LightReader

Chapter 2 - Bab 2 Menghajar preman

Dengan tubuh yang masih gemetar karena ketakutan, nenek itu pun menceritakan kejadian yang menimpanya. Andini yang merasa kasihan menenangkan nenek tersebut.

"Nenek tenang aja ya, tidak akan terjadi apa-apa kok."

"I-iya neng." Ntah kenapa nenek itu begitu yakin untuk meminta tolong pada Andini, padahal Andini hanya seorang gadis. Namun ia sangat yakin bahwa gadis yang ia mintai tolong akan mampu membantunya keluar dari masalah.

Andini mengedarkan pandangannya ke arah Alisa yang juga penasaran dengan sosok orang yang membuat nenek tua di dekatnya takut. Tak berselang lama, muncul tiga lelaki berbadan kekar dengan tato masing-masing di tubuhnya, yang semakin menambah kesan sangar dari wajah ketiganya hub nih.

"Oh, jadi ini orangnya yang selalu memalak para pedagang," ucap Andini dengan tangan berkacak pinggang, kemudian menunjuk ke arah ketiga lelaki tersebut.

"Minggir bocah! Atau kami akan menghajarmu dan menggilirimu," ucap salah seorang lelaki sambil menatap Andini dan Alisa dengan tatapan remeh.

"Coba aja kalau bisa," jawab Andini lalu menjulurkan lidahnya meledek.

Ketiga lelaki yang tak lain adalah preman pasar yang kesabarannya setipis kertas tisu, langsung menyerang Andini dan Alisa dengan serangan membabi buta. Namun serangan itu selalu mudah ditepis oleh keduanya.

Tak butuh waktu lama, Andini berhasil merobohkan dua preman sekaligus dengan tendangan memutar. Begitu pula Alisa yang telah mengalahkan lawannya sendiri.

"Hiyaaa....buk...buk...!"

"Aaaaaargh...aaaargh...!"

Setelah berhasil bangkit, salah satu preman kembali menyerang Andini. Kali ini ia mengeluarkan senjatanya dan mengayunkannya ke arah gadis itu.

Namun Andini yang selalu waspada langsung berkelit ke samping lalu menangkis tangan lelaki itu hingga senjata yang dipegangnya terlepas.

Tanpa membuang waktu, Andini mencengkram tangan preman tersebut lalu memlintirnya hingga terdengar bunyi tulang patah.

"Kraaak...!"

"Aaaaaaakh... Ampun...!"

Kedua preman lainnya pun melongo. Mereka tak menyangka, gadis kecil yang mereka sepelekan ternyata memiliki kekuatan yang tidak main-main hingga membuat mereka menderita.

"Apa kalian berdua juga ingin ku patahkan tangannya...?" hardik Andini ke arah dua preman yang masih mengerang kesakitan.

"Ti-tidak neng, ampun," ucap keduanya sambil memohon.

"Awas saja, jika kalian masih mengganggu nenek ini, kuhabisi kalian bertiga!" ucap Andini, lalu menjulurkan lidahnya menyebalkan. Ia kemudian berbalik ke arah nenek itu, "Nek, saya harus pulang sekarang. Ada acara tahlilan di rumah, saya harus memasak."

"Oh, iya Neng. Terima kasih banyak ya," ucap nenek sambil mengangguk dengan senyum lega.

Andini dan Alisa segera meninggalkan pasar. Mereka tahu bahwa preman-preman itu tidak akan berani berbuat nakal lagi. Andini memang harus segera pulang, namun ia lega karena telah melindungi nenek itu dan memberikan pelajaran bagi para preman tersebut. Dalam perjalanan pulang, ia sudah membayangkan masakan apa yang akan dibuat untuk acara tahlilan —

Andini memacu motor matic-nya agak serampangan. Alisa di belakang pegangan erat-erat ke jaket jin Andini yang baunya sudah campur aduk antara keringat dan bumbu dapur.

"Ndin, pelan-pelan! Ini telur bisa jadi martabak di kresek kalau kamu begini terus!" teriak Alisa di telinganya.

Andini cuma mendengus. "Biar cepet, Lis.

Mereka akhirnya sampai di halaman rumah yang sudah dipasang tenda darurat. Bau kemenyan tipis sisa tadi siang masih terasa, bercampur bau tanah basah. Andini turun, kakinya sedikit gemetar. Dia melihat ibunya, Bu Savia, sedang duduk di teras sambil melamun menatap orang-orang yang berjalan lalu lalang.

"Bu, ini belanjaannya," kata Andini pelan. Suaranya agak serak. Dia nggak mau kelihatan habis nangis, jadi dia sengaja sibuk nurunin kantong plastik hitam yang beratnya minta ampun.

"Taruh di dapur, Ndin. Langsung bantu bibi-bibimu potong bawang," jawab ibunya tanpa menoleh. Suaranya datar. Kosong.

