LightReader

Chapter 2 - Bab 1 – Resonansi Takdir

Di daratan tengah, tiga sekte berdiri seperti pilar yang menopang langit:

苍穹山阁 – Paviliun Langit Biru

Tempat para pendekar pedang yang menjaga batas langit. Di pimpin oleh keluarga Jiang — Jiang Li sang tetua agung

雲渊宗 – Sekte Lembah Awan Dalam

Rumah bagi para tabib dan kultivator spiritual. Di pimpin oleh keluarga Tang — Tang Yanjun

烈阳武府 – Istana Martial Matahari Menyala

Benteng para pejuang manusia yang mengendalikan api matahari. Di pimpin oleh keluarga Song — Song Yuandao

Tiga sekte ini adalah pagar dunia—penjaga keseimbangan yang tidak pernah dikenal oleh manusia biasa.

Namun dunia tidak selalu setenang ini.

Ribuan tahun lalu, langit pernah berubah merah darah.

Perang Tiga Ras—manusia, siluman, dan iblis—menghancurkan gunung, meruntuhkan lembah, dan mengubah sungai menjadi kuburan.

Tidak ada pemenang. Semua kalah… termasuk dunia itu sendiri.

Dan dari sisa-sisa kehancuran itu, lahirlah takdir baru yang tidak disadari siapa pun.

*Kelahiran yang Mengguncang Langit

Jiang Jiuyue— Satu-satunya putri sang tetua agung 'Jiang Li', di malam saat ia lahir, langit di Paviliun Langit Biru tidak tampak seperti langit manusia.

Awan bergulung—bukan putih, bukan hitam—melainkan perak pucat, berputar cepat seperti pusaran qi yang kehilangan kendali.

Angin berdesir, namun bukan angin biasa.

Setiap tiupan membawa desakan energi yang membuat para tetua sekte membuka mata dari meditasi mereka.

"Ini… resonansi langit?"

"Tidak mungkin. Fenomena sekuat ini hanya terjadi jika—"

Belum sempat mereka menyelesaikan kalimatnya, suara bayi menangis pecah.

Tangisan itu jernih, namun mengguncang, menyebar seperti gelombang ke seluruh paviliun.

Pada detik yang sama, seluruh formasi perlindungan sekte menyala dengan sendirinya—lapisan demi lapisan, seolah mencoba menahan sesuatu yang ingin bangkit dari dalam.

---

*Di dalam ruang bersalin

Darah mengalir terlalu banyak.

Wajah ibu Jiang Jiu Yue—Nyonya Jiang—pucat seperti kertas.

Peluh dingin membasahi pelipisnya, namun matanya tetap terbuka, menatap bayi mungil yang baru diletakkan di pelukannya.

"Yue'er…" suaranya lemah. "Maafkan Ibu… Ibu tak bisa menemanimu tumbuh besar…"

Tetua Paviliun menggigit bibirnya, mencoba menghentikan aliran spiritual yang liar dari tubuh sang bayi.

Qi kecil Jiu Yue tidak seperti manusia—ia berputar, berdenyut, lalu mengembang seperti sayap cahaya.

"Pav—Paviliun tak akan mampu menahan ledakannya jika ini terus berlanjut!"

"Tetap tahan! Jangan biarkan energi itu bocor keluar!"

Nyonya Jiang tersenyum tipis untuk terakhir kalinya.

Tangannya yang gemetar membelai pipi bayi itu.

"Yue'er… kau akan membawa cahaya untuk seseorang suatu hari nanti…"

Dan napasnya berhenti.

*Di Kedalaman Dunia Iblis

Di tempat yang cahaya bahkan tidak berani menyentuhnya, sebuah kegelapan purba terbaring diam seperti mayat raksasa.

Itulah Mo Tian Yan, iblis kuno yang tertidur sejak Perang Tiga Ras berakhir.

Tubuhnya tidak bergerak.

Namun ketika Jiang Jiu Yue lahir—pada detik cahaya itu menembus langit—

mata Mo Tian Yan tiba-tiba terbuka.

Bara merah menyala di dalam pupilnya.

"…Ini… resonansi jiwa?"

Ia bangkit perlahan, tubuhnya memancarkan aura dingin yang mengguncang dasar dunia.

Udara seolah tercekik, batu-batu meretakkan diri, dan api hitam di sekelilingnya meletup seolah menyambut kebangkitannya.

Satu denyut…

dua denyut…

Lalu ia merasakan sesuatu yang membuat napas iblis purba itu tercekat.

Tiga energi kuno bergetar dalam satu garis lurus.

Satu—cahaya yang baru lahir di dunia manusia.

Dua—kegelapan iblis purba yang terbelenggu.

Tiga—jiwa yang terpecah, tidur dalam reruntuhan sejarah.

"Takdir… akhirnya bergerak lagi."

Mo Tian Yan menutup matanya, mendengar gema yang sangat ia kenali—

gema dari inti jiwa yang pernah ia coba hancurkan… namun gagal —

"Li Ge.." gumamnya.

