[Fan TL oleh fans yang kurang kerjaan. Hak cipta tetap milik penulis & penerbit asli. Ini cuma buat hiburan. Kalau ada rilis resmi, please dukung yang itu.]
Sebelum Mo Ran naik takhta menjadi kaisar, orang-orang selalu memanggilnya anjing. Penduduk desa menyebutnya anjing jalanan sialan, sepupunya memanggilnya anjing goblok, dan perempuan yang menampungnya paling kejam dari semuanya—ia menyebut Mo Ran anak anjing betina.
Tentu saja, ada juga kiasan-kiasan bertema anjing yang tidak sepenuhnya bernada hinaan. Misalnya, para pasangan semalamnya sering mengomel dengan nada manja yang dibuat-buat, mengeluhkan bahwa stamina Mo Ran di ranjang seperti anjing alfa. Kata-katanya memang manis dan menggoda, tapi senjata di selangkangannya cukup mematikan sampai-sampai mereka merasa seperti mau kehilangan nyawa. Namun setelah semuanya berakhir, mereka justru berbalik membual soal hal yang sama, sampai seluruh distrik pelacuran tahu bahwa Mo Weiyu ini bukan cuma tampan, tapi juga jago di ranjang. Semua yang pernah merasakan dirinya pulang dengan puas, sementara yang belum kebagian cuma bisa tergiur setengah mati.
Harus diakui, semua julukan itu memang tepat sasaran. Mo Ran memang benar-benar seperti anjing tolol yang terus mengibas-ngibaskan ekornya.
Baru setelah ia menjadi kaisar dunia kultivasi, semua sebutan itu lenyap seketika.
Suatu hari, sebuah sekte kecil dari negeri jauh mempersembahkan hadiah kepada Mo Ran: seekor anak anjing.
Anak anjing itu berbulu putih keabu-abuan, dengan tanda berbentuk api di dahinya, agak mirip serigala. Namun tubuhnya hanya sebesar melon, dan kepintarannya pun tampak setara—gembul, bulat, dan terlihat bodoh. Meski begitu, ia sepertinya menganggap dirinya makhluk yang sangat perkasa, berlari ke sana kemari di aula agung tanpa peduli apa pun. Beberapa kali, ia mencoba mengintip sosok tenang dan tak terusik di atas singgasana, bahkan berusaha memanjat anak tangga yang tinggi—namun kakinya terlalu pendek. Setelah jatuh berkali-kali, akhirnya ia menyerah.
Mo Ran menatap bola bulu yang lincah namun tampak tak berotak itu cukup lama, sebelum tiba-tiba tertawa dan memanggilnya anjing sialan.
Anak anjing itu tumbuh menjadi anjing besar, anjing besar itu menjadi anjing tua, dan pada akhirnya, anjing tua itu menjadi bangkai.
Mo Ran menutup matanya, lalu membukanya kembali. Hidupnya—yang penuh pasang surut kehormatan dan kehinaan—terasa berlalu sekejap mata. Tanpa ia sadari, tiga puluh dua tahun telah lewat.
Ia sudah muak dengan permainan cintanya, dan segala sesuatu kehilangan rasa serta daya tariknya. Dalam beberapa tahun terakhir, wajah-wajah yang dikenalnya menghilang satu per satu, dan bahkan anjing bertanda api itu pun telah pergi ke surga. Ia merasa, tak lama lagi gilirannya akan tiba.
Waktunya hampir sampai.
Waktu untuk mengakhiri semuanya.
Ia mengambil sebutir anggur yang montok dan licin dari mangkuk buah, lalu mengupas kulit ungunya dengan gerakan santai. Tangannya bergerak luwes dan terbiasa, malas dan perlahan, seperti kepala suku di perkemahannya yang menanggalkan jubah selir asingnya. Daging anggur yang berkilau bergetar ringan di ujung jarinya, sari buahnya merembes keluar—ungu pekat dan indah—seperti awan senja yang dibawa burung liar melintasi langit, seperti bunga haitang yang terlelap di penghujung musim semi.
Atau seperti noda darah.
Ia meneliti jari-jarinya sambil mengunyah dan menelan manis berat anggur itu, lalu mengangkat pandangannya dengan sikap acuh tak acuh.
Sudah waktunya, pikirnya.
Waktunya baginya untuk pergi ke neraka.
Mo Ran, bergelar kehormatan Weiyu. Kaisar pertama dunia kultivasi.