Andini masuk ke dapur yang sumpek. Aroma bawang merah mulai menusuk mata. Di sela-sela memotong daging ayam yang liat, pikirannya melantur ke

mana-mana. Soal uang tabungan yang makin tipis, soal atap dapur yang mulai bocor kalau hujan gede.

"Ndin, itu motongnya kegedean. Emang mau kasih makan raksasa?" tegur salah satu bibinya.

Andini tersentak. Dia melihat potongan ayam di depannya memang berantakan. "Eh, iya Bi. Maaf. Tadi kepikiran preman di pasar tadi."

"Preman? Kamu berantem lagi?" Ibunya tiba-tiba muncul di pintu dapur.

Andini meringis, berusaha masang muka tengil andalannya. "Ya gitu deh, Bu. Habisnya mereka ganggu nenek-nenek. Kan nggak asik kalau Andini diemin. Sayang ilmu dari Aki kalau cuma buat motong ayam."

Bu Savia menghela napas panjang. "Ilmu Aki itu buat jaga diri, bukan buat cari musuh. Ibu nggak mau kamu kenapa-kenapa, apalagi sekarang Aki udah nggak ada."

Andini terdiam. Dia menusukkan pisau ke talenan kayu yang sudah cekung di tengahnya.

Malamnya, rumah penuh sesak. Suara tahlil bergema. Andini duduk di pojokan dekat pintu, memilin ujung mukenanya yang sudah agak kekuningan karena sering dipakai. Dia melihat foto Aki yang dipajang di dekat kotak amal. Aki tersenyum tipis di sana.

Setelah tahlilan selesai dan orang-orang pulang, Andini membereskan gelas-gelas kopi di ruang tengah. Bau puntung rokok di asbak masih menyengat, membuatnya sedikit mual. Ibunya datang sambil menepuk pelan bahunya.

"Ndin, sudah ah. Besok aja beresinnya. Kamu capek dari tadi," kata ibunya.

"Ah, teu nanaon, Bu. Tinggal sedikit kok," jawab Andini.

Ibunya melihat tangan Andini yang kemerahan. "Tuh atuh… tangan sampe perih gitu. Sok kerja wae, ti isuk-isuk."

Andini tersenyum canggung. "Namanya juga bantu, Bu."

Suasana rumah terasa lebih sunyi setelah para tetangga pulang. Ibunya duduk di kursi, merapikan kerudungnya yang agak miring.

"Ndin…" panggil ibunya pelan. "Akhir-akhir ini kamu kayak banyak pikiran. Aya naon?"

Andini terdiam sebentar. "Enggak kok, Bu."

Ibunya menggeleng halus. "Euh, Ibu mah apal. Kamu tuh kalau mikir suka diem bae."

Andini akhirnya duduk di samping ibunya. "Tadi di pasar, Alisa bilang temennya di Bandung lagi butuh orang buat kerja. Andini cuma… kepikiran aja."

Ibunya mengangguk pelan. "Heeh… Bandung, nya. Kota gede. Tapi sekarang mah masih suasana duka, Ndin. Ngobrol soal itu nanti aja. Tenangin dulu hatimu."

"Iya, Bu. Andini cuma pengen bantu-bantu keluarga, itu aja."

Ibunya menepuk lembut tangan Andini.

"Ibu ngerti. Tapi ulah kaburu mutuskeun. Pelan-pelan aja, nya."

Andini tersenyum tipis. "Heeh, Bu."

Malam itu percakapan berhenti sampai di situ. Andini masuk kamar dan mencoba tidur, meskipun pikirannya masih berkeliaran ke Bandung, ke Aki, dan ke hari-hari yang menunggunya.

Tapi melihat rumahnya yang makin tua, dia tahu dia nggak punya pilihan.

Malam itu, dia susah tidur. Dia bolak-balik di atas kasur kapuknya yang sudah keras. Pikirannya meloncat dari wajah preman pasar yang ketakutan, ke wajah Aki yang sujud, lalu ke bayangan gedung-gedung tinggi yang sering dia lihat di TV.

Dia bangun, berjalan ke lemari kecilnya. Di bawah tumpukan baju, dia mengambil sebuah bungkusan kain jarik tua. Di dalamnya ada sebuah foto tua yang sudah agak pudar. Foto ayahnya. Aki selalu bilang ayahnya sudah meninggal lama, tapi ibu nggak pernah mau bahas soal itu. Di belakang foto itu ada tulisan Mandarin kecil yang dia nggak paham artinya.

'

"Apa iya ini foto Ayah ku, kalo iya, kemana dia?'

Andini mendengus, menyimpan kembali foto itu. Ah, nggak mungkin. Kalo iya, Paling juga udah jadi tanah.

More Chapters