LightReader

Chapter 4 - BAB 4: NERAKA HARIAN, KILATAN HITAM, DAN KEBANGKITAN SANG RAJA

Tiga tahun. Seribu sembilan puluh lima hari.

Itu adalah waktu yang kami habiskan untuk 'mati' setiap harinya.

Jika ada yang bertanya bagaimana caramu mengubah sebelas anak berusia sembilan tahun menjadi monster haus darah, jawabannya sederhana: kurung mereka di sebuah pulau, dan biarkan seorang Wakil Laksamana Angkatan Laut fiktif membantai mereka ribuan kali tanpa ampun.

Awalnya, itu adalah siksaan psikologis yang tak tertahankan. Berminggu-minggu pertama, asrama kami dipenuhi oleh jeritan histeris dan tangisan di tengah malam. Terbunuh itu menyakitkan, tapi mengingat sensasi bilah angin memotong lehermu atau lutut berlapis Haki menghancurkan tulang rusukmu... itu bisa membuat orang dewasa mana pun gila.

Namun, anak-anak memiliki kemampuan adaptasi yang mengerikan. Terutama kesepuluh gadis yang kupilih ini.

Kewarasan kami tertolong oleh satu hal: Dapur Ikumi.

Dengan bantuan System yang menyuplai bahan makanan kelas atas dari berbagai lautan, Ikumi memasak bukan hanya untuk mengenyangkan, tapi untuk menyembuhkan jiwa. Di tahun kedua, ia perlahan mulai bisa mengalirkan sedikit tekadnya ke pisau dagingnya, Hell Broiler. Hasilnya? Hidangannya tidak hanya memulihkan stamina fisik kami hingga 100% dalam semalam, tapi juga mengebaskan rasa sakit mental kami. Tanpa Ikumi, kami pasti sudah gila.

Pagi ini, seperti seribu pagi sebelumnya, kami berdiri di depan pintu baja Ruang Simulasi Tempur. Udara terasa berat, namun tidak ada lagi tubuh yang gemetar. Tidak ada lagi mata yang berkaca-kaca.

Kesepuluh gadisku berdiri tegap di belakangku. Wajah mereka masih kekanak-kanakan, namun sorot mata mereka sedingin dasar lautan East Blue. Pakaian latihan kami dipenuhi debu dan keringat, senjata masing-masing tergenggam erat.

"Sistem," ucapku datar. "Proyeksi Level 3. Wakil Laksamana. Mode Pembantaian."

[Memproses Permintaan. Memuat Proyeksi Simulasi. Peringatan: Rasa Sakit Disetel ke 100%.]

Lantai putih di depan kami terdistorsi. Pasir digital kembali membentuk siluet pria jangkung berjas putih bertuliskan "Keadilan". Tiga tahun lalu, aura pria ini membuat kami tidak bisa bernapas. Sekarang? Aura itu hanya terasa seperti alarm pagi yang menyebalkan.

"Menyebar!" perintahku tajam.

Dalam sekejap mata, kesepuluh gadisku melesat memencar. Kecepatan mereka kini tidak bisa dibandingkan dengan diri mereka tiga tahun lalu. Latihan fisik di bawah Gravitasi 10x lipat buatan Sistem telah mengubah otot kecil mereka menjadi pegas baja.

Bayangan itu langsung mengincar Yoruichi dengan Soru. Ia muncul di titik buta Yoruichi, kakinya mengayun ke arah leher. Serangan yang sama persis yang membunuhnya di hari pertama.

Namun kali ini, Yoruichi tidak menoleh. Mata ungunya memicing.

Wusss!

Ia menunduk hanya dalam jarak milimeter sebelum kaki berlapis Haki itu memenggal kepalanya. Angin dari tendangan itu mengiris sehelai rambutnya, namun ia selamat.

Kenbunshoku Haki. Haki Observasi.

Setelah mati ratusan kali dari serangan mendadak, tubuh Yoruichi, Yor, dan Fujiko adalah yang pertama kali beradaptasi untuk "mendengar" niat membunuh musuh sebelum serangan itu terjadi.

"Sekarang, Yor!" teriak Yoruichi sambil berguling mundur.

Dari bayangan si Wakil Laksamana, Yor Forger melompat keluar layaknya hantu. Tidak ada hawa keberadaan, tidak ada suara napas. Mata merah Yor sedingin es saat ia menusukkan stiletto Thorn Garden tepat ke titik buta di leher belakang musuh.