Bukan jalan yang mudah untuk sampai ke posisi yang kini ia pijak. Bukan hanya kekuatan spiritual luar biasa yang dibutuhkan, tapi juga muka setebal tembok—dan ketidakpedulian total terhadap pandangan orang lain.
Sebelum Mo Ran muncul, sepuluh sekte besar dunia kultivasi terjebak dalam kebuntuan. Mereka terus saling bertarung memperebutkan wilayah yang terpecah-pecah, namun tak satu pun mampu keluar sebagai penguasa tunggal yang benar-benar berhak menentukan segalanya. Lagi pula, para pemimpin sekte itu semuanya kaum terpelajar; sekalipun mereka ingin mengangkat diri sendiri dengan gelar-gelar agung, mereka terlalu takut pada pena para sejarawan, terlalu sadar akan bagaimana nama mereka kelak tercatat dalam lembaran sejarah.
Mo Ran berbeda. Ia memanglah seorang bajingan.
Apa yang tak pernah berani dilakukan orang lain, ia lakukan tanpa ragu. Ia menenggak arak paling mahal dan paling keras di dunia fana, menikahi perempuan tercantik di kolong langit, lebih dulu menobatkan dirinya sebagai "Taxian-jun", penguasa dunia kultivasi, lalu tanpa malu-malu mendeklarasikan diri sebagai kaisar.
Semua orang tunduk kepadanya. Siapa pun yang menolak berlutut dibantai tanpa sisa. Selama tahun-tahun tiraninya, dunia kultivasi tenggelam dalam darah; kehancuran dan kelaparan menjalar ke seluruh negeri. Tak terhitung jumlah pendekar yang mati sebagai martir, dan Sekte Rufeng—salah satu dari sepuluh sekte besar—dimusnahkan hingga ke akar.
Bahkan kemudian, guru Mo Ran yang paling ia hormati pun tak mampu lolos dari cengkeraman iblisnya. Dalam pertempuran terakhir melawan Mo Ran, murid yang pernah ia cintai itu dikalahkan, lalu dipenjarakan di istana. Tak seorang pun tahu apa yang terjadi pada pria itu setelahnya.
Negeri dengan sungai-sungai jernih dan laut yang tenang—pernah berjaya—kini tercekik di bawah kabut busuk kekacauan.
Kaisar Mo Ran yang bak anjing itu bukan orang berpendidikan. Lebih dari itu, ia sama sekali tak peduli pada pantangan atau rasa sungkan. Karena itulah, selama masa kekuasaannya, keabsurdan tak pernah langka. Salah satu contohnya: nama era pemerintahannya.
Tiga tahun pertama pemerintahannya ia beri nama "Wang Ba: Kura-kura"1. Ide itu muncul begitu saja saat ia memberi makan ikan di kolam.
Tiga tahun berikutnya ia menamakannya "Gua: Krok". Alasannya sederhana—ia mendengar katak berkoak di taman pada suatu malam musim panas dan menganggapnya sebagai ilham yang diturunkan langit, sesuatu yang tak boleh disepelekan.
Para cendekia negeri itu mengira tak mungkin ada nama era yang lebih mengenaskan daripada "Kura-kura" dan "Krok". Sayangnya, mereka terlalu meremehkan Mo Weiyu.
Memasuki rangkaian tiga tahun ketiga, kegelisahan mulai merebak di seluruh negeri. Baik penganut Buddha, Dao, maupun para kultivator spiritual—orang-orang lurus di dunia jianghu akhirnya tak sanggup lagi menahan tirani Mo Ran dan mulai bangkit memberontak.
Maka, setelah mempertimbangkan masak-masak, merenung panjang, dan membuang satu demi satu rancangan nama, Mo Ran akhirnya menetapkan sebuah nama era yang mengguncang langit dan bumi, yang membuat para dewa maupun arwah sama-sama terdiam: "Ji Ba: Hentikan Pertempuran".²
Makna kiasan dari nama era itu sebenarnya bagus-bagus saja. Kaisar ini—yang pertama dari jenisnya—sudah memeras habis-habisan otak yang ia punya untuk memikirkannya, dengan menjadikannya turunan dari ungkapan pembawa keberuntungan: "meletakkan senjata dan menghentikan pertempuran".
Masalahnya, frasa itu terdengar sangat canggung ketika diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Dan bagi orang-orang yang buta huruf, yang hanya bisa menilai dari bunyinya, kecanggungan itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih memalukan.
