Tanpa membawa koper besar, hanya tas punggung berisi paspor dan beberapa pakaian, Han-eol melangkah keluar dari gerbang rumah mewah itu.
Dia tidak menoleh ke belakang. Di sakunya, dia sudah memesan tiket pesawat ke Swiss. Bukan untuk bisnis, tapi untuk melihat pegunungan Alpen yang selama ini hanya dia lihat di kalender kantornya yang membosankan.
Di bandara, dia bertemu dengan Lee Min-ho, teman lama dari masa SMA yang merupakan seorang fotografer freelance yang hidup bebas.
"Han-eol? Kau terlihat... berbeda. Mana jas mahalnya?" tanya Min-ho heran.
"Sudah kubuang ke tempat sampah," jawab Han-eol tertawa lepas. "Kau bilang mau ke Islandia minggu depan? Apa masih ada tempat untuk satu orang amatir?"
Min-ho menyeringai, menepuk bahu Han-eol. "Selalu ada tempat untuk orang yang baru saja menemukan jiwanya kembali."
Han-eol melihat ke arah jendela besar bandara. Pesawat-pesawat lepas landas menuju langit biru. Dia sadar, kebahagiaan bukanlah tentang memiliki orang yang tidak mencintaimu, tapi tentang mencintai dirimu sendiri cukup besar untuk berani meninggalkan mereka.
Dia bukan lagi hantu. Dia adalah manusia yang hidup.