Seekor Gagak hitam yang selalu berada disekitarnya untuk menunggu perintah,menganggukkan kepala seolah mengerti saat sang tuan menatapnya. Ia segera terbang dengan cepat melewati sebuah retakan kecil yang dibuat Tuannya dengan mengorbankan separuh energinya untuk mencari tahu informasi yang ada di dunia luar.

Gagak itu dengan cepat melesat dan tak menunggu waktu lama untuk segera bertengger kembali di pundak tuannya seakan membisikkan sesuatu.

Mo Tian Yan tersenyum sinis, dingin dan penuh ancaman.

"Jadi… kau sudah lahir, pembawa cahaya kecil."

---

*Saat kematian menyentuhnya

Cahaya dari Jiu Yue menyentuh dua keberadaan yang seharusnya tidak mungkin terkait:

Mo Tian Yan, iblis purba yang pernah ditakdirkan membawa kehancuran.

Shi Liu, roh pelindung yang jiwanya telah terpecah dan hilang sejak perang.

Satu benar-benar hidup tanpa ikatan.

Satu hidup hanya sepenggal jiwa.

Dan di tengah mereka—lahirlah seorang gadis kecil yang membawa cahaya… serta kutukan.

Tangisan Jiang Jiu Yue berubah.

Meninggi, lalu merendah, lalu… senyap.

Cahaya lembut keluar dari tubuh mungilnya, menyelimuti ibunya yang baru saja berhenti bernapas.

Sejenak—hanya sejenak—wajah Nyonya Jiang terlihat damai, seolah ia tidur tanpa rasa sakit.

Cahaya itu lalu membubung ke langit, menembus atap, dan hilang.

Para tetua terdiam.

"Anak ini… bukan manusia biasa."

"Jika dunia luar mengetahui keberadaannya, tiga ras akan berebut—atau memburunya."

kelahirannya tidak membawa kebahagiaan.

Ibunya mengembuskan napas terakhir tepat setelah menyentuh pipi bayi itu.

Dan tepat setelah itu, qi spiritual meledak dari tubuh Jiu Yue.

Udara bergetar.

Formasi pertahanan aktif sendiri.

Para tetua mundur karena tekanan spiritualnya terlalu murni dan liar.

"Tubuh bayi ini… tidak sanggup menahan kekuatan sebesar ini!"

"Dia akan meledak!"

Gelombang qi mengancam merobek ruangan—

sampai sesuatu datang dari langit.

---

*Pecahan Jiwa yang Tersesat

Di dimensi yang tak terlihat, sebuah cahaya kecil terbang cepat—

salah satu pecahan jiwa Shi Liu, roh pelindung yang jiwanya tercerai-berai ribuan tahun lalu.

Pecahan itu seharusnya kembali ke Pohon Kehancuran, tempat sisa jiwanya tertidur.

Namun sesuatu menariknya… kuat dan dalam.

Tarikan itu berasal dari energi bayi yang baru lahir.

Saat pecahan itu menyentuh bayi itu, semua kekuatan liar langsung mereda.

Energi yang hendak meledak menjadi tenang seolah diselimuti pelukan lembut.

Para tetua terkejut:

"Ada sesuatu masuk ke tubuh bayi ini!"

"Kekuatan yang bisa menekan qi sebesar itu… mustahil milik manusia!"

Bayi mungil itu membuka mata untuk pertama kalinya.

Bening… namun seolah membawa kedalaman yang bukan miliknya.

---

*Didalam Pohon Kehancuran — Shi Liu Terbangun

Jauh di pegunungan terlarang, Pohon Kekacauan—pohon raksasa berakar hitam yang berkilau dengan cahaya ungu—bergetar keras. Di dalam inti pohonnya, Roh Iblis Purba, Shi Liu, membuka mata merah darahnya.

Ia merasakan sesuatu direnggut dari dirinya.

—Pecahan jiwanya.

Pecahan yang seharusnya kembali ke tubuhnya. Pecahan yang ia perlukan untuk mempertahankan usianya yang tersisa.

"Siapa…" suaranya parau, penuh amarah.

"Siapa yang berani… mengambil bagian dari diriku…"

Ketika kesadarannya menyusuri aliran kekacauan, ia menemukan jawabannya.

Bayi.

Manusia.

Seorang bayi perempuan baru lahir yang tidak memiliki hubungan apapun dengannya.

Shi Liu meraung, aura kehancurannya menyapu seluruh lembah.

---

*Kemarahan yang Menghancurkan

Ia mencoba menarik kembali pecahan jiwanya. Mencengkeramnya. Memaksa jiwa yang bukan miliknya itu melepaskan bagian dirinya.

Namun tubuhnya yang rusak tidak mampu menahan tekanan baliknya.

"Keluar… KEMBALIKAN PADAKU!"

*Reaksi Paviliun Langit Biru

Pada saat yang sama, Paviliun Langit Biru bergetar.

Formasi pertahanan memunculkan pola hitam kehijauan.

Awan gelap berkumpul, petir merah menyambar, dan murid-murid roboh ketakutan.

