LightReader

Chapter 2 - BAB 2: SEPULUH GADIS KECIL DAN AWAL SEBUAH KELUARGA

Kruyuuuk.

Suara itu menghancurkan momen dramatisku. Perut kecil berumur enam tahun ini ternyata tidak peduli dengan ambisi besarku menaklukkan Grand Line. Ia hanya menuntut satu hal: makanan.

"Oke, mari kita bersikap realistis," gumamku sambil mengusap perut. "Sebelum meninju wajah Tenryuubito, aku harus memastikan aku tidak mati kelaparan di hari pertama."

Aku memanggil layar Sistem di benakku.

"Sistem, aktifkan Paket Pembangunan Basis 'Pulau Terisolasi'."

[Menerima Perintah. Menginisiasi Pembangunan Basis Utama. Peringatan: Harap Tuan Rumah Menjauh dari Area Pusat Pantai.]

Tanah di bawah kakiku mulai bergetar. Cahaya keperakan turun dari langit seperti pilar raksasa, menghantam area datar di tengah pulau. Dalam hitungan detik, sebuah kompleks besar mulai terbentuk dari udara kosong. Bangunan bergaya perpaduan kastil dan arsitektur tradisional Jepang berdiri megah, lengkap dengan kubah raksasa bertuliskan "Ruang Simulasi Tempur", area perumahan, dapur super besar, dan tembok pelindung tinggi.

[Pembangunan Selesai. Sistem Keamanan Pulau Aktif: Memblokir Sinyal Den Den Mushi dan Kamuflase Visual.]

Aku bersiul pelan. "Luar biasa. Setidaknya aku tidak perlu tidur beralaskan pasir."

Aku melangkah masuk ke halaman tengah kompleks yang luas. Tempat ini terlalu besar, terlalu sepi untuk ditinggali seorang anak berumur enam tahun sendirian. Lima belas tahun ke depan akan terasa seperti neraka yang sepi jika aku hanya berlatih sendirian.

Aku membuka inventaris Sistem. Sepuluh buah tiket emas melayang pelan di layar transparan. Tiket Pemanggilan 'Dewi Lintas Dimensi'.

"Sistem," panggilku. "Jika aku memanggil mereka sekarang, apakah mereka akan muncul sebagai wanita dewasa pembunuh, atau bagaimana? Aku tidak yakin bisa mengurus orang dewasa dengan tubuh sekecil ini."

[Menjawab Tuan Rumah: Sesuai Hukum Keseimbangan Dunia, seluruh karakter yang dipanggil akan disesuaikan umur fisiknya dengan Tuan Rumah (6 Tahun). Ingatan, pekerjaan, dan pengalaman dari dimensi asli mereka dihapus permanen. Mereka akan muncul dengan potensi bawaan murni, sifat dasar, dan memori buatan sebagai anak-anak korban kapal karam yang terdampar di pulau ini.]

Aku tersenyum lebar. Sempurna. Itu artinya, kami akan memulai semuanya dari garis start yang sama. Tumbuh bersama, berdarah-darah saat berlatih Haki bersama, dan menjadi keluarga sungguhan sebelum dunia menyadari eksistensi kami.

"Kalau begitu, tidak ada alasan untuk menunggu. Sistem... gunakan kesepuluh tiket itu sekarang!"

[Menerima Perintah. Menggunakan 10 Tiket Pemanggilan. Proses Transmigrasi Dimensi Dimulai.]

Halaman tengah kompleks mendadak dipenuhi sepuluh pilar cahaya keemasan yang menyilaukan. Angin berhembus kencang, membawa aroma laut yang pekat. Aku menyipitkan mata, menahan napas.

Satu per satu, pilar cahaya itu meredup, menyisakan siluet-siluet kecil yang terbatuk-batuk di atas paving blok halaman.

Bukan wanita dewasa bersenjata mematikan. Melainkan sepuluh anak perempuan berusia sekitar enam tahun, mengenakan pakaian sederhana yang basah kuyup, persis seperti anak-anak yang baru saja selamat dari badai lautan.

Suasana hening sejenak, sebelum akhirnya kekacauan khas anak-anak pecah.

"Hiks... dingin..."

Seorang gadis kecil berambut pirang pucat panjang (Lena) memeluk lututnya, gemetar kedinginan. Di sebelahnya, bocah berambut hitam sebahu dengan poni rapi (Yor) menatap sekeliling dengan mata merahnya yang besar dan panik, tangannya secara insting menggenggam erat sebuah ranting kayu yang entah didapat dari mana.

"Di... di mana ini? Ibu? Ayah?!" Gadis kecil berambut oranye terang (Rangiku) mulai menangis kencang, suaranya melengking.

"Berhenti menangis! Berisik sekali!" sahut anak perempuan lain yang berambut pirang diikat dua (Tsunade). Walaupun matanya ikut berkaca-kaca, ia mencoba memasang wajah garang sambil berkacak pinggang, meski tubuhnya ikut gemetar.

Aku menghela napas panjang. Mental dewasaku yang berumur awal dua puluhan benar-benar diuji saat ini. Aku melangkah maju, mencoba memasang wajah setenang dan selembut mungkin.

"Hei, semuanya. Jangan takut," suaraku yang agak cempreng khas bocah memecah keributan mereka.