Tahun pertama dinamai Ji Ba Yuan Nian, Tahun Pertama Hentikan Pertempuran³—namun ketika terdengar di telinga orang awam, sebutan itu justru terdengar seperti gabungan kata yang sama sekali tidak pantas untuk disebut di ruang publik.
Tahun kedua disebut Tahun Kedua Penis.
Lalu disusul Tahun Ketiga Penis.
Ada orang-orang yang, di balik pintu tertutup, mengumpat dan berkata, "Ini benar-benar konyol. Sekalian saja namai zamannya Zaman Penis! Dengan begitu, kalau mau tanya umur seorang pria, tinggal tanya saja usia penismu! Lelaki yang sudah hidup seratus tahun bisa langsung disebut Penis Seabad! Kalau lengkap sekalian, bijinya juga ikut dihitung!"
Setelah tiga tahun yang menyiksa telinga dan harga diri, akhirnya masa pemerintahan dengan nama era 'Ji Ba: Hentikan Pertempuran' pun berakhir. Seluruh dunia menahan napas, menunggu dengan gelisah—nama apa lagi yang akan dipikirkan Paduka Kaisar untuk putaran keempat.
Namun pada titik ini, Mo Ran telah kehilangan seluruh minat terhadap hal-hal semacam itu. Karena justru pada tahun inilah, gejolak yang lama mendidih di seluruh negeri akhirnya meluap. Setelah hampir satu dekade menahan tirani Mo Ran, orang-orang lurus—para pahlawan dan pendekar dari segala penjuru—akhirnya berkumpul membentuk sebuah pasukan, berjumlah jutaan, dan bersatu melawan sang kaisar, Mo Weiyu.
Dunia kultivasi tak membutuhkan seorang kaisar—apalagi tiran sepertinya.
Setelah berbulan-bulan pertempuran berdarah, pasukan pemberontak akhirnya tiba di kaki Puncak Sisheng. Terletak di wilayah Sichuan, tempat ini dipenuhi tebing-tebing curam dan berbahaya, sepanjang tahun diselimuti aliran awan dan kabut yang berpilin-pilin. Di puncaknya berdiri istana Mo Ran—megah dan menjulang.
Tak ada jalan untuk mundur lagi. Tujuan mereka untuk menggulingkan sang tiran tinggal selangkah. Namun justru di titik terakhir inilah bahaya paling besar mengintai. Meski cahaya kemenangan tampak jelas di depan mata, persatuan pasukan—yang sebelumnya kokoh karena musuh bersama bernama Mo Ran—mulai retak. Semua orang sadar bahwa begitu rezim lama runtuh, tatanan baru harus dibentuk. Tak seorang pun ingin menguras tenaga di detik-detik akhir ini; akibatnya, tak ada yang bersedia memimpin serangan terakhir untuk mendaki gunung.
Mereka semua takut—takut kalau tiran licik dan kejam itu tiba-tiba jatuh dari langit, menyingkap taring buasnya yang berkilat, lalu mencabik-cabik siapa pun yang berani mengepung dan menghancurkan istananya, merobek mereka hingga hancur berkeping-keping.
"Kekuatan spiritual Mo Weiyu tak terukur, dan orangnya sendiri penuh tipu daya," kata seseorang dengan wajah muram. "Kita harus berhati-hati, jangan sampai terjebak dalam perangkapnya."
Para pemimpin lainnya serempak mengangguk setuju.
Saat itulah, seorang pemuda yang luar biasa tampan melangkah maju. Parasnya angkuh dan tegas. Ia mengenakan zirah ringan berwarna biru dengan lis perak, sabuknya dihiasi kepala singa, dan rambutnya diikat tinggi ke belakang, disematkan dengan tusuk rambut perak yang indah.
"Kita sudah sampai di kaki gunung," katanya dengan wajah masam. "Kalian semua masih berkerumun di sini, tak mau naik? Apa kalian menunggu Mo Weiyu turun sendiri? Dasar sekelompok pengecut tak berguna!"
Ucapannya langsung memicu keributan.
"Apa maksudmu, Xue-gongzi?" seru seseorang. "Pengecut apanya? Seorang prajurit harus tahu berhati-hati. Kalau kita bertindak serampangan seperti dirimu, siapa yang akan bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu?"