Clang!

Lagi-lagi, suara logam beradu berbunyi nyaring. Leher bayangan itu berubah menjadi hitam legam. Busoshoku Haki musuh secara refleks menahan tusukan Yor.

Bayangan itu memutar tubuhnya, siap menghancurkan Yor dengan pukulan telak. Tapi sebuah pedang Nodachi melesat dari atas, menebas lurus ke arah lengan bayangan tersebut.

Itu Unohana. Seringai tipis yang mengerikan menghiasi wajah malaikatnya.

"Jangan sentuh dia, sampah."

Saat pedang Unohana berbenturan dengan lengan hitam bayangan itu, sesuatu yang ajaib terjadi. Selama tiga tahun, kami selalu gagal menembus pertahanan itu. Kami hanya bisa menghindar dan dipukul mundur.

Namun kali ini, dari balik cengkeraman tangan kecil Unohana, sebuah aura hitam pekat merambat pelan ke bilah pedang Minazuki. Hanya setipis kertas, hanya sedetik, namun itu cukup.

CRAAAASSH!

Darah digital menyembur. Lengan bayangan Wakil Laksamana itu robek, memunculkan luka gores yang cukup dalam.

Mata bayangan itu terbelalak (meski ia tidak memiliki wajah yang jelas). Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, musuh kami mundur teratur karena rasa sakit.

"Dia berdarah!" jerit Tsunade girang, gauntlet-nya beradu nyaring. "Busoshoku! Unohana berhasil membangkitkan Busoshoku!"

Kegembiraan kami hanya berlangsung sedetik. Karena terluka, bayangan Wakil Laksamana itu masuk ke mode beringas. Ia tidak lagi mengincar satu-satu. Ia mengangkat kedua kakinya ke udara secara bergantian dengan kecepatan gila.

Rankyaku: Badai Pisau.

Puluhan bilah angin raksasa melesat ke segala arah, menutupi seluruh arena. Kecepatannya terlalu tinggi, areanya terlalu luas. Kenbunshoku milik Yoruichi dan Yor berteriak memperingatkan adanya bahaya kematian mutlak, namun tubuh mereka tidak memiliki ruang untuk menghindar.

Tsunade melompat ke depan, menyilangkan gauntlet-nya mencoba menjadi perisai bagi Akeno dan Lena, sementara Unohana memutar pedangnya untuk menangkis. Tapi itu percuma. Serangan area ini ditujukan untuk membantai kami semua sekaligus.

Kita akan mati lagi. Pemikiran itu melintas di benak mereka.

Namun, sebelum bilah angin pertama menyentuh tubuh Tsunade, sebuah langkah kaki bergema di ruangan itu.

Aku berjalan pelan ke depan barisan mereka.

Selama tiga tahun ini, aku selalu menjadi pengatur taktik. Pedang kayuku sudah lama hancur, dan kapak Hyperion masih terlalu angkuh untuk kuangkat. Di mata mereka, aku adalah kapten yang cerdas, tapi secara fisik, aku belum bisa melindungi mereka.

Bukan karena aku lemah. Tapi karena wadah tubuh sembilan tahun ini terlalu kecil untuk menampung jiwa seorang Raja yang terkurung di dalamnya.

Melihat sepuluh gadisku bersiap menerima kematian untuk yang kesekian kalinya, sesuatu di dalam dadaku—sesuatu yang selama ini tertidur lelap—meledak.

Rasa frustrasi, harga diri, dan insting absolut dari nama "D" menyatu, mendidih di pembuluh darahku. Aku menatap puluhan bilah angin mematikan yang melesat ke arah kami, lalu menatap bayangan Wakil Laksamana itu dengan kemarahan sedingin es.

"Kau pikir..." suaraku tidak terdengar seperti anak sembilan tahun. Itu adalah geraman monster purba.

"...kau sedang menatap siapa, Hah?!"

Aku melebarkan mataku.

ZRRRRAAAAKKK!

Ruang simulasi bergetar hebat. Sebuah gelombang kejut hitam kemerahan meledak dari tubuhku, menyapu seluruh ruangan layaknya tsunami tanpa wujud. Gelombang itu tidak memotong fisik, melainkan menghancurkan jiwa.

Bilah-bilah angin Rankyaku yang melesat ke arah kami hancur berkeping-keping di udara, seolah menabrak dinding baja yang tak terlihat.