Kesepuluh pasang mata langsung tertuju padaku. Beberapa dari mereka mundur selangkah, bersembunyi di balik punggung yang lain. Namun, ada satu anak perempuan berambut hitam panjang yang dikepang rapi ke depan (Unohana), menatapku dengan mata biru tuanya yang sangat tenang untuk ukuran anak kecil. Tidak ada air mata di wajahnya, hanya rasa ingin tahu.

"Siapa kau?" tanya seorang gadis kecil berambut ungu gelap yang terlihat lincah (Yoruichi), menunjuk ke arahku. "Apa kau juga terbawa ombak badai tadi?"

Aku mengangguk pelan. Memori buatan dari Sistem rupanya bekerja sempurna. Mereka semua berpikir bahwa mereka adalah korban kapal karam yang terdampar di sini.

"Namaku Sirius D. Arthur," kataku lantang, berusaha menyalurkan sedikit wibawa 'Haki Raja' yang masih bersembunyi jauh di dalam jiwaku. "Aku juga selamat dari badai itu. Orang tuaku... sudah tidak ada."

Mendengar itu, raut wajah ketakutan mereka perlahan berubah menjadi simpati. Anak perempuan berambut cokelat gelap dengan kuncir ekor kuda (Ikumi) melangkah maju, mengusap hidungnya yang memerah.

"Namaku Ikumi... Aku juga cuma ingat namaku. Semuanya gelap, lalu tiba-tiba aku ada di sini."

"Aku Yor..." sahut gadis yang memegang ranting tadi, suaranya pelan dan sopan.

Satu per satu, mereka mulai menyebutkan nama masing-masing. Akeno yang terlihat pemalu namun manis, Meiko yang menatapku dengan serius, Fujiko yang matanya awas melihat sekeliling bangunan megah ini, hingga Rangiku yang mulai berhenti menangis.

"Arthur..." Unohana kecil akhirnya buka suara. Nada bicaranya sangat sopan dan tenang. "Tempat apa ini? Bangunan ini terlihat baru."

Aku sudah menyiapkan jawaban untuk ini. "Ini adalah markas rahasia yang kutemukan! Sepertinya tempat ini sudah lama ditinggalkan, tapi masih bisa berfungsi. Kalian tidak perlu takut, tidak ada orang jahat di sini."

Aku merentangkan kedua tanganku yang mungil, tersenyum lebar ke arah sepuluh anak perempuan yang masih kedinginan itu.

"Mulai sekarang, pulau ini adalah rumah kita. Kita mungkin kehilangan keluarga kita di badai itu, tapi sekarang kita punya satu sama lain." Aku menatap mata mereka satu per satu, menanamkan keseriusan di balik wajah anak-anakku. "Dunia di luar sana sangat kejam. Jika kita ingin bertahan hidup, jika kita tidak ingin ditindas, kita harus menjadi kuat. Dan aku... aku berjanji akan melindungi kalian semua."

Kata-kata itu bukan bualan. Menatap sepuluh gadis kecil yang kelak akan mengguncang dunia One Piece bersamaku, aku merasakan tekad yang membara.

Akeno kecil tersenyum tipis, menghapus sisa air matanya. "Arthur-kun manis sekali..."

"Jangan sok jagoan, kau kan sekecil kami!" cibir Tsunade kecil, meski wajahnya sedikit merona dan ia terlihat lega.

Kruyuuuuk.

Kali ini, bukan hanya perutku yang berbunyi. Perut Rangiku, Ikumi, dan Yoruichi ikut berpadu membentuk orkestra kelaparan yang sangat memalukan.

Wajah Ikumi langsung memerah padam layaknya kepiting rebus. "A-aku lapar..."

Aku tertawa lepas, rasa tegang dan panik dari kejadian hari ini menguap begitu saja. Memiliki mereka di sini, tumbuh bersama dari titik nol, adalah keputusan terbaik yang pernah kubuat.

"Ayo masuk!" seruku, menunjuk ke arah bangunan utama. "Aku yakin fasilitas di tempat ini punya dapur yang besar. Ikumi, bagaimana kalau kita cari bahan makanan di sana? Aku akan menunjukkan tempat mandi air hangat pada kalian."

Yoruichi langsung bersorak kegirangan dan berlari mendahuluiku. "Yang terakhir sampai ke pintu, dia yang harus cuci piring!"

"Hei, curang!" teriak Tsunade, langsung mengejarnya.

Melihat mereka mulai berlarian masuk ke dalam kompleks dengan tawa lepas, Unohana kecil berjalan mendekatiku. Ia menatapku sejenak, lalu memberikan senyum yang sangat lembut—senyum yang entah kenapa membuatku merinding sekaligus merasa aman.

"Terima kasih, Arthur," ucapnya pelan.

"Ini baru permulaan, Unohana," balasku, menatap punggung anak-anak lain. "Besok, neraka yang sesungguhnya baru dimulai."

Karena di dalam kompleks megah ini, senjata-senjata supernatural tanpa tuan dan Ruang Simulasi Tempur yang kejam sudah menunggu kami. Enam belas tahun ke depan, pulau ini akan menjadi saksi lahirnya sebelas monster yang akan membalikkan dunia.

More Chapters