"Heh, Xue-gongzi itu kesayangan langit, sementara kami cuma rakyat jelata," ejek orang lain dengan nada menyindir. "Kalau sang kesayangan langit sudah tak sabar ingin melawan Kaisar Dunia Fana, silakan saja naik gunung lebih dulu. Kami akan menggelar jamuan di sini, menunggu kepulanganmu yang mulia—tentu saja sambil membawa kepala Mo Weiyu. Kedengarannya menyenangkan, bukan?"
Ucapan itu sudah keterlaluan. Seorang biksu tua dari aliansi Buddha segera melangkah maju, menahan Xue Meng yang hampir meledak, sambil memasang senyum penuh welas asih. "Xue-gongzi, harap tenangkan diri," katanya dengan nada lembut namun menenangkan. "Biksu tua ini tahu bahwa antara dirimu dan Mo Weiyu ada dendam pribadi yang dalam. Namun penyerbuan ke istana ini adalah operasi krusial. Pikirkan kepentingan bersama—jangan biarkan emosi menguasaimu."
Pemuda yang dipanggil semua orang sebagai "Xue-gongzi" itu bernama Xue Meng. Lebih dari sepuluh tahun lalu, ia pernah dielu-elukan sebagai seorang jenius muda, seorang kesayangan langit.
Namun zaman telah berubah, dan Xue Meng tak lagi berada di posisi yang menguntungkan. Kini ia terpaksa menelan ejekan dan hinaan mereka—semua demi bisa naik ke gunung dan kembali berhadapan langsung dengan Mo Ran.
Wajah Xue Meng memelintir marah, bibirnya bergetar. Dengan susah payah ia menahan luapan emosinya dan hanya bertanya, "Lalu sampai kapan kalian mau menunggu?"
"Kita setidaknya harus meninjau keadaan sekitar, bukan?"
"Benar. Bagaimana kalau Mo Weiyu sudah memasang jebakan?"
"Xue-gongzi, jangan terburu-buru," tambah biksu tua yang tadi turun tangan. "Kita sudah sampai di kaki gunung, jadi lebih baik tetap waspada. Bagaimanapun juga, Mo Weiyu terkurung di istananya dan tak bisa turun ke sini. Ia sudah terpojok tanpa jalan keluar. Untuk apa bertindak gegabah? Kita banyak orang di sini, dan begitu banyak tokoh besar dan terhormat. Kalau sampai ada yang kehilangan nyawa karena keputusan ceroboh, siapa yang akan bertanggung jawab?"
"Bertanggung jawab?" Xue Meng meledak. "Kalau begitu, biar aku tanya—siapa yang akan bertanggung jawab atas nyawa shizun-ku? Mo Ran sudah memenjarakan shizun-ku selama sepuluh tahun! Sepuluh tahun penuh! Shizun-ku ada tepat di atas sana, hanya terpaut gunung ini—bagaimana mungkin aku disuruh menunggu?"
Begitu Xue Meng menyebut gurunya, kerumunan tak bisa menahan rasa bersalah. Beberapa tampak tertunduk malu, yang lain mengalihkan pandangan sambil menggumamkan alasan masing-masing.
"Sepuluh tahun lalu, saat Mo Ran mengangkat dirinya sebagai Taxian-jun, ia menghancurkan tujuh puluh dua kota milik Sekte Rufeng—dan berniat melakukan hal yang sama pada sembilan sekte besar lainnya. Lalu, ketika ia menobatkan diri sebagai kaisar, ia berniat membunuh kalian semua. Siapa yang menghentikannya saat itu? Dua kali! Kalau bukan shizun-ku yang mempertaruhkan nyawanya demi kalian, apakah ada satu pun dari kalian yang masih hidup sekarang? Apa kalian bahkan akan berdiri di sini, melontarkan omong kosong ini padaku?"
Akhirnya, seseorang berdeham. "Xue-gongzi, jangan marah," katanya lembut. "Soal Chu-zongshi, kami… semua merasa bersalah, sekaligus berterima kasih. Tapi seperti yang kau katakan, beliau sudah dipenjara sepuluh tahun. Kalau memang sesuatu yang buruk akan terjadi, pasti sudah terjadi sejak lama… Kau sudah menunggu sepuluh tahun. Menunggu sedikit lebih lama tak akan melukai siapa pun, bukan?"
"Tak akan melukai siapa pun?" Xue Meng membentak. "Pergi dan persetanlah kalian semua!"
Orang itu ternganga. "Beraninya kau—!"
