "Uoooo! Airnya jadi seperti jus anggur yang bersinar!"
Aris: "Ini bukan air lagi, Kapten! Ini adalah 'Plasma Kuno'. Objek itu mengubah molekul laut menjadi energi cair!"
Misteri di Kota yang Berputar
Saat mencapai kedalaman 10.000 meter, kru Topi Jerami terdiam. Di depan mereka bukan sebuah monster, melainkan sebuah Kota Silinder Raksasa yang melayang secara vertikal, berputar dengan kecepatan tinggi. Kota itu terbuat dari material putih bersih seperti porselen yang tidak tergores oleh waktu.
Robin: "Ini... bukan dari Abad Kekosongan. Ini lebih tua. Ini adalah peradaban 'Pre-Era', saat dunia ini belum memiliki lautan."
Tiba-tiba, Sunny Go tersedot masuk ke dalam silinder tersebut. Begitu melewati gerbang cahaya, gravitasi mendadak berbalik. Kapal mereka tidak lagi berada di air, melainkan melayang di dalam ruang hampa udara yang dipenuhi oleh ribuan Hologram Kenangan Dunia.
Warna Baru: "The Memory Core"
Di pusat silinder tersebut, berdiri seorang penjaga tunggal. Namun, bentuknya sangat unik ia adalah makhluk yang tubuhnya terbuat dari Cahaya Pelangi Statis. Ia tidak memiliki wajah, hanya sebuah simbol "Jeda" (dua garis vertikal) di dadanya.
Penjaga: "Satu pukulan dari luar sistem telah memicu alarm. Anda telah membawa 'Anomali' ke dalam jantung sistem dunia."
Saitama (Melayang-layang dengan kikuk karena tidak ada gravitasi): "Oi, Aris... kenapa aku jadi melayang-layang seperti astronot begini? Dan siapa pria pelangi itu? Apa dia juga sedang diskon?"
Genos (Mencoba menembakkan laser, tapi lasernya justru berubah menjadi bunga-bunga cahaya): "Sistem senjataku... dikonversi menjadi data non-agresif! Tempat ini memanipulasi niat tempur!"
Aris menyadari sesuatu yang mengejutkan pada monitornya. "Kapten! Saitama-san! Lihat tangan kalian!"
Tangan Luffy dan tangan Saitama yang mengenakan sarung tangan merah mulai bersinar dengan warna yang sama Hitam Legam dengan Tepian Emas. Warna ini tidak ada dalam spektrum warna dunia One Piece maupun dunia Saitama.
Aris: "Ini adalah warna 'Absolut'! Pukulan Saitama tadi bukan sekadar getaran, dia membuka akses ke 'Admin Room' dunia ini! Dan karena Luffy memegang sarung tangannya, Haki-nya sekarang terhubung dengan sistem pusat dunia!"
Penjaga: "Proses Reset harus dimulai. Dunia ini sudah terlalu kacau dengan adanya impian dan kekuatan yang melampaui batas."
Sang Penjaga mengangkat tangannya, dan seluruh isi lautan di atas mereka mulai tersedot masuk untuk "dihapus".
Cara Berbeda: "The Creative Strike"
Luffy: "Aku tidak mengerti soal reset atau admin... tapi kalau kau menghapus dunia ini, aku tidak bisa jadi Raja Bajak Laut, dan si Botak tidak bisa belanja lagi!"
Saitama: "Benar. Lagipula, apartemenku ada di sana. Kalau kau reset, cicilanku bagaimana?"
Bukannya bertarung dengan amarah, Aris memberikan instruksi yang sangat aneh.
Aris: "Luffy! Saitama-san! Jangan pukul penjaga itu dengan niat menghancurkan! Jika kalian menghancurkannya, sistem ini akan meledak! Kalian harus 'Menulis Ulang' dia! Gunakan imajinasi kalian!"
Luffy dan Saitama saling pandang. Mereka melayang mendekati Penjaga Pelangi tersebut.
Luffy: "Aku ingin dunia yang penuh dengan pesta daging!"
Saitama: "Aku ingin dunia di mana antrean supermarket selalu lancar."
Mereka berdua melakukan "Tos" (High Five) tepat di depan wajah sang Penjaga.
BOOOOOOOMMMMMM!!!!!
Sebuah ledakan warna yang luar biasa dashyat ledakan warna-warna pastel, kembang api, dan aroma makanan memenuhi seluruh silinder kuno itu.
Hasil yang Mengejutkan
Sistem "Reset" mendadak berubah menjadi "Update". Pesan di langit dunia One Piece yang tadinya "RESET" berubah menjadi: "KEBEBASAN TELAH DIOPTIMALKAN. SELAMAT MENIKMATI HARI ANDA."
Silinder raksasa itu kemudian perlahan berubah menjadi sebuah pulau baru yang indah yang muncul ke permukaan laut sebuah pulau dengan teknologi masa depan tapi penuh dengan pohon buah-buahan.
Aris (Terduduk lemas): "Kalian baru saja... melakukan coding terhadap realitas dengan cara yang paling konyol dalam sejarah semesta."
Saitama: "Tadi itu menyenangkan. Rasanya seperti menekan tombol refresh pada komputer yang lemot."
Luffy: "Shishishi! Lihat! Pulau baru! Ayo kita beri nama Pulau Daging-Diskon!"
Ternyata dunia ini adalah sistem yang bisa "di-update" jika ada orang yang cukup kuat (dan cukup konyol) untuk memukul tombol yang benar.