Tetua agung pucat.

"Ini… bukan serangan."

"Ini… kemarahan jiwa kuno."

Tekanan itu jelas tertuju pada satu hal—

bayi yang baru lahir ini.

"Apa yang baru saja masuk ke tubuh Jiang Jiu Yue?

Siapa yang menginginkannya kembali?"

Gelombang kemarahan semakin mendekat seolah mencari sesuatu, hingga tetua agung berseru:

"Segel seluruh Paviliun!

Jangan biarkan makhluk itu menemukan dia!"

Formasi besar menyala, menutup seluruh gunung dalam pelindung emas kebiruan.

Gelombang kekacauan merobek ruang, tetapi justru memantul kembali.

Pecahan itu menolak. Tertanam terlalu dalam di bayi itu, menyatu tanpa celah.

Gelombang kemarahan perlahan padam, tetapi sebelum menghilang, suara samar terdengar mengiris langit:

"…kembalikan…"

Shi Liu terbatuk—kemudian darah hitam pekat mengalir dari bibirnya, memercik ke akar-akar yang menyala ungu.

Tubuh batinnya retak, energi intinya bergetar ganas.

Pohon Kekacauan segera bereaksi.

Akar-akar hitam-merah melingkupi tubuh Shi Liu, menahan amarahnya yang meledak-ledak, memaksa kestabilan kembali.

"Tenang… atau kau akan mati."

Begitulah bisik Jiwa Pohon itu, suara yang hanya bisa didengar Shi Liu.

Namun Shi Liu hanya mengepal tangan, gemetar, penuh kemarahan tak berdaya.

"Pecahan jiwa itu… bukan hanya kekuatanku. Itu usia hidupku… Tanpanya aku hanya punya… beberapa puluh tahun lagi…"

Pohon Kekacauan menenangkan retakan energi di inti batinnya, tetapi tidak dapat mengembalikan apa yang telah hilang.

Shi Liu memejam, tatapannya gelap dan penuh dendam.

"Akan ada hari… dia kembali kepadaku. Siapapun yang mengambil bagian dariku… akan kupaksa berlutut."

*Momen Menyatu

Tubuh mungil Jiu Yue tiba-tiba berhenti menangis.

Cahaya di sekelilingnya mengecil.

Gelombang qi yang menghancurkan perlahan mereda seolah tertelan dalam pelukan sesuatu yang hangat dan damai.

Para tetua terpaku.

Formasi yang tadinya terbentuk sendiri mulai memudar.

"Kekuatan liar itu… menghilang?"

"Tidak, bukan menghilang. Ada sesuatu yang menekannya."

"Apa yang masuk ke tubuh bayi ini?!"

Mereka tidak bisa melihat pecahan jiwa itu—

tapi mereka bisa merasakan kehadiran lembut yang menenangkan, melindungi, seperti tangan hangat yang menutupi badai.

Jiang Jiu Yue membuka mata untuk pertama kalinya.

Sepasang mata bening… namun kedalamannya seolah membawa bayangan seseorang yang sangat jauh.

Takdir yang Terjalin

Jiang Jiuyue tidur pulas di paviliun, tubuh mungilnya memancarkan cahaya lembut.

Tidak ada yang tahu bahwa salah satu pecahan jiwa iblis purba bersemayam di dalam tubuhnya—menekan luapan spiritualnya, melindunginya dari ledakan energi, tetapi sekaligus menautkan hidupnya dengan takdir kegelapan.

Di kejauhan, jauh dari dunia manusia, Shi Liu membuka mata merahnya yang kembali meredup.

"Bertahanlah… Sampai aku menemukanmu."

Lalu seluruh lembah kembali sunyi.

Hanya Pohon Kekacauan yang terus berdenyut pelan, seakan menghitung sisa waktu milik iblis purba yang sudah tidak banyak.

*Dunia Iblis: Reaksi Mo Tian Yan

Di kedalaman kegelapan, Mo Tian Yan menyeringai saat ia merasakan pecahan jiwa itu menyimpang.

"Menarik."

"Pecahan Shi Liu… masuk ke manusia itu."

Ia tertawa pelan, dingin seperti besi yang belum ditempa.

"Takdir memang suka bermain kotor."

Tatapannya menembus batas dunia, seakan ia bisa melihat bayi kecil di Paviliun.

"Kalau begitu… aku harus bertemu bayi itu suatu hari nanti."

*Keputusan Berat

Setelah guncangan berhenti, para tetua berkumpul.

"Kemarahan sebesar itu… bayi ini mungkin membawa bencana."

"Kita harus menyembunyikannya, atau—"

Tetua agung Jiang Li memotong, suaranya tegas:

"Kita lindungi dia.

Apapun yang terjadi."

Tapi dalam hatinya ia tahu satu hal: Musuh utama putrinya…

bukan iblis.

Bukan siluman.

Bukan manusia.

Melainkan makhluk kuno yang kehilangan bagian jiwanya sendiri.

Dan hubungan ini…

baru saja dimulai.

More Chapters