"Kenapa aku tak berani?" suara Xue Meng pecah. "Shizun mempertaruhkan nyawanya, dan itu semua demi menyelamatkan orang-orang seperti kalian—orang-orang seperti…"
Ia tak sanggup melanjutkan.
Sebagai gantinya, ia terisak, suaranya tercekat. "Kalian semua tidak pantas."
Usai berkata demikian, Xue Meng menarik diri dan memalingkan wajah. Bahunya bergetar pelan saat ia menahan tangis.
"Bukan berarti kami tidak berniat menyelamatkan Chu-zongshi…"
"Benar, kami semua ingat apa yang Chu-zongshi lakukan untuk kami. Mana mungkin kami lupa. Menuduh kami tak tahu balas budi itu fitnah—aku tak terima."
"Kalau dipikir-pikir," seseorang berkata pelan, "bukankah Mo Ran juga murid Chu-zongshi? Kalau muridnya tumbuh menjadi iblis, wajar saja gurunya ikut memikul tanggung jawab. Bukankah ada pepatah: membesarkan tanpa mendidik adalah kesalahan ayah, mengajar tanpa mendisiplinkan adalah kegagalan guru? Mungkin ini memang tak terelakkan. Jadi apa yang perlu dipermasalahkan?"
Ucapan itu jelas sudah kelewat batas dan langsung menuai kecaman.
"Omong kosong apa itu! Jaga ucapanmu!" Orang yang menegur kemudian menoleh ke Xue Meng dengan wajah diplomatis. "Xue-gongzi, bersabarlah—"
"Bagaimana aku bisa sabar?" Xue Meng memotong tajam, tatapannya menyala. "Mudah bagi kalian berdiri di sini berdebat, tapi itu shizun-ku! Milikku! Aku tak bertemu dengannya selama bertahun-tahun! Aku bahkan tak tahu apakah beliau masih hidup atau sudah mati—apalagi keadaannya! Menurut kalian, kenapa aku berdiri di sini?"
Napasnya terengah dan kasar; sudut matanya memerah saat ia melanjutkan, "Jangan bilang kalian semua berdiri di sini menunggu Mo Weiyu turun sendiri, berlutut di depan kalian, dan memohon ampun."
"Xue-gongzi—"
"Selain shizun, aku tak punya keluarga lain di dunia ini." Xue Meng menyentak lengan bajunya dari pegangan biksu tua. "Baik. Kalian tak mau naik?" suaranya serak. "Kalau begitu, aku akan pergi sendiri."
Setelah melontarkan kalimat terakhir itu, ia berbalik dan mulai mendaki gunung—sendirian, hanya dengan sebilah pedang.
Angin dingin dan lembap berbaur dengan desir dedaunan. Bersama kabut tebal yang menyelimuti segalanya, suasananya seolah dipenuhi roh jahat dan arwah penuh dendam yang berkeliaran di antara pepohonan, berdesir dan berbisik.
Seorang diri, Xue Meng menapaki puncak menuju istana megah milik Mo Ran, yang berdiri laksana mercusuar di tengah malam, diterangi cahaya lilin yang tenang. Saat ia mendekat, pandangannya tertumbuk pada tiga makam di kaki Menara Penembus Langit. Ia mendekat untuk melihat lebih jelas—rumput liar telah tumbuh menutupi gundukan makam pertama, dan pada batu nisannya terukir tulisan yang kekanak-kanakan, keras kepala, dan tak rapi:
"Makam Selir Terhormat Chu."
Berbeda dengan makam "Selir Kukus" itu, makam kedua tampak baru digali. Tanahnya masih segar, baru saja dipadatkan kembali. Di batu nisannya terukir tulisan:
"Makam Permaisuri Goreng Song."
Xue Meng tak mampu berkata apa-apa. Andai ini terjadi sepuluh tahun atau lebih yang lalu, pemandangan sekonyol ini pasti akan membuatnya tertawa terbahak-bahak tanpa sadar. Saat itu, ia dan Mo Ran sama-sama murid di bawah shizun yang sama, dan Mo Ran memang dikenal suka bercanda. Walaupun Xue Meng sering merasa tak cocok dengannya, mau tak mau ia harus mengakui—orang itu kadang tetap berhasil membuatnya tertawa.