Pulau yang baru saja muncul dari kedalaman 10.000 meter itu tidak seperti daratan mana pun di Grand Line. Saat Sunny Go perlahan merapat ke pesisirnya, tidak ada suara gemuruh atau aura mengancam. Yang ada hanyalah keheningan yang sangat menenangkan.
Pasir pantainya tidak berwarna putih atau cokelat, melainkan perak halus yang memantulkan cahaya pelangi redup dari langit. Air laut di pinggir pantai terasa hangat, dan anehnya, air itu tidak membasahi pakaian, melainkan hanya memberikan sensasi segar yang luar biasa.
Luffy melompat turun ke pasir perak tersebut, diikuti oleh Aris, Saitama, dan kru lainnya. Tidak ada teriakan "Harta Karun!" dari Nami atau "Musuh!" dari Zoro. Semuanya terdiam, terpesona oleh atmosfer pulau ini.
Robin berlutut, menyentuh permukaan pasir. "Tanah ini... ia bernapas. Ini bukan sekadar pulau, Aris. Ini adalah sebuah 'Biomassa Organik Pintar'. Seluruh pulau ini adalah satu organisme hidup yang diciptakan untuk menjaga keseimbangan."
Aris membuka tabletnya, namun sensornya menunjukkan angka nol. "Tidak ada radiasi, tidak ada polusi. Bahkan hukum gravitasi di sini terasa lebih lembut. Saitama-san, kau merasa sesuatu?"
Saitama (Berjalan santai sambil memasukkan tangan ke saku): "Hmm... rasanya nyaman. Seperti sedang berjalan di atas kasur busa yang sangat mahal. Dan baunya... seperti bau handuk yang baru dicuci."
Hutan Kristal dan Buah yang Belum Pernah Ada
Mereka mulai berjalan masuk ke dalam pulau. Pohon-pohon di sini tidak memiliki daun hijau, melainkan struktur kristal transparan yang di dalamnya mengalir cairan berwarna-warni. Cairan itu adalah energi murni yang terakumulasi selama ribuan tahun.
Sanji berhenti di depan sebuah pohon kecil yang buahnya berbentuk seperti bintang yang bercahaya. Ia memetik satu dan mencium aromanya.
Sanji: "Baunya seperti campuran cokelat, jeruk, dan... kebahagiaan? Aris, apakah ini aman dikonsumsi?"
Aris memindai buah itu. "Ini bukan buah biasa. Ini adalah 'Nutrisi Data'. Jika kau memakannya, kau tidak hanya kenyang, tapi pikiranmu akan menjadi jernih. Ini adalah teknologi pangan dari era yang kita lompati."
Luffy, tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, langsung melahap satu buah bintang tersebut. Matanya yang bulat mendadak berbinar, namun ia tidak berteriak. Ia justru duduk bersila di bawah pohon, tampak sangat tenang.
Luffy: "Shishishi... rasanya seperti sedang mendengar lagu yang sangat indah di dalam kepalaku. Aku tidak ingin memukul siapa pun sekarang."
Setelah berjalan cukup lama melalui hutan kristal yang tenang, mereka sampai di sebuah tanah lapang berbentuk lingkaran sempurna. Di tengahnya, berdiri sebuah bangunan tanpa dinding yang terbuat dari cahaya yang dipadatkan seperti air terjun cahaya yang mengalir ke atas.
Aris mendekati pusat bangunan itu. Di sana, melayang sebuah Proyeksi Digital yang sangat kuno namun canggih. Saat Aris menyentuhnya, muncul gambaran dirinya sendiri... namun dalam versi yang jauh lebih dewasa, mengenakan jubah yang sama dengan yang ia pakai sekarang.
Aris (Suaranya bergetar): "Ini... pesanku? Tapi aku belum pernah membuat pesan ini. Jadi tempat ini ternyata bagian dari diriku. Wahhhhhhhhhh!"
Genos: "Analisis menunjukkan ini adalah 'Simpanan Waktu'. Pesan ini ditinggalkan untukmu oleh dirimu sendiri dari garis waktu yang telah 'di-update' oleh pukulan Saitama tadi."
Di dalam proyeksi itu, Aris dari Masa Depan tersenyum tenang. Tidak ada suara, hanya barisan kode yang masuk langsung ke dalam tablet Aris.
Saitama duduk di pinggir padang cahaya itu, menatap langit pulau yang perlahan berubah warna menjadi ungu keemasan.
Saitama: "Pulau ini... sepertinya tempat yang bagus untuk pensiun, ya? Tidak ada monster yang mengganggu, tidak ada tagihan apartemen."
Zoro (Duduk di sampingnya, meletakkan pedangnya di tanah): "Kau benar, Botak. Tempat ini membuatku merasa bahwa kekuatan bukanlah segalanya. Ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar menjadi yang terkuat."
Aris menatap kru dan tamunya dengan pandangan haru. "Pukulanmu tadi, Saitama-san... bukan hanya menghentikan reset, tapi memulihkan 'Tempat Peristirahatan' para Dewa Kuno. Pulau ini adalah hadiah bagi dunia yang sudah terlalu lelah berperang."
Suasana di pulau ini memberikan "Jeda" yang sangat dibutuhkan oleh semua orang. Namun, di tengah ketenangan itu, Aris menemukan satu data terakhir dalam pesannya: Bahwa di jantung pulau ini, terdapat sebuah mesin yang bisa mengirim Saitama dan Genos pulang kapan pun mereka mau... namun dengan satu syarat.
