Di sebuah asrama backpacker murah di Praha, Ceko, Han-eol sedang berdebat sengit dengan sebuah mesin cuci koin.
"Kenapa kau tidak mau berputar?! Aku sudah memasukkan koinnya!" gerutu Han-eol sambil menepuk-nepuk mesin tua itu.
Min-ho, yang sedang asyik makan mie instan di sudut ruangan, tertawa terpingkal-pingkal. "Han-eol, kau memasukkan deterjen ke lubang koin, bodoh! Itu sebabnya mesinnya tersedak!"
Han-eol membelalak. "Hah? Bukankah lubang kecil ini untuk sabun?"
"Itu lubang pengunci, Tuan Mantan Direktur!"
Han-eol menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Selama puluhan tahun, baju-bajunya selalu rapi berkat pelayan atau binatu mahal. Sekarang, dia harus berurusan dengan kaos kaki yang hilang sebelah dan bau deterjen murahan. Tapi anehnya, dia merasa hidup.
"Yah, setidaknya aku tidak perlu menghadiri rapat direksi yang membosankan hanya untuk membahas warna logo baru," gumam Han-eol sambil mencoba mencungkil deterjennya kembali.