Entah apa maksud semua urusan Selir Kukus dan Permaisuri Goreng ini. Mungkin gaya penamaan yang digunakan Sarjana Mo untuk kedua istrinya tak jauh berbeda dari seleranya saat mencetuskan "Wang Ba: Kura-kura," "Gua: Krok," dan "Ji Ba: Hentikan Pertempuran." Mengapa ia memberikan julukan-julukan semacam itu kepada permaisuri dan selirnya sendiri—tak seorang pun tahu jawabannya.
Pandangan Xue Meng beralih ke makam ketiga.
Makam itu terbuka, tergeletak di bawah langit malam. Di dalamnya ada sebuah peti mati, namun peti itu kosong—tak ada jasad di sana. Batu nisannya pun belum diberi nama.
Namun di depan makam itu terletak sebuah kendi kecil arak bunga pir putih, semangkuk wonton minyak cabai yang sudah lama dingin, serta beberapa piring lauk mala pedas dan mematikan rasa—semuanya adalah makanan favorit Mo Ran.
Xue Meng menatap makam itu lama sekali, hingga sebuah keterkejutan menghantam dadanya.
Mungkinkah Mo Ran sama sekali tak berniat bertarung? Bahwa ia sudah sejak lama menggali makamnya sendiri? Bahwa ia siap mati?
Pikiran itu membuat keringat dingin mengucur di punggung Xue Meng. Ia menolak mempercayainya. Mo Ran adalah tipe orang yang akan mencengkeram apa pun sampai napas terakhir tanpa pernah menunjukkan kelelahan, tipe yang bahkan tak mengenal arti menyerah. Dengan riwayat hidupnya, ia seharusnya bertarung melawan pasukan pemberontak sampai titik darah penghabisan—jadi kenapa…
Selama sepuluh tahun terakhir, Mo Ran berdiri di puncak kekuasaan. Apa sebenarnya yang telah ia lihat? Apa sebenarnya yang telah terjadi padanya? Tak seorang pun tahu.
Xue Meng berbalik dan kembali masuk ke dalam kegelapan, melangkah lebar menuju Istana Wushan yang terang benderang.
Mo Ran duduk di dalam istana itu, matanya terpejam rapat, wajahnya pucat bagai mayat. Dugaan Xue Meng ternyata benar. Mo Ran memang berniat mati. Gundukan makam di luar sana digali dengan tangannya sendiri. Dua jam sebelumnya, ia telah menggunakan mantra komunikasi untuk memerintahkan semua pelayannya pergi, lalu menelan racun mematikan. Dengan tingkat kultivasinya yang tinggi, efek racun itu menyebar sangat lambat, membuatnya mampu merasakan setiap detik penderitaan dengan kejernihan yang menyiksa saat racun itu meluluhlantakkan organ-organ dalamnya satu per satu.
Pintu aula terbuka dengan bunyi derit pelan.
Mo Ran tak mengangkat kepala. Ia hanya berkata dengan suara serak, "Xue Meng. Itu kau, kan? Kau datang juga?"
Xue Meng berdiri seorang diri di atas lantai emas aula itu, kuncir rambutnya terurai, zirah ringannya berkilau memantulkan cahaya.
Ini adalah pertemuan kembali dua murid yang dahulu berasal dari sekte yang sama. Namun wajah Mo Ran kosong tanpa ekspresi saat ia duduk dengan dagu bertumpu di satu tangan, tirai bulu matanya yang panjang menutupi pandangannya.
Orang-orang membicarakannya seolah ia monster buas berkepala tiga dan berlengan enam. Padahal kenyataannya, Mo Ran sangat tampan. Batang hidungnya melengkung halus, bibirnya pucat dan lembap; raut alaminya lembut dan manis. Jika hanya melihat wajahnya, siapa pun akan mengira ia orang baik dan menyenangkan.
Hanya dengan melihat wajah itu saja, Xue Meng yakin—Mo Ran telah meracuni dirinya sendiri. Perasaannya bercampur aduk, sulit diurai. Saat ia membuka mulut, tak satu kata pun keluar. Pada akhirnya, ia mengepalkan tinjunya dan bertanya, "Di mana Shizun?"
"Apa?"
"Aku bilang—di mana Shizun?!" Xue Meng membentak untuk kedua kalinya. "Shizun-mu, shizun-ku, shizun kita—di mana dia?!"
