Setelah kehancuran kloning di dek Sunny Go, suasana tidak langsung ceria. Aris segera membedah sisa-sisa kode digital yang menguap di udara. Dengan mata yang bengkak karena kurang tidur, ia menemukan sebuah jalur transmisi tersembunyi yang mengarah ke timur kembali ke tempat segalanya dimulai: LogueTown.
"Mereka bersembunyi di bawah kaki kita sendiri," bisik Aris. "Di bawah platform eksekusi Raja Bajak Laut Gold Roger, terdapat fasilitas kuno yang telah dipugar menjadi Server Induk DNA."
Tanpa membuang waktu, Luffy memerintahkan keberangkatan. Namun, perjalanan ini tidak boleh terdeteksi.
Menembus Kabut Tanpa Jejak
Sunny Go tidak lagi berlayar dengan gagah di atas ombak. Atas instruksi Aris, Franky mengaktifkan mode Hydro-Submarine. Kapal itu menyelam jauh ke kedalaman laut, menghindari radar satelit Pemerintah Baru yang menyisir permukaan.
Di dalam kabin yang remang-remang, Aris bekerja bagaikan orang kesurupan. Ia mengintegrasikan energi dari sarung tangan merah Luffy ke dalam mesin kapal.
"Kita tidak hanya bersembunyi secara fisik," Aris menjelaskan kepada kru yang berkumpul. "Aku sedang menciptakan 'Lapisan Keheningan'. Partikel dari sarung tangan ini akan menyerap semua getaran mesin kita. Bagi radar musuh, kita hanyalah sekumpulan air laut yang lewat."
Selama berhari-hari, kru Topi Jerami hidup dalam kesunyian yang mencekam. Tidak ada teriakan Luffy, tidak ada dentuman palu Franky. Mereka bergerak dalam "Jeda" yang dipaksakan. Perasaan ini asing bagi mereka, namun perlu. Mereka belajar bahwa untuk mengalahkan musuh yang meniru kekuatan absolut, mereka harus menjadi "Ketiadaan".
Saat mencapai teluk LogueTown, mereka tidak muncul di pelabuhan. Sunny Go masuk melalui terowongan air kuno yang hanya bisa dideteksi oleh sensor dimensi Aris. Terowongan itu bermuara langsung di bawah fondasi kota.
Kru keluar dari kapal dengan gerakan yang sangat hati-hati. Aris membagikan perangkat Earpiece khusus. "Jangan bicara keras. Sensor suara di sini sangat sensitif. Gunakan kode ketukan jika perlu."
Mereka menyusuri koridor logam dingin yang dipenuhi dengan tabung-tabung raksasa berisi cairan hijau tempat di mana ribuan embrio kloning gagal dibuang. Pemandangan itu membuat Chopper merinding dan Luffy mengerutkan dahi dalam kemarahan yang tenang.
Aris memimpin di depan, menggunakan tabletnya untuk membajak setiap pintu otomatis sebelum sistem keamanan sempat "berkedip". Mereka melewati barisan penjaga elit Pemerintah Baru yang berdiri mematung seperti patung, tanpa menyadari bahwa sang legenda hidup baru saja berjalan satu meter di samping mereka berkat Field Invisibility dari sarung tangan merah.
Setelah melewati labirin keamanan, mereka sampai di sebuah pintu raksasa berbahan vibranium. Aris melakukan bypass terakhir. Pintu itu berdesis terbuka, mengungkapkan sebuah ruangan luas yang didominasi oleh pilar-pilar cahaya biru Server Induk DNA.
Di tengah ruangan itu, berdiri sebuah meja kontrol yang megah. Seorang pria dengan seragam militer putih bersih, Grand Marshal Vane, sedang menatap layar besar yang menunjukkan grafik "Penghapusan Kehendak" yang sudah mencapai 90%.
Vane tidak mendengar pintu terbuka. Ia terlalu asyik dengan kemenangan digitalnya.
"Hanya beberapa menit lagi," gumam Vane pada dirinya sendiri. "Dunia ini akan menjadi sangat rapi. Tidak ada lagi kekacauan, tidak ada lagi bajak laut, tidak ada lagi mimpi yang tidak masuk akal. Hanya ketertiban yang murni."
"Ketertiban itu... rasanya sangat tidak enak," suara Luffy memecah keheningan.
Vane tersentak, berputar dengan cepat. Ia melihat Luffy, Zoro, Sanji, dan Aris berdiri di hadapannya. Tidak ada alarm yang berbunyi. Tidak ada pengawal yang datang. Mereka muncul seolah-olah mereka selalu ada di sana, hanya saja Vane baru "diizinkan" untuk melihat mereka.
"Topi Jerami... Aris..." Vane mundur, tangannya gemetar mencari tombol darurat. "Bagaimana kalian bisa melewati pertahanan absolut ku tanpa meninggalkan jejak sedikitpun?!"
Aris melangkah maju dengan tenang, menutup laptopnya. "Karena kau terlalu fokus pada 'Kekuatan Besar', Marshal. Kau lupa bahwa di dunia ini, ada sesuatu yang jauh lebih kuat: Keheningan di antara nada-nada."
Luffy mengangkat tangan kanannya yang bersarung merah, cahaya redup mulai terpancar dari sela-sela jarinya. "Permainanmu selesai, Pak Tua. Aris, matikan lampunya."