Bayangan Wakil Laksamana itu terpental mundur, kakinya bergetar hebat sebelum akhirnya ia jatuh berlutut, memegangi kepalanya yang seolah mau pecah. Udara di sekitarku mendadak menjadi sangat berat, membuat napas siapa pun akan sesak.

Kesepuluh gadisku menatap punggungku dengan mata terbelalak, napas mereka tercekat, tubuh mereka merinding hebat. Namun anehnya, tekanan mengerikan yang kukeluarkan tidak menyakiti mereka sedikit pun.

"Itu..." Unohana berbisik takjub, pedangnya turun perlahan. "Haki Penakluk..."

Haoshoku Haki. Kemampuan yang hanya dimiliki oleh satu dari beberapa juta orang. Kualifikasi mutlak untuk berdiri di puncak dunia.

Aku tidak menoleh ke belakang. Pandanganku terkunci pada bayangan musuh yang kini berlutut lemah di hadapanku. Haki Raja-ku belum sempurna, aku tahu itu. Ini hanya letupan insting. Jika aku memaksakannya lebih lama, otak anak-anakku ini akan ikut pingsan.

Aku menarik kembali auraku ke dalam tubuh, terengah-engah. Namun kesempatan ini tidak boleh disia-siakan.

"Tunggu apa lagi?!" teriakku ke arah para gadisku, menunjuk musuh yang masih lumpuh. "Bunuh dia!!"

Teriakanku seakan melepaskan rantai yang mengikat mereka. Insting membunuh kesepuluh anak itu meledak bersamaan.

Yoruichi melesat seperti kilat hitam, menendang rahang musuh hingga melayang ke udara. Akeno mengayunkan tongkatnya, memanggil pilar petir simulasi yang menyambar tubuh itu. Meiko mencambuk kakinya, mengikat musuh di udara, sementara Fujiko menembakkan rentetan peluru tepat ke arah persendiannya.

Sebagai penutup, Tsunade dan Unohana melompat bersamaan. Tinju kecil Tsunade menghantam dada bayangan itu hingga retak, dan di saat yang sama, pedang Unohana yang diliputi kilatan hitam Busoshoku tipis, membelah tubuh itu dari bahu hingga pinggang.

BZZZZZT!

Bayangan Wakil Laksamana itu meledak menjadi jutaan piksel cahaya biru, lalu memudar sepenuhnya dari ruangan.

Keheningan mengambil alih. Kami semua berdiri terengah-engah di tengah ruangan putih yang kembali kosong. Darah mengalir dari luka-luka kami, tubuh kami memar dan dipenuhi keringat.

Lalu, suara mekanis yang sudah kami tunggu selama tiga tahun akhirnya terdengar.

[Peringatan: Proyeksi Simulasi Hancur.] [Target Eliminasi: Wakil Laksamana Angkatan Laut (Level 3) - BERHASIL.]

Tsunade menjatuhkan dirinya ke lantai, menatap langit-langit putih sambil tertawa terbahak-bahak, tawanya bercampur dengan isak tangis kelegaan. Yoruichi dan Rangiku berpelukan sambil melompat-lompat kegirangan. Yor tersenyum lembut sambil mengusap air mata yang entah sejak kapan menetes di pipinya.

Aku jatuh terduduk, napasku habis terkuras karena letupan Haoshoku tadi.

Tiba-tiba, Unohana berlutut di depanku. Mata birunya menatapku dalam-dalam, penuh dengan kekaguman, rasa hormat, dan sesuatu yang jauh lebih gelap dan protektif. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Kami akhirnya melihatnya, Kapten," bisik Unohana, yang langsung diikuti oleh kesembilan gadis lainnya yang ikut berlutut di sekelilingku.

"Raja kami," sambung Lena sambil tersenyum bangga.

Aku menatap mereka satu per satu. Tubuh kami masih berusia sembilan tahun, penuh luka, dan terjebak di pulau terpencil. Tapi hari ini, kami baru saja membunuh sosok yang ditakuti di Grand Line. Hari ini, Haki kami telah bangkit.

"Ini baru permulaan," ucapku pelan, membalas senyuman mereka dengan seringai kelelahan. "Sistem... siapkan Proyeksi Level 4 untuk besok."

Tiga belas tahun tersisa. Dunia, bersiaplah.

More Chapters