"Oh." Mo Ran terkekeh pelan, lalu akhirnya perlahan membuka matanya. Pupilnya gelap pekat, begitu hitam hingga tampak berkilau keunguan. Pandangannya seakan menembus lapisan waktu yang tak terhitung sebelum akhirnya berhenti pada Xue Meng. "Kalau kupikir-pikir, sudah dua tahun sejak terakhir kali kau dan Shizun bertemu langsung—sejak perpisahan kalian di Istana Kunlun Taxue." Senyum tipis terukir di bibirnya. "Xue Meng… kau merindukannya?"
"Cukup omong kosongnya!" Xue Meng menggeram. "Kembalikan dia padaku!"
Mo Ran menatap Xue Meng dengan tenang sambil menahan rasa sakit berpilin di perutnya. Bibirnya melengkung dalam seringai, tubuhnya bersandar malas ke sandaran singgasana. Kegelapan mulai merayap di penglihatannya; seolah-olah ia bisa merasakan organ-organ dalamnya terpelintir, meleleh, dan hancur menjadi bubur busuk bercampur darah.
"Mengembalikannya padamu?" jawab Mo Ran dengan santai. "Bodoh sekali. Kenapa kau tak memakai otakmu untuk berpikir sedikit? Shizun dan aku saling membenci sampai ke tulang. Bagaimana mungkin aku membiarkannya tetap hidup di dunia ini?"
"Kau—!" Wajah Xue Meng memucat, matanya membelalak saat ia tanpa sadar melangkah mundur. "Kau tidak mungkin… Kau tidak akan…"
"Aku tidak akan apa?" Mo Ran tertawa pelan. "Coba katakan padaku—kenapa aku tidak akan melakukannya?"
Suara Xue Meng bergetar. "Tapi dia itu… Dia tetap shizun-mu, bagaimanapun juga… Bagaimana mungkin kau sanggup membunuhnya?!"
Ia mendongak, menatap Mo Ran yang duduk di atas singgasana kekaisaran. Langit memiliki Fuxi, neraka memiliki Yanluo, dan di alam fana—ada Mo Weiyu.
Namun bagi Xue Meng, meskipun Mo Ran telah menjadi Kaisar Tertinggi Alam Manusia, tetap mustahil baginya melakukan hal ini. Seluruh tubuhnya gemetar saat air mata kemarahan dan kepedihan meluap. "Mo Weiyu, apa kau masih manusia? Dia dulu pernah—"
Mo Ran mengangkat pandangan. "Dia dulu pernah apa?"
"Kau tahu betul bagaimana dulu dia memperlakukanmu," kata Xue Meng, suaranya menegang oleh emosi.
Mo Ran mendadak tertawa keras. "Apa kau ingin mengingatkanku bahwa dulu dia pernah memukulku sampai tubuhku penuh luka dan lebam? Bahwa dia memaksaku berlutut di depan semua orang untuk mengakui kesalahanku? Atau kau ingin mengingatkanku bahwa demi dirimu, demi orang-orang tak berarti ini, dia selalu menghalangiku di setiap langkah, menggagalkan rencanaku berulang kali?"
Xue Meng menggeleng, wajahnya penuh penderitaan.
'Tidak, Mo Ran. Pikirkan baik-baik. Lepaskan kebencian kejam itu dan lihat ke belakang dengan jujur. Dia pernah melatihmu berkultivasi dan berlatih bela diri, mengajarkanmu cara melindungi diri. Dia pernah mengajarimu membaca dan menulis, puisi dan lukisan. Dia bahkan belajar memasak demi dirimu—padahal dia kikuk dan tangannya sampai penuh luka sayatan.
Dia pernah… Dia pernah menunggumu pulang sendirian setiap hari, dari senja… sampai fajar…'
Kata-kata itu tersangkut di tenggorokan. Pada akhirnya, Xue Meng hanya bisa tersedak, "Sifatnya buruk, ucapannya tajam, tapi bahkan aku tahu betapa baiknya dia padamu. Jadi kenapa… bagaimana mungkin kau…"
Xue Meng mendongak, namun setelah menahan begitu banyak air mata, tenggorokannya terasa makin tercekik, dan ia tak mampu melanjutkan.
Setelah lama terdiam, helaan napas Mo Ran yang pelan melayang turun dari singgasana. "Ya. Tapi Xue Meng, apa kau tahu?" Mo Ran jelas kelelahan. "Dia juga mengakhiri hidup satu-satunya orang yang pernah kucintai. Satu-satunya."
Keheningan mematikan menyelimuti mereka cukup lama.
