Malamnya, di festival desa yang meriah, Han-eol duduk di meja panjang bersama penduduk lokal. Ada musik akordeon, tarian, dan tawa yang tumpah ruah.
Seorang wanita berambut cokelat pendek, Sofia, yang merupakan putri Mario, duduk di sampingnya. Dia adalah seorang janda yang ceria dan sangat mahir mengendarai traktor.
"Siapa wanita tadi siang itu? Mantan pacarmu yang kau tinggalkan di Korea?" goda Sofia sambil menuangkan wine ke gelas Han-eol.
"Bukan," jawab Han-eol sambil tertawa. "Dia adalah masa lalu dari orang lain yang kebetulan meminjam tubuhku selama beberapa dekade."
Sofia menaikkan alisnya, tidak mengerti tapi ikut tertawa. "Kau bicara seperti orang gila, Paolo. Tapi aku suka kegilaanmu. Ayo dansa!"
Han-eol ditarik ke tengah kerumunan. Dia menari dengan kikuk, berkali-kali menginjak kaki orang dan meminta maaf sambil tertawa keras. Dia tidak pernah merasa sebahagia ini. Tidak ada beban sebagai "Menantu Daehan Group", tidak ada beban sebagai "Ayah yang Gagal".
Hanya ada Han-eol, seorang pria yang suka anggur dan matahari.
