Enam belas tahun.
Bagi dunia luar, itu mungkin hanya waktu yang cukup untuk menumbuhkan seorang pemuda. Tapi di pulau terisolasi ini, di bawah bimbingan Sistem dan siksaan Ruang Simulasi yang tak kenal ampun, enam belas tahun adalah waktu yang cukup untuk menciptakan barisan monster.
Aku berdiri di balkon observasi yang dingin, menatap ke bawah ke arah arena simulasi yang luas. Jubah kaptenku berkibar pelan, lambang matahari keemasan di punggungku seolah memancarkan otoritas mutlak. Di sampingku, sembilan gadis lainnya berdiri membisu, mata mereka terkunci pada satu sosok yang sudah melangkah ke tengah arena.
Rangiku Matsumoto.
Dia bukan lagi bocah cengeng yang kutemukan di tengah badai East Blue belasan tahun lalu. Tubuhnya kini tinggi, anggun, dengan lekukan yang bisa membuat pria mana pun kehilangan akal, namun aura yang ia pancarkan jauh dari kata lembut. Ia mengenakan seragam tempur hitam yang pas di tubuh, kontras dengan rambut oranye panjangnya yang tergerai indah. Di pinggangnya, tersampir pedang lurus yang tampak biasa, namun mengandung kekuatan yang sanggup merobek langit.
"Sistem," suaraku menggema melalui interkom, dingin dan tanpa emosi. "Muat Skenario: Kota Dressrosa - Reruntuhan Istana. Target: Donquixote Doflamingo. Tingkat Kekuatan: Shichibukai Puncak."
[Menerima Perintah. Mengonfigurasi Realitas Virtual... Memuat Proyeksi Simulasi. Peringatan: Kerusakan Fisik Disetel ke 100%.]
Dalam sekejap, dinding putih ruangan itu lenyap. Lantai logam berubah menjadi bebatuan marmer yang hancur. Langit biru jernih muncul di atas kami, lengkap dengan aroma darah dan asap yang menyesakkan paru-paru. Di tengah reruntuhan itu, sesosok pria jangkung dengan jubah bulu flamingo merah muda muncul.
Senyum arogan tersungging di wajah proyeksi Doflamingo. Ia menggerakkan jemarinya seperti seorang dalang yang sedang memainkan boneka.
"Fufufufu... Seorang wanita cantik dikirim untuk menjemput nyawaku? Dunia ini benar-benar penuh kejutan!"
Doflamingo tidak berbasa-basi. Ia melompat ke udara, tangannya mengayun tajam ke bawah.
"Goshikito!" (Lima Benang Warna)
Lima benang tipis tak kasat mata melesat dengan kecepatan peluru, sanggup membelah baja semudah memotong mentega. Serangan itu mengincar leher Rangiku secara langsung.
Rangiku tidak berkedip. Matanya yang biru tajam hanya menatap bosan ke arah serangan itu. Dengan gerakan yang hampir tidak terlihat oleh mata manusia, jemarinya menyentuh gagang pedangnya.
Sring!
"Mengaumlah... Haineko!"
Dalam satu detik, pedang lurus itu tidak menebas. Sebaliknya, bilah pedangnya hancur, terurai menjadi jutaan partikel abu berwarna perak yang berkilauan di bawah terik matahari Dressrosa. Abu itu berputar gila, membentuk pusaran pelindung di depan Rangiku.
Kring! Kring! Kring!
Suara benturan logam yang memekakkan telinga bergema. Benang-benang Doflamingo yang terkenal tajam itu terhenti, tertahan oleh badai abu.
"Apa?!" Doflamingo terbelalak di balik kacamata hitamnya. "Hanya debu biasa bisa menahan benangku?"
"Ini bukan debu biasa, Raja Sampah," suara Rangiku terdengar tenang, namun mengandung nada meremehkan yang sangat dalam. "Ini adalah kematian yang kau hirup."
Rangiku menggerakkan tangannya ke depan. Jutaan partikel abu itu langsung melesat maju seperti kawanan lebah yang lapar. Setiap butir abu tersebut telah dilapisi oleh Busoshoku Haki (Haki Persenjataan) yang sangat halus namun padat.
Doflamingo mendengus, ia menggunakan Soru untuk berpindah posisi ke udara, mencoba menjaga jarak. "Overheat!"
Sebuah cambuk benang raksasa yang membara meledak dari telapak tangannya, menghantam daratan dengan kekuatan penghancur. Ledakan magma dan api terjadi di tempat Rangiku berdiri. Namun, saat asap menipis, Rangiku tidak ada di sana.
[Shunpo]
Rangiku muncul tepat di belakang Doflamingo, melayang di udara dengan tumpuan Haki di kakinya. "Kau terlalu lambat melihat masa depan."
Ia mengepalkan tangannya. Seluruh abu yang tersebar di arena mendadak berkumpul, mengelilingi Doflamingo dari segala arah, membentuk bola raksasa yang mengunci sang Shichibukai.
"Haineko: Desert Storm!"
Abu-abu itu mulai berputar di dalam bola tersebut dengan kecepatan ribuan rotasi per detik. Di dalam sana, Doflamingo sedang diamplas hidup-hidup oleh jutaan bilah Haki mikro.
"ARGHHH!" raungan kemarahan meledak dari dalam bola abu. "Jangan meremehkan garis darah bangsawan, Gadis Sialan!"
BOOOOOMM!