Vane mundur hingga punggungnya membentur pilar Server Induk yang dingin. Ia menatap Luffy bukan dengan ketakutan seorang pengecut, melainkan dengan keyakinan buta seorang fanatik. Di layar raksasa di belakangnya, angka persentase "Will-Eraser" berkedip di angka 95%.
"Kau tidak mengerti, Luffy si Topi Jerami!" Vane berteriak, suaranya bergema di ruangan steril itu. "Dunia yang kau banggakan ini berdarah-darah! Berapa banyak nyawa yang hilang karena impian konyol? Berapa banyak anak yatim karena perang bajak laut? Aku tidak sedang menghancurkan mereka, aku sedang menyelamatkan mereka dari penderitaan 'pilihan'!"
Luffy terdiam. Ia tidak memasang kuda-kuda bertarung. Ia hanya berdiri, membiarkan sarung tangan merahnya menggantung santai di sisinya.
Vane: "Lihatlah Aris! Dia jenius, tapi dia menderita karena otaknya diincar. Lihat kloning Saitama itu! Mereka sempurna karena mereka tidak memiliki ego. Jika aku menghapus kehendak bebas manusia, dunia ini akan menjadi surga yang damai. Tidak ada keserakahan, tidak ada kebencian. Bukankah itu yang kalian inginkan?!"
Luffy: "Surga? Kau bilang tempat di mana orang tidak bisa tertawa sesuka hati itu surga?"
Vane: "Tertawa? Tertawa adalah reaksi dari ketidakpastian! Di duniaku, segalanya pasti. Semua orang akan makan, semua orang akan tidur, dan semua orang akan aman. Kau hanya ingin 'Kebebasan' karena kau egois, Luffy! Kau ingin berlayar sesukamu sementara dunia terbakar!"
Luffy melangkah maju satu langkah. Tekanan udara di ruangan itu mendadak menjadi sangat berat.
Luffy: "Si Botak pernah bilang padaku... menjadi pahlawan atau bajak laut itu sebenarnya cuma hobi. Tapi tahu tidak apa yang membuatnya tetap hidup meskipun dia sudah sangat kuat dan bosan?"
Vane terdiam, matanya menyipit.
Luffy: "Ketidaktahuan. Dia tidak tahu apakah hari ini toko akan diskon atau tidak. Dia tidak tahu apakah besok akan ada musuh yang lebih kuat atau tidak.
Ketidaktahuan itu yang membuat hidup ini terasa seperti petualangan."
Luffy mengangkat tangan kanannya yang bersarung merah, menunjuk tepat ke jantung Vane.
Luffy: "Kau ingin semua orang tahu masa depan mereka? Kau ingin mereka hidup seperti robot? Itu bukan menyelamatkan mereka, Vane. Itu namanya Membunuh mereka sebelum mereka sempat mati. Kau cuma orang tua yang ketakutan pada ombak, jadi kau ingin membekukan seluruh lautan."
Vane (Berteriak histeris): "KAU HANYA BAJAK LAUT! APA HAKMU BICARA TENTANG MORAL?!"
Luffy: "Aku tidak punya hak. Aku cuma lapar. Dan dunia yang kau buat... pasti tidak punya makanan yang rasanya enak. Karena makanan yang enak dimasak oleh orang yang bermimpi ingin menjadi koki terbaik, bukan oleh orang yang dipaksa masak oleh mesinmu."
Vane menerjang ke arah tombol aktivasi akhir, namun Aris dengan tenang menjentikkan jarinya. Sebuah perintah kode dikirim secara nirkabel.
Aris: "Kebebasan bukan berarti tanpa risiko, Marshal. Kebebasan adalah hak untuk melakukan kesalahan. Dan kesalahan terbesarmu adalah berpikir bahwa kau bisa mengontrol detak jantung manusia."
Tepat saat persentase mencapai 99%, Luffy menyentuh layar server dengan sarung tangan merahnya.
Luffy: "Saitama bilang, satu pukulan sudah cukup. Tapi untukmu, aku bahkan tidak perlu mengepalkan tangan."
Bukan ledakan yang terjadi, melainkan gelombang "Ketenangan" yang luar biasa lembut merambat keluar dari sarung tangan itu. Layar-layar yang tadinya menunjukkan grafik rumit berubah menjadi putih bersih. Kode-kode "Will-Eraser" terhapus bukan karena dihancurkan, tapi karena Luffy memberikan "Jeda" pada sistem tersebut sebuah titik henti yang permanen.
Vane jatuh berlutut. Ia melihat seluruh pekerjaannya menghilang seperti asap. Ia menatap tangannya yang gemetar, dan untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, ia merasa... ragu.
Luffy: "Nah, sekarang kau bebas, Vane. Kau bebas untuk merasa kalah, bebas untuk merasa sedih, dan bebas untuk mencoba lagi menjadi orang baik di penjara nanti. Shishishi!"
Aris mendekati server yang kini sudah mati total. "Kapten, semua data DNA dan penghapus kehendak sudah hilang. Dunia baru saja bangun dari mimpi buruk."
Luffy memutar topi jeraminya, menatap ke langit-langit seolah bisa melihat menembus ke permukaan LogueTown. "Ayo pergi. Aku mencium bau daging dari kedai di atas sana. Dan kali ini, aku akan membayarnya dengan uang, bukan dengan pukulan!"
Kru Topi Jerami dan Aris yang berjalan keluar dari bawah platform eksekusi, menuju hiruk pikuk kota yang kini benar-benar hidup kembali dengan segala kekacauannya yang indah.
