LightReader

Chapter 4 - Dicegat rampok

Sore itu, Alisa datang ke rumah Andini sambil membawa map biru dan beberapa lembar dokumen. Motor matik butut Andin terparkir miring di depan teras, masih berdebu karena jarang dipakai jauh-jauh.

"Lis, kamu jadi fotokopi berkas sekarang?" tanya Andini sambil menutup pagar kecil rumahnya.

"Jadi lah," jawab Alisa. "Besok lamarannya mau aku kumpulin. KTP sama KK juga sekalian. Kamu ikut, kan? Aku males sendirian."

"Ya ikut lah. Aku juga butuh beli karet gelang buat emak," sahut Andin santai.

Elisa mengangguk. "Lewat jalan bawah ya? Yang lewat jati itu. Biar cepat."

Andini langsung nyaut, tanpa ekspresi berubah. "Iya, paling cuma tiga puluh menit ke kota kecamatan. Kalau muter atas kelamaan."

Alisa menepuk jok motor Andin yang sudah mulai keras. "Motor kamu kuat kan?"

Andini nyengir. "Kuat lah. Kalau nggak kuat juga kita dorong rame-rame."

Mereka tertawa kecil, lalu berangkat.

Tidak ada ketegangan berlebihan, hanya obrolan ringan seperti biasa.

Begitu melewati gerbang desa, jalan mulai menyempit. Di kiri-kanannya berdiri deretan pohon jati yang daunnya lebar dan menjulang. Cahaya sore masuk di sela-sela batangnya, membuat jalan terlihat adem.

Memang sepi, tapi tidak ada aura menyeramkan apa-apa.

Orang desa juga kadang lewat sini kalau buru-buru ke kota kecamatan.

Alisa memegang mapnya erat agar tidak tertiup angin. "Din, abis ini kita langsung fotokopi dulu ya. Soalnya tempatnya suka ramai kalau sore."

"Siap. Kamu bawa uang pas?"

"Bawa. Cuma takut kurang."

"Kalau kurang, bilang. Aku bayarin dulu."

Alisa tersenyum kecil. "Ih, baik banget."

"Bukan baik. Males kalau harus balik lagi."

Lagi-lagi mereka tertawa. Nothing serious.

Namun setengah jalan masuk hutan jati, Andini melambatkan motor—bukan karena takut, hanya karena ada empat motor tua terparkir miring di pinggir jalan.

Empat laki-laki duduk di atasnya, seperti sedang nongkrong.

Alisa melirik sekilas. "Orang sini?"

"Kayaknya bukan," jawab Andin pendek.

Mereka tidak langsung panik.

Tidak ada drama.

Hanya kewaspadaan normal seorang perempuan yang lewat jalan sepi.

Salah satu laki-laki berdiri, menghampiri sambil mengangkat tangan, seolah menyuruh berhenti.

Andini mendesis pelan. "Lis… pegangin barangmu. Kalau mereka minta motor, kita usahakan kabur dulu."

Alisa mengangguk, wajahnya bukan ketakutan—lebih ke siap siaga. Latihan bertahun-tahun bikin mereka tidak gampang gemetar.

Motor berhenti perlahan, dan salah satu laki-laki itu menyeringai—

Empat preman berdiri menutup jalan setapak di tengah hutan jati.

Yang paling depan menepuk-nepuk golok ke pinggang motor Andin.

Preman 1 maju duluan, mukanya masam.

"Turun. Serahin motormu!"

Andin turun, Alisa ikut turun.

Tak ada banyak bicara.

Preman 2 melangkah cepat, langsung narik kerah baju Andin.

Andin menggeser kaki sedikit—cukup untuk membuat pegangan itu hilang.

Sikutnya menghantam lengan preman itu.

BRAK!

Preman itu jatuh terjengkang.

Preman 3 kesal, tanpa aba-aba langsung mengayunkan golok ke punggung Andin.

Ayunannya keras, sampai terdengar dentang logam.

Preman itu mematung.

Goloknya melengkung ke atas, ujungnya bengkok tak wajar.

Suara napasnya tersengal.

Dia melotot.

"Ap— apaan…"

Andin cuma menoleh pelan. Tanpa wajah tegang. Tanpa takut.

Reaksinya datar banget, kayak kena daun.

Preman itu mundur dua langkah, hampir jatuh sendiri.

Alisa menangani dua preman lainnya.