Ledakan energi Haki Raja (Haoshoku) yang liar meledak dari tubuh Doflamingo, membuyarkan kepungan abu Rangiku. Doflamingo mendarat di tanah dengan napas memburu, jubah bulu pink-nya kini compang-camping dan tubuhnya dipenuhi sayatan halus yang mengeluarkan darah.
Wajahnya merah padam karena murka. Ia menyentuhkan telapak tangannya ke tanah.
"Awakening: Everwhite!"
Seluruh reruntuhan istana Dressrosa mendadak berubah menjadi putih. Bebatuan, tanah, hingga puing-bangunan berubah menjadi jutaan benang raksasa yang meliuk-liuk seperti ular naga. Seluruh arena kini berada di bawah kendali mutlak Doflamingo.
"Mati kau dalam kuburan putih ini!"
Ribuan benang itu melesat serentak ke arah Rangiku. Tidak ada ruang untuk menghindar. Tekanan Haki dari serangan Awakening ini cukup untuk meratakan sebuah kota kecil.
Di tribun, aku melihat kru yang lain mulai tegang. Namun, aku hanya tersenyum tipis. Aku tahu apa yang sudah mereka lalui di Ruang Simulasi Neraka selama 16 tahun ini.
Rangiku menarik napas panjang. Ia merentangkan kedua tangannya. Seluruh abu peraknya kembali ke sekeliling tubuhnya, namun kali ini warnanya berubah. Abu itu tidak lagi perak berkilau, melainkan berubah menjadi hitam legam mengkilap, memancarkan aura dingin yang mencekam.
Busoshoku Haki: Koka. Pengerasan tingkat tinggi yang disatukan dengan kemampuan Zanpakuto.
"Aku berjanji pada Arthur untuk menjadi pedang yang tak terpatahkan," bisik Rangiku. Mata birunya kini berkilat dengan tekad absolut. "Bankai... Haineko: Desert Storm Ultimate - Kuroi Sabaku!" (Gurun Hitam)
Abu hitam itu meledak keluar, menelan seluruh benang putih milik Doflamingo. Di mana pun abu hitam itu bersentuhan dengan benang, benang-benang itu hancur menjadi debu. Ini bukan lagi sekadar pertarungan teknik, ini adalah bentrokan Haki tingkat tinggi.
Rangiku melesat di tengah badai abunya sendiri. Ia muncul di hadapan Doflamingo yang sedang mempertahankan diri dengan perisai benang Spider's Net.
Clang!
Rangiku tidak memegang pedang, ia hanya mengarahkan telapak tangannya, dan seluruh abu hitamnya memadat membentuk bilah pedang raksasa di tangannya yang dilapisi kilatan petir Haki Raja tipis—sisa dari latihan keras denganku.
KRAAAAAAK!
Perisai benang Doflamingo hancur berkeping-keping. Tebasan abu hitam Rangiku menghantam dada Doflamingo, mengirim sang Raja Dressrosa itu terbang menembus puluhan gedung simulasi hingga meledak di ujung cakrawala.
Gelombang kejutnya merobek awan di langit simulasi.
Keheningan mengambil alih. Rangiku berdiri di tengah reruntuhan yang kini menghitam karena abunya. Napasnya terengah, keringat mengalir di pelipisnya, dan ada beberapa luka gores benang di kaki dan bahunya. Ia telah mencapai batas stamina fisiknya untuk saat ini.
Di kejauhan, proyeksi Doflamingo perlahan bangkit dari reruntuhan, tubuhnya dipenuhi luka bakar dan sayatan dalam, namun ia masih sanggup berdiri meski terhuyung. Sebelum mereka bisa melanjutkan bentrokan final yang mungkin akan menghancurkan sistem simulasi, aku mengangkat tanganku.
"Cukup."
Ting!
[Simulasi Dihentikan.] [Analisis Data: Karakter Rangiku Matsumoto mampu menahan dan memberikan luka fatal pada Target Shichibukai Puncak.] [Hasil Akhir: SERI (Kualifikasi Lulus).]
Dunia virtual itu memudar, kembali menjadi ruangan putih yang sunyi. Rangiku menyatukan kembali abu hitamnya menjadi pedang lurus utuh dan menyarungkannya dengan bunyi klik yang memuaskan.
Ia menoleh ke arahku, senyum cantiknya kembali, meskipun wajahnya tampak lelah. "Bagaimana, Kapten? Apa aku sudah cukup pantas untuk berdiri di sampingmu di Grand Line?"
Aku melompat turun dari balkon, mendarat di depannya, lalu mengusap kepalanya dengan pelan. "Kau melakukannya dengan sangat baik, Rangiku. Shichibukai hanyalah permulaan bagi kita."
Kru yang lain bersorak kegirangan, mengerumuni Rangiku. Namun, aku bisa merasakan tatapan Ikumi Mito yang sudah membara. Ia sedang mengasah pisau daging raksasanya di sudut ruangan.
"Ikumi," panggilku tanpa menoleh. "Kau sudah melihat bagaimana Rangiku bertarung. Sekarang... tunjukkan padaku bagaimana kau mengolah daging Mammoth itu."
Ikumi menyeringai buas, aura panas mulai keluar dari tubuhnya. "Dengan senang hati, Arthur."
Status Karakter (End of Training):
Rangiku Matsumoto: Level Komandan ke-3 Yonko.
Skill Terkunci: Bankai (Sangat menguras stamina, hanya digunakan untuk finisher).
Haki: Busoshoku (Tingkat Tinggi), Kenbunshoku (Menengah).
