LightReader

Chapter 25 - Chapter 25

šŸ”„ CHAPTER 25 — "Kerajaan Solflare, Pemandu Rex, & Bayangan Frostveil yang Mulai Bergerak"

(Lanjutan langsung dari akhir Chapter 24 — tanpa mengulang apa pun)

---

šŸŒ‹ ADEGAN PEMBUKA — Cahaya Api di Kejauhan

Damien dan kelompoknya akhirnya tiba di gerbang luar Solflare.

Langit malam dipenuhi cahaya merah keemasan. Pilar-pilar api menjulang dari pusat kerajaan seperti naga yang menari.

Rex berdiri tegak dengan bangga, dada penuh kebanggaan.

Rex:

"SELAMAT DATANG DI RUMAHKU!! Kota api nomor satu sejagat—Solflare City!"

Hana mengangkat alis.

"Jangan lebay. Ini cuma gerbang luar."

Rex:

"…I-itu tetap keren, oke?"

Lyanna tersenyum kecil dan menggenggam ujung jubah Damien, seolah memastikan ia tidak menjauh.

Damien hanya melihat-lihat kota itu dengan ekspresi datar.

"Lumayan."

---

šŸ”„ MASUK KE KOTA — KERAMAIAAN SOLFLARE

Begitu memasuki kota, mereka disambut:

pedagang api yang menjual pedang panas

arena duel terbuka

pelatihan elemen api

monster flame-horned deer

dan penjaga yang mengenakan zirah merah gelap

Rex berjalan seperti tour guide profesional.

Rex:

"Kita bisa ke penginapan dulu! Harganya murah… kalau aku yang bayar."

Hana: "Kau punya uang?"

Rex: "…Tidak."

Hana: menarik telinga Rex.

Damien menghela napas kecil.

Suara Misterius berbisik:

"Berhati-hatilah, Damien. Kerajaan ini… menyimpan mata yang terlalu banyak."

Damien:

"Aku tahu."

Lyanna menatap Damien.

"Kau merasakan sesuatu?"

Damien:

"Banyak orang di sini… haus kekuatan."

Lyanna:

"…Seperti Frostveil."

Damien:

"Tidak. Lebih buruk."

---

🩸 CUT TO — KRISIS DI ISTANA SOLFLARE

Di ruang singgasana, para tetua Solflare sedang rapat besar.

Di tengah ruangan, sebuah kristal merah menyala menampilkan gambar DAMIEN.

Tetua 1:

"Anak itu… auranya aneh."

Tetua 2:

"Aku merasakannya. Ini bukan aura manusia biasa…"

Tetua 3 mengetuk meja dengan tegas.

"Mungkin… PEWARIS PRIMORDIAL."

Semua terdiam.

Raja Solflare—berjanggut merah seperti api—menutup matanya.

Raja Solflare:

"Jika dia benar pewaris primordial… berarti dia bisa membuka 'Gerbang Solar Origin' yang selama ini terkunci."

Ia menatap gambar Damien.

Raja Solflare:

"Kita butuh dia."

Senyumnya tidak jahat… tapi ambisius.

Raja Solflare:

"Cari tahu segalanya tentang dia. Jangan sampai kerajaan lain mendahului kita."

Para elit Solflare pun bergerak.

---

ā„ļø CUT TO — FROSTVEIL

Kabut es membungkus istana.

Di depan takhta, seorang pria berambut perak melapor kepada Ratu Frostveil, mata biru membeku.

Pria itu berlutut.

"Kami menemukan bocah bernama Damien Valtreos… ia berjalan bersama Putri Lyanna."

Ratu Frostveil menggenggam tahtanya kuat-kuat.

"Kau bilang… putriku mengikuti anak laki-laki asing?"

Pria itu menelