Malam itu, Sunny Go tidak lagi terasa seperti kapal bajak laut, melainkan seperti pengungsian antar dimensi. Cahaya lampu dari dapur Sanji berpendar hangat di atas dek yang masih memiliki bekas retakan pertempuran.
Saitama duduk bersila di samping Luffy. Keduanya sedang asyik memegang paha daging raksasa. Bedanya, Luffy memakannya seolah itu adalah makanan terakhir dalam hidupnya, sementara Saitama memakannya dengan tatapan kosong, seolah-olah ia hanya sedang mengisi bahan bakar.
Saitama: "Jadi... kalian baru saja menyelamatkan dunia dari pria yang ingin menghapus ingatan orang? Kedengarannya merepotkan ya."
Luffy: "Shishishi! Iya, dia sangat berisik. Tapi berkat sarung tanganmu, pukulanku jadi terasa sangat ringan! Kenapa kau meninggalkan benda itu, Botak?"
Saitama: "Oh, itu... jempolnya bolong. Aku mau membuangnya tapi lupa. Tidak sangka kau malah menggunakannya untuk memukul Tuhan atau apalah itu."
Di sudut lain, terjadi ketegangan teknologi yang lucu. Genos berdiri kaku di depan Franky dan Aris.
Genos: "Analisis sensor: Pria besar di depan saya memiliki 40% bagian tubuh mekanik dengan teknologi yang tidak efisien namun memiliki estetika yang berlebihan. Dan bocah di sampingnya memiliki pola otak yang memancarkan energi dimensi."
Franky: "Oiii! Apa kau bilang?! Tidak efisien?! Lihat ini, Nipple Light!!!" (Franky menyalakan lampu dari dadanya).
Aris (Sambil mencatat di tablet): "Tuan Genos, bisakah saya melihat skema inti energimu? Itu terlihat seperti Cold Fusion yang sudah disempurnakan. Jika saya bisa mengaplikasikannya pada sistem navigasi Sunny Go..."
Genos: "Akses ditolak. Informasi ini hanya untuk kepentingan Guru Saitama. Kecuali jika kau bisa membuktikan bahwa kau bukan ancaman."
Aris: "Aku bukan ancaman! Aku hanya ingin tahu bagaimana cara kerja lenganmu yang bisa mengeluarkan panas sebesar itu tanpa melelehkan sendi-sendinya!"
Sementara yang lain berisik, Zoro sedang duduk di atas tiang kapal sambil mengasah pedangnya. Ia menatap Saitama dari kejauhan.
Zoro: "Oi, Sanji. Kau lihat pria botak itu? Dia tidak punya kuda-kuda. Dia tidak punya aura membunuh. Tapi kenapa setiap kali dia mengunyah, aku merasa seluruh udara di sekitar kapal ini seolah-olah tunduk padanya?"
Sanji (Sambil memberikan minuman pada Robin dan Nami): "Itu namanya kekuatan yang sudah 'selesai', Marimo. Dia tidak perlu pamer. Tapi yang bikin aku bingung adalah temannya yang robot itu... dia mencatat semua menu masakanku ke dalam memorinya. Dia bilang itu 'Data Nutrisi untuk Guru'."
Eksplorasi Baru: Masalah Logistik Antar Dimensi
Keesokan paginya, masalah baru muncul yang lebih "manusiawi" daripada kiamat dunia.
Aris: "Kapten! Ada masalah! Kehadiran Saitama-san dan Genos di dimensi ini menciptakan beban massa yang terlalu berat bagi Sunny Go. Kapal kita mulai tenggelam perlahan karena gravitasi Saitama yang terlalu 'padat'."
Saitama: "Eh? Aku jadi beban? Apa aku harus diet?"
Aris: "Bukan itu! Anda harus melakukan 'Sinkronisasi Frekuensi Dunia'. Sederhananya, Anda harus melakukan aktivitas yang membuat dunia ini menganggap Anda adalah bagian dari penduduknya, bukan penyusup."
Luffy: "Apa itu artinya dia harus punya pekerjaan?!"
Nami (Matanya berubah menjadi simbol Bell): "Pekerjaan?! Saitama! Kau sangat kuat, kan? Bagaimana kalau kau menjadi pengawal pribadiku untuk mengumpulkan harta karun di pulau bawah laut? Kita bagi hasil... 90% untukku, 10% untukmu!"