Rasa sakit di perut Mo Ran—saat darah dan dagingnya tercabik dan hancur—terasa seperti api yang membakar hebat.
"Bagaimanapun, kami pernah menjadi guru dan murid. Jenazahnya kini berada di Paviliun Teratai Merah di puncak selatan. Tubuhnya terawat dengan sangat baik, terbaring di antara bunga-bunga teratai, tampak seolah hanya tertidur." Mo Ran menarik napas dan memaksa dirinya tenang. Saat ia berbicara, wajahnya tetap kosong, namun jari-jarinya mencengkeram sandaran singgasana dari kayu cendana merah begitu kuat hingga buku-bukunya memutih. "Mayatnya dijaga oleh kekuatan spiritualku. Kalau kau merindukannya, jangan buang napas di sini bersamaku. Pergilah sekarang—sebelum aku mati."
Rasa pahit-manis menyengat naik ke tenggorokan Mo Ran; ia terbatuk beberapa kali, dan saat membuka mulut lagi, bibir serta giginya telah berlumuran darah. Namun tatapannya tetap tenang.
"Pergi," katanya dengan suara serak. "Pergi menemuinya. Tanpa kekuatan spiritualku, dia akan berubah menjadi debu. Jika kau tidak sampai sebelum aku mati, semuanya akan terlambat."
Setelah berkata demikian, ia memejamkan mata dengan putus asa. Racun telah mencapai jantungnya, membawa siksaan seperti lautan api yang mengamuk.
Rasa sakit itu begitu melumpuhkan hingga jeritan Xue Meng yang penuh keputusasaan terdengar jauh, seolah mereka terpisah oleh samudra ribuan mil dan suaranya harus menempuh jarak itu untuk sampai.
Darah terus menetes dari sudut bibir Mo Ran, tangannya mengepal di dalam lengan jubah saat otot-ototnya kejang. Ketika ia membuka mata yang kabur, Xue Meng telah lama pergi. Ringan tubuh qinggong bocah itu cukup baik; tak akan lama baginya mencapai puncak selatan.
'Dia seharusnya bisa melihat Shizun untuk terakhir kalinya.'
Mo Ran memaksakan diri berdiri, tubuhnya terhuyung. Dengan tangan berlumur darah, ia membentuk segel dan memindahkan dirinya ke dasar Menara Penembus Langit di Puncak Sisheng.
Musim gugur telah mendalam, dan bunga haitang bermekaran dengan penuh, semarak. Ia tak tahu mengapa akhirnya memilih tempat ini untuk mengakhiri hidupnya yang penuh dosa, namun dengan bunga-bunga bermekaran seindah ini, setidaknya makamnya takkan terlalu suram.
Mo Ran berbaring di dalam peti mati yang terbuka dan menatap ke atas, menyaksikan kelopak bunga malam berguguran tanpa suara. Jatuh ke dalam peti, jatuh ke pipinya. Menari dan berkelebat, memudar seperti kejadian-kejadian masa lalu.
Dalam hidup ini, ia memulai sebagai anak haram tanpa apa pun. Setelah menanggung begitu banyak, ia menjadi Kaisar Agung Alam Fana.
Ia telah menista langit, dan tangannya berlumuran darah. Segala yang ia cintai, segala yang ia benci, segala yang ia doakan, segala yang ia dendami—pada akhirnya, tak ada yang tersisa.
Pada akhirnya, ia bahkan tak repot menuliskan epitaf bagi dirinya sendiri dengan coretan liar khasnya. Tak ada gelar memalukan seperti "Kaisar Sepanjang Zaman", tak ada pula nama konyol seperti "Goreng" atau "Kukus". Ia tak menulis apa pun.
Makam kaisar pertama dunia kultivasi itu, pada akhirnya, tak bernama.
Dengan demikian, tirai akhirnya tertutup atas sebuah pertunjukan yang telah berlangsung selama sepuluh tahun penuh.
Berjam-jam kemudian, pasukan pemberontak menyerbu istana kediaman kaisar dengan obor-obor menyala tinggi. Namun, yang menanti mereka hanyalah Istana Wushan yang kosong melompong, Puncak Sisheng tanpa satu jiwa pun, dan di Paviliun Teratai Merah—Xue Meng, yang telah menangis hingga perasaannya mati rasa, terkulai di lantai yang tertutup abu.
Dan akhirnya, di depan Menara Penembus Langit, terbujur jasad Mo Weiyu yang telah lama membeku dingin.
***
