LightReader

Chapter 17 - Harga Mengetahui Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya

Ia tak pernah benar-benar tahu sejak kapan rantai itu mulai melilit dirinya.

Mungkin sejak hari pertama ia terluka, saat ejekan dan kekalahan menumpuk satu per satu di hatinya. Ia tumbuh dengan suara-suara yang memenjarakannya:

"Kalau cuma segitu, kamu nggak ada gunanya." "Kamu hanya beban." "Diam saja."

Dan perlahan, ia mempercayai semuanya.

Ia hidup seperti bayangan, ada, namun tak pernah utuh.

Namun malam ini berbeda.

Ketika Zinnia mengetuk meja dengan jarinya dan Radit mengembuskan napas kasar, kerut di wajahnya melunak, Kaivan merasakan sesuatu… hidup.

Untuk pertama kalinya setelah waktu yang terasa begitu lama, ia benar-benar dilihat, bukan sebagai alat, bukan sebagai korban, melainkan sebagai seseorang yang memiliki suara.

Ia menunduk, menatap kedua tangannya.

Rantai itu… telah menghilang.

Yang ia rasakan bukan lagi dinginnya baja yang menyeretnya ke dasar, melainkan hangatnya daging dan darah. Kebebasan.

Rantai itu telah patah…

Ia tak mengucapkannya dengan suara keras, namun hatinya tahu. Luka itu masih ada, namun tak lagi menahannya. Trauma itu belum sepenuhnya sembuh, tetapi ia tak lagi mengatur setiap langkahnya.

Dan tiba-tiba, dunia terasa sedikit lebih luas, sedikit lebih hangat.

Kaivan meraih tas di samping kursinya dan meletakkannya hati-hati di atas meja. Dari dalam, ia mengeluarkan setumpuk catatan, diagram, serta beberapa ponsel lama yang tampak usang. Ia menyusunnya di tengah meja, tepat di antara Radit dan Zinnia.

"Aku menemukan ini di pasar barang bekas," jelasnya sambil mengetuk ringan salah satu ponsel. Tatapannya mantap, tak goyah. "Di dalamnya ada komponen yang bisa kita ambil. Kita bisa melelehkannya dan mendapatkan emas dari ponsel-ponsel bekas ini."

Zinnia mengernyit, condong ke depan untuk mengamati lebih dekat. Jemarinya yang ramping menyentuh layar yang sudah tergores usia. "Dan bagaimana tepatnya ini bisa menghasilkan keuntungan besar?" tanyanya, nada curiganya menajam.

Radit menyandarkan tubuhnya ke kursi, kedua lengan terlipat di dada. Raut skeptis membayang di wajahnya. "Kamu yakin ada emas sungguhan di benda-benda beginian?" ucapnya, setengah mengejek.

Kaivan mengangguk tenang. Ia kembali merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah kantong plastik kecil berisi serpihan keemasan yang berkilau samar di bawah lampu kafe. "Tentu saja ada," katanya sambil meletakkannya di atas meja. "Ini hasil dari proses yang sama sebelumnya."

Mata Radit menyipit saat menatap butiran berkilau itu, seolah berusaha menyingkap kemungkinan tipu daya. "Kamu bilang ini emas asli, bukan kuningan, bukan logam rongsokan?"

"Kalau kita bisa menyempurnakan prosesnya dan punya peralatan yang tepat, ini bisa jadi usaha yang sangat menguntungkan," jawab Kaivan, suaranya tenang namun penuh perhitungan.

Radit mengangguk pelan, meski sisa keraguan masih terlihat. Ia meraih kantong itu dan mengamatinya lebih dekat. "Kalau ini benar emas, aku ikut. Tapi aku tetap butuh bukti yang lebih kuat."

Saat itulah Zinnia, yang sejak tadi hanya mendengarkan dalam diam, akhirnya berbicara. Suaranya memotong udara, sarat bobot. Ia bersandar, kedua lengan terlipat di dada. "Lalu bagaimana kita menjual emasnya nanti? Bukankah prosesnya rumit?" Nada bicaranya menyeimbangkan skeptisisme dan rasa ingin tahu yang mulai tumbuh.

Kaivan menatapnya lurus, lalu mengangguk kecil. Ia menarik napas pelan, menyandarkan punggung ke kursi seakan meneguhkan diri. "Itu bagian dari tantangannya," akunya, suara rendah namun tegas. "Tapi aku sudah riset. Ada banyak pembeli kecil. Toko-toko yang biasanya buka di samping toko emas, dengan tulisan 'Terima Emas Harga Tinggi'. Mereka menerima batangan, serpihan, bahkan emas rongsokan. Kalau kita cerdas, kita bisa menjualnya tanpa menarik perhatian."

Radit, yang duduk tepat di seberang Kaivan, sedikit memiringkan kursinya ke belakang, tangannya mengusap dagu dengan serius. "Menggiurkan," gumamnya, lalu menatap Kaivan dengan sorot yang lebih tajam. "Tapi bagaimana kita mendapatkan pasokan ponsel bekas yang stabil, murah dan dalam jumlah besar?"

Pertanyaan itu terasa seperti tantangan yang dilemparkan tepat di tengah meja.