Saitama: "10%? Bisakah itu dibelikan kubis yang banyak?"
Mengapa Ini
Di bengkel bawah tanah Sunny Go yang kini telah diperluas, suasana terlihat sangat sibuk. Kabel-kabel raksasa berseliweran, dan suara percikan las dari tangan Franky memenuhi ruangan. Di sudut lain, Aris sedang menatap layar hologram raksasa yang berisi perhitungan fisika kuantum yang sangat rumit.
"Ini tidak akan mudah, Franky-san," ujar Aris sambil menyeka keringat. "Kita tidak hanya membuat pintu biasa. Kita harus menstabilkan 'Celah Keheningan' agar Saitama-san bisa lewat tanpa menghancurkan realitas di sekitarnya. Berat massa Saitama-san itu setara dengan satu planet jika dia bergerak terlalu cepat!"
Franky (Sambil memukul lempengan baja emas) "OWWWW! Jangan khawatir, Aris! Dengan suplai Cola murni dan logam hasil curian dari markas Vane kemarin, aku akan membuat bingkai pintu yang paling SUPER di seluruh lautan!"
Saitama Sang Penguji Coba
Di luar bengkel, Saitama sedang duduk di atas tong kayu sambil memegang selebaran diskon dari dunianya yang sudah mulai lecek.
"Oi, Aris... Apa pintunya sudah jadi?" tanya Saitama datar. "Aku dengar besok ada diskon daging wagyu di supermarket dekat apartemenku. Kalau aku ketinggalan, aku akan sangat menyesal."
Genos (Berdiri tegak di sampingnya dengan buku catatan): "Guru, harap bersabar. Aris-dono dan Franky-dono sedang mensinkronkan koordinat ruang-waktu agar Anda tidak mendarat di tengah samudera atau di dalam gunung berapi."
Aris mulai menjelaskan bagian paling krusial dari proyek ini. "Kita butuh 'Jangkar Realitas'. Masalahnya, dunia One Piece dan dunia Saitama-san memiliki hukum fisika yang berbeda. Di sini, orang bisa terbang dengan menendang udara, tapi di sana, gravitasi sangat kaku. Jika kita salah hitung, Saitama-san bisa meledak saat melangkah masuk!"
Franky: "Jadi, apa solusinya?"
Aris: "Kita butuh Sarung Tangan Merah itu lagi sebagai kunci cadangan. Franky, tolong pasang sensor penangkap Haki di ambang pintu.
Kita akan menggunakan Haki Raja milik Kapten Luffy sebagai bahan bakar untuk 'merekatkan' dua dimensi ini secara permanen."
Luffy yang sedang lewat sambil membawa daging, tiba-tiba ditarik oleh Aris.
Luffy: "Eh? Aku harus melakukan apa?"
Aris: "Kapten, aku butuh kau melepaskan sedikit tekanan Haki-mu ke arah lubang ini. Jangan dipukul! Cukup 'tekankan' tekadmu agar lubang ini tidak menutup."
Luffy menatap lubang hitam kecil yang melayang di tengah ruangan.
Ia memicingkan mata, dan aura merah gelap mulai keluar dari tubuhnya. Udara di ruangan itu bergetar hebat.
Momen Percobaan Pertama
Pintu itu mulai terbentuk. Berbentuk oval dengan bingkai logam kromium yang bersinar biru. Di tengahnya, terlihat bayangan samar-samar pemandangan Kota Z yang hancur namun familiar.
Saitama mendekat. "Oh, itu apartemenku. Aku bisa melihat jemuranku dari sini."
Aris: "Tunggu! Jangan masuk dulu! Kita harus menguji stabilitasnya dengan benda mati."
Aris melemparkan sebuah apel ke dalam portal. Apel itu masuk, menghilang sebentar, lalu muncul kembali dari sisi lain... tapi dalam bentuk jus.
Franky: "Waduh... Sepertinya tekanannya masih terlalu tinggi untuk buah-buahan."
Saitama: "Kalau jus, tidak apa-apa. Tapi kalau dagingku jadi jus, itu masalah besar."
Sambil menunggu Aris memperbaiki koordinat, Saitama dan kru Topi Jerami mulai mengobrol lebih santai.