Satu mencoba menyambar rambutnya, Alisa menarik tangannya dan memutar tubuh, menghantam dada preman itu dengan lutut.

Yang satu lagi mencoba menusuk dari samping, tapi Alisa membanting lengannya ke tanah dan memitingnya sampai pria itu menjerit.

Preman yang goloknya melengkung melempar senjatanya, lalu kabur sambil teriak putus-putus,

"K- Kabur ....! Ayo cepat kabur!"

Keempatnya nyaris berebut kabur ke dalam hutan, tak peduli ilalang tinggi menggores kaki.

Andin menepuk punggung bajunya, mengibaskan debu tipis.

"Alisa… beres?"

Alisa menarik napas.

"Beres. Tuh orang kabur semua, t-tapi ... Punggungmu kenapa, bajumu sobek?."

Andin mengangguk.

"Ya, cuma kesrempet golok, tapi nggak apa kok." Jawabnya beralibi Agar Alisa tak curiga.

Alisa hanya ber- oh saja meski dalam hatinya masih tak yakin. Setelah Andini memakai baju rangkap untuk menutupi bagian punggungnya yang robek, Andini memacu motor matic-nya kembali, sementara Alisa duduk di boncengan belakang sambil memegang erat map berisi berkas.

Mereka membelah jalanan hutan jati yang sunyi hingga akhirnya gapura kota kecamatan terlihat di depan mata. Suasana di sini jauh lebih ramai; deru mesin kendaraan dan teriakan pedagang mulai menggantikan suara jangkrik tadi.

​Keduanya langsung menuju ke sebuah kios fotokopi di pojok pertigaan. Andin memarkirkan motornya dengan cekatan. Alisa turun duluan sambil menepuk-nepuk mapnya, dia harus segera memfotokopi berkas lamaran kerja, KTP, dan KK sebelum hari makin sore. Andin mengekor di belakang, sekadar menemani sahabatnya itu.

​Saat melangkah masuk, aroma kertas dan mesin pemanas menyambut mereka. Di balik mesin besar yang sedang sibuk mendengung, seorang pria mendongak.

​"Lho, Andin? Alisa? Kamana wae atuh, nembe katingal?" sapa pria itu dengan senyum lebar.

​Andin dan Alisa kompak melongo. Pria yang berdiri di sana cuma pakai kaus santai, wajahnya bersih dengan senyum yang akrab banget di ingatan mereka.

​"Wah, Dimas?! Maneh jaga fotokopi sekarang?" seru Alisa heboh.

​"Bantu-bantu punya paman, Lis. Daripada ngajogrog wae di imah, lieur," jawab Dimas sambil terkekeh. Pria itu memang sudah tampan dari zaman SMA, dan sekarang kelihatan jauh lebih dewasa.

​Ketiganya langsung ngobrol seru. Alisa sibuk mengeluarkan berkas-berkasnya dari map.

"Nih Dim, fotokopi masing-masing lima rangkap nya. Hampura yeuh ngariripuh," kata Alisa sambil menyerahkan tumpukan kertas itu.

​"Kalem weh Lis, jiga ka saha wae atuh," balas Dimas. Tangannya sibuk bekerja, tapi matanya lebih sering mencuri pandang ke arah Andin yang berdiri santai di samping Alisa. Dimas sesekali melontarkan candaan kecil yang membuat Andin tersenyum tipis—hal yang jarang terjadi setelah duka menyelimuti rumahnya.

​Namun, di seberang jalan, di bawah pohon beringin tua, sebuah motor berhenti. Raka duduk di sana, tangannya mencengkeram stang motor sampai buku jarinya memutih. Matanya tak lepas menatap ke arah kios fotokopi itu.

​Dari kejauhan, Raka bisa melihat betapa dekatnya Andin sama cowok itu. Rahangnya mengeras.

Ada rasa panas yang membakar dadanya—cemburu buta, meski dia sadar betul nggak punya hak buat itu. Dia cuma bisa mencintai Andin dalam diam, menjaganya dari jauh, dan sekarang melihat Andin tersenyum karena cowok lain rasanya lebih sakit daripada dihantam kapas sekarung.

​Raka membuang muka sesaat, mengatur napasnya yang sesak, tapi matanya balik lagi menatap ke dalam kios. Dia tetap diam di sana, memperhatikan dalam sunyi dengan raut muka yang sangat terbakar cemburu.

More Chapters