Kaivan condong ke depan. Suaranya kini lebih kokoh, tak lagi bergetar. "Aku sudah memikirkannya," ujarnya, keyakinan tak tergoyahkan memenuhi ruang di antara mereka.

"Di Bandung, Jalan Sukabumi nomor 30, gedung Balai Kota sering membuang limbah elektronik. Lalu di Majalengka, ada PT TLI yang menangani pengolahan limbah berbahaya. Tempat-tempat itu bisa jadi sumber utama kita. Yang kita butuhkan hanya koneksi yang tepat," jelas Kaivan.

Zinnia sedikit memiringkan kepala, rambutnya bergoyang mengikuti gerakan itu. Matanya berkilat oleh rasa ingin tahu yang semakin besar. "Dan dari mana kamu tahu semua ini?" tanyanya lembut, namun tetap menyimpan kecurigaan.

Kaivan hanya membalas dengan senyum tipis, pandangannya sejenak beralih ke arah jendela. Ia tahu kebenarannya, bahwa semua informasi ini berasal dari Tome Omnicent, adalah kotak Pandora yang belum siap ia buka. "Aku punya kenalan yang bekerja di sana," jawabnya singkat, cukup untuk meredakan rasa ingin tahu mereka.

Radit, yang sejak tadi gelisah, akhirnya menegakkan tubuh. Telapak tangannya menghantam meja, membuat cangkir kopi bergetar. "Baiklah," katanya, nadanya kini lebih bersemangat.

Zinnia ikut condong ke depan, kedua tangannya menekan meja sebagai penegasan keseriusan. "Kaivan, ini bukan rencana kecil. Kita butuh kendaraan, dan bukan yang kecil. Kamu punya solusinya?"

"Aku akan cari orang yang punya mobil dan mau bekerja sama," jawab Kaivan mantap. "Banyak anak seusia kita yang punya mobil. Aku yakin kita bisa mengajak beberapa, meski hanya sementara."

Kepercayaan diri meresap ke dalam kata-katanya, dan perlahan, Zinnia serta Radit mulai merasakan keyakinan yang sama.

Saat Kaivan pulang ke rumah, seperti biasa, ibunya menyambutnya dengan senyum hangat dan mata penuh kasih. Wajah itu dihiasi garis-garis lembut akibat kerasnya hidup, namun justru memperlihatkan ketegarannya. Sejak ayahnya meninggal, dialah satu-satunya yang selalu ada, bekerja tanpa lelah, membesarkannya seorang diri, memberi perlindungan dan pendidikan.

"Bagaimana harimu, Kaivan? Dari mana saja?" tanyanya lembut sambil meletakkan secangkir teh hangat di atas meja. Suaranya bagai melodi yang menenangkan, memotong hiruk-pikuk dunia luar.

Kaivan tersenyum kecil, menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan helaan napas lega. "Aku bertemu Radit dan Zinnia, Mom. Kami membicarakan rencana bisnis yang ingin kami mulai." Nada suaranya menyimpan kilau semangat yang tak bisa disembunyikan.

Tatapan ibunya melunak oleh rasa bangga, meski di balik senyum itu terselip kekhawatiran. Ia tahu jalan yang dipilih putranya takkan mudah. "Masih sekolah, tapi sudah memikirkan bisnis? Rencana apa itu?"

Menyandarkan punggung ke sofa, Kaivan menatap langit-langit. "Kami ingin memulai usaha membongkar ponsel bekas dan menjual komponennya." Ia terdiam sejenak, lalu berkata pelan, "Tapi… rasanya masih ada yang kurang. Aku harus mencari cara agar ini bisa berkembang lebih cepat."

Tangan ibunya bertumpu lembut di bahunya, kehangatannya mengalir melalui sentuhan itu. "Apa pun yang kamu lakukan, berhati-hatilah. Dunia ini penuh kejutan, Kaivan. Dan tidak semua kejutan itu ramah."

Setelah berbincang cukup lama, Kaivan melangkah ke balkon. Di atasnya terbentang langit malam, bintang-bintang berkilau bagai berlian yang tercecer di atas kain gelap. Angin lembut menyapu rambutnya saat ia duduk di kursi rotan, menatap hamparan langit.

Di pangkuannya tergeletak Tome Omnicent, buku yang menjadi sumber dari semua jawabannya. Halamannya yang kristalin berkilau samar, memancarkan pesan dari dunia lain:

"Setelah mencapai 650 juta rupiah, hentikan pembongkaran ponsel dan lanjutkan ke tahap berikutnya. Beli Bitcoin mulai 10 Februari 2010."

Mata Kaivan membelalak, menyapu barisan kalimat bercahaya itu dengan tak percaya. "Apa maksudnya ini…?" suaranya bergetar, nyaris tak terdengar.

Lalu, Tome Omnicent kembali berbicara. Suaranya lembut sekaligus menggema, seperti bisikan angin tengah malam, menenangkan, namun menghantui.

"Aku bisa membantumu mempertahankan pengetahuan ini dengan sempurna, dengan memperluas kapasitas otakmu."

Kaivan membeku. Detak jantungnya berpacu. Tawaran itu terdengar seperti tali penyelamat, namun berdenyut dengan bahaya.

Ia menelan ludah, lalu mengangguk tipis.

More Chapters