Nami: "Saitama, kalau pintu ini jadi, kau benar-benar akan pulang-pergi hanya untuk belanja?
Saitama: " Apa itu sejenis potongan daging yang sangat besar? Kalau iya, aku tertarik. Tapi kalau itu hanya harta karun emas, aku lebih suka diskon supermarket. Emas tidak bisa dimakan, kan?"
Zoro (Tertawa): "Pria ini benar-benar tidak punya ambisi. Tapi aku suka ketenangannya. Oi, Botak, kapan-kapan ajari aku cara latihan fisikmu. Aku ingin tahu rahasia kekuatan tanpa Haki itu."
Saitama: "Sudah kubilang... lari 10km, 100 kali push-up..."
Genos: "Guru! Tolong jangan berikan rahasia suci itu secara cuma-cuma kepada pendekar pedang ini!"
Keberhasilan Kecil
Setelah beberapa jam penyesuaian, Aris akhirnya tersenyum. "Oke, coba lagi!"
Kali ini, Aris melemparkan sandal jepit milik Luffy. Sandal itu melewati portal dan mendarat dengan selamat di lantai apartemen Saitama, tetap utuh tanpa lecet.
Aris: "BERHASIL! Koneksi stabil! Saitama-san, kau sekarang punya 'Pintu Diskon Antar Dimensi' pertama di sejarah alam semesta!"
Saitama (Matanya berbinar): "Bagus. Genos, siapkan tas belanja yang besar. Kita punya banyak hal untuk dibeli!"
Franky: "OWWWW! Ini adalah proyek paling SUPER yang pernah kubuat!"
Pintu portal dimensi yang dibuat Aris dan Franky akhirnya berfungsi dengan sempurna. Pintu itu dipasang di sudut dapur Sanji, terlihat seperti bingkai cermin yang permukaannya beriak air biru jernih.
Sore itu, riak portal tersebut bergetar hebat. Saitama melangkah keluar dengan santai, menenteng dua kantong plastik putih besar berlogo supermarket "Munageya". Di belakangnya, Genos memanggul sebuah kardus cokelat besar dengan presisi militer.
Snack Dari Dunia Modern
Saitama: "Fuuuh... Untung belum tutup. Aku dapat diskon paket mie instan isi lima dan beberapa camilan yang sepertinya baru dirilis."
Luffy yang sedang tiduran di atas kepala singa Sunny langsung melompat turun secepat kilat. Hidungnya mengendus bau aneh yang belum pernah ia temui di seluruh Grand Line.
Luffy: "Oi, Botak! Bau apa ini? Baunya asin tapi... tajam!"
Saitama merogoh kantong plastiknya dan mengeluarkan sebungkus camilan berwarna merah terang. "Ini namanya Spicy Squid Chips. Hati-hati, ini agak pedas."
Luffy tidak peduli. Ia merobek bungkusnya (dengan sedikit tenaga Haki karena plastiknya terlalu kuat) dan memasukkan segenggam keripik ke mulutnya. Seluruh kru berkumpul melihat ekspresi Luffy.
Luffy: (Matanya membelalak, lidahnya menjulur keluar sedikit) "UOOOOOOO! RASANYA MELEDAK! Asin! Pedas! Dan ada rasa ikan tapi bukan ikan yang kukenal! Sanji! Coba ini!"
Benturan Budaya Kuliner
Sanji mengambil satu keping keripik dengan skeptis, mencicipinya, lalu terdiam. Tangannya segera mengambil buku catatan. "Rasa buatan ini... sangat konsisten. Aris, bahan kimia apa yang mereka gunakan untuk membuat rasa 'Umami' sekuat ini?"
Aris (Sambil memindai bungkusnya): "Itu disebut MSG, Sanji-san. Di dunia Saitama-san, itu adalah intisari dari kelezatan instan. Tapi lihat ini!"
Aris menunjuk ke arah kardus yang dibawa Genos. Saitama mengeluarkan sebuah cup plastik berisi Mie Instan Cup.
Saitama: "Ini adalah puncak teknologi manusia. Kau hanya butuh air panas, tunggu tiga menit, dan kau bisa merasakan surga."
Usopp dan Chopper mendekat dengan mata berbinar. Sanji segera mendidihkan air menggunakan teknik Diable Jambe kecil di ujung jarinya agar cepat. Setelah air dituang, Aris menyalakan stopwatch di tabletnya.
"Tiga... dua... satu... BUKA!" seru Aris.
Uap mengepul keluar. Aroma kaldu ayam buatan dan rempah-rempah kimia memenuhi ruangan. Luffy segera menyeruput mie itu dengan rakus.
Luffy: "SLURRRRRP! APA-APAAN INI?! Mienya sangat kenyal dan kuahnya... kuahnya membuatku ingin lari keliling kapal! Saitama, kau harus bawa lebih banyak benda ini!"
Ketagihan Antar Dimensi
Kegilaan snack dari dunia Saitama mulai merambah ke kru lain:
Nami mencoba Chocolate Pocky. "Ini sangat manis dan elegan! Aris, bisakah kau membuat portal ini otomatis memesan benda ini setiap minggu? Aku akan menjualnya di pulau-pulau terdekat dengan harga tiga kali lipat!"
Zoro menemukan sebotol Energy Drink berwarna neon. "Rasanya seperti meminum petir. Aku merasa bisa berlatih selama 48 jam tanpa tidur setelah minum ini."
Brook sangat menyukai Milk Candy. "Sangat lembut, sampai menyentuh tulang-tulangku! Walaupun aku tidak punya lidah, Yohohoho!"
Kejutan Terakhir dari Genos
Genos kemudian meletakkan sebuah tabung kecil di meja. "Guru juga membeli ini karena sedang promo beli satu gratis satu. Ini adalah Super-Sour Lemon Candy."
Chopper yang tidak tahu apa-apa langsung memasukkan satu butir ke mulutnya. Seketika wajahnya mengerut sampai hidung birunya menghilang ke dalam bulunya.
Chopper: "WAAAAAAA! ASAM SEKALI! AKU MERASA ORGAN TUBUHKU BERGANTI POSISI!"
Saitama hanya menatap datar sambil mengunyah kerupuk. "Yah, itu memang tantangan bagi para pemberani."
Sambil mengunyah snack, mereka duduk di dek kapal di bawah bintang-bintang. Tidak ada ancaman Pemerintah Baru, tidak ada kiamat dimensi. Hanya suara renyah keripik dan tawa Luffy.
Aris: "Saitama-san, terima kasih sudah membawa semua ini. Selain enak, aku bisa mempelajari struktur polimer kemasannya untuk membuat pelapis baru bagi lambung kapal Sunny Go."
Saitama: "Sama-sama. Lagipula, makan mie instan di tengah lautan yang luas ini rasanya... jauh lebih enak daripada makan sendirian di apartemen. Oh iya, minggu depan ada diskon deterjen. Ada yang mau titip?"
Luffy: "Aku titip semua makanan yang bungkusnya berwarna merah, Botak! Semuanya!"
Suasana menjadi sangat hangat dan santai. Hubungan antara dua dunia ini kini lebih menyerupai tetangga yang sering berbagi camilan daripada sekadar sekutu perang.
Pagi itu di dek Thousand Sunny terasa sangat damai, sampai akhirnya Saitama merasa bosan setelah menghabiskan persediaan mie instannya. Ia berdiri di pinggir kapal, menatap laut biru Grand Line yang penuh dengan monster bawah laut.
"Oi, Aris... di sini ikannya besar-besar, kan?" tanya Saitama sambil meregangkan tangannya. "Aku ingin makan ikan panggang segar."
Usopp yang sedang asyik memoles alat pancing "Kuro Kabuto" miliknya langsung mendekat dengan bangga. "Hahaha! Kau bertanya pada ahlinya, Saitama! Memancing di lautan ini butuh kesabaran, teknik, dan umpan rahasia buatanku. Kau tidak bisa hanya melempar tali begitu saja!"
Teknik Memancing Gaya Saitama
Saitama hanya mengangguk pelan. Ia tidak mengambil alat pancing. Ia hanya berdiri di pinggir dek, menatap air dengan tatapan kosong yang legendaris itu.
Saitama: "Sabar ya... aku tidak terlalu suka menunggu. Aku pakai cara cepat saja."
Usopp: "Cara cepat? Maksudmu menjala? Itu tidak menantang, kawan! Kau harus merasakan sensasi tarik-menarik antara kau dan...."
Belum sempat Usopp menyelesaikan kalimatnya, Saitama mengepalkan tangan kanannya. Ia tidak memukul air dengan keras, ia hanya melakukan "Normal Series: Soft Tap" tepat ke permukaan air.
TUK.
Sentuhan jari Saitama ke air hanya menciptakan riak kecil, seperti menjatuhkan kerikil. Namun, di bawah permukaan, Aris yang sedang memantau sensor sonar di tabletnya langsung berteriak.
Aris: "Gawat! Semuanya pegangan! Terjadi lonjakan gelombang ultrasonik di bawah kapal!"
Efek Satu Pukulan di Bawah Laut
DUMMM...
Sebuah getaran frekuensi rendah merambat sejauh 5 kilometer ke segala arah. Tiba-tiba, laut yang tadinya tenang mulai berubah warna menjadi perak. Bukan karena cahaya matahari, tapi karena ribuan perut ikan yang putih mulai mengapung ke permukaan.
Bukan hanya ikan kecil, tapi tiga ekor Sea King (Monster Laut) berukuran raksasa tiba-tiba muncul ke permukaan dengan mata berputar-putar (spiral) dan lidah menjulur keluar. Mereka tidak mati, mereka hanya pingsan total karena syok saraf dari getaran tangan Saitama.
Usopp: (Matanya melompat keluar, rahangnya jatuh ke lantai) "APA-APAAN INI?! KAU MENGHANCURKAN SELURUH EKOSISTEM DALAM SATU DETIK!"
Chopper: (Berlari panik) "DOKTER! DOKTER! Oh, aku dokternya! Semua ikan ini pingsan karena trauma tekanan! Saitama, kau terlalu kuat untuk memancing!"
Stres Sang Penembak Jitu
Usopp terduduk lemas sambil memegang alat pancingnya yang kini terasa tidak berguna.
Usopp: "Saitama... kau tahu tidak? Aku sudah menyiapkan umpan ini selama tiga jam. Aku sudah menunggu momen pertarungan epik dengan ikan legendaris... dan kau hanya menyentuh air, lalu semua ikan di radius 5 mil menyerah begitu saja?"
Saitama: "Eh? Aku kan hanya mau satu ekor. Kenapa mereka semua bangun dan mengapung?"
Aris (Sambil memegang kening): "Itu disebut 'Efek Kejut Dimensi', Saitama-san. Energi kinetikmu merambat melalui molekul air tanpa kehilangan kekuatan. Kau baru saja membuat pingsan seluruh populasi ikan di area ini."
Luffy: (Melompat kegirangan di atas punggung Sea King yang pingsan) "SHISHISHI! KEREN! KITA PUNYA PERSEDIAAN MAKANAN UNTUK SATU TAHUN! ARIS, FRANKY, AYU BANTU AKU MENARIK SEMUA INI!"
Sanji keluar dari dapur dengan rokok di mulutnya, menatap lautan ikan pingsan itu dengan bingung. "Saitama... aku menghargai usahamu mencari bahan makanan. Tapi bagaimana aku harus memasak sepuluh ribu ikan sekaligus sebelum mereka membusuk?"
Saitama: "Maaf, aku tidak tahu airnya selemah itu. Lain kali aku akan pakai jari kelingking saja."
Genos (Mencatat dengan sangat serius): " Teknik memancing Guru sangat efisien. Tidak membutuhkan alat tambahan. Cukup memberikan tekanan eksistensial pada medium air. Kesimpulan Jaring ikan adalah teknologi usang."
Usopp: "TIDAK! JANGAN DICATAT! ITU BUKAN MEMANCING, ITU TERORISME KELAUTAN!"
Akhirnya, mereka semua terpaksa mengadakan pesta ikan besar-besaran karena terlalu banyak ikan yang mengapung. Aris menggunakan teknologi pendinginnya untuk menyimpan sisanya, sementara Luffy dan Saitama duduk bersila sambil membakar ikan raksasa.
Saitama: "Memancing di sini ternyata melelahkan ya."
Usopp: "MELELAHKAN DARI MANA?! Kau bahkan tidak berkeringat! Yang lelah itu mental-ku, Saitama! Mentalku!"
Suasana di Sunny Go semakin hari semakin penuh tawa (dan stres bagi Usopp). Kehadiran Saitama benar-benar merusak semua logika tantangan di dunia One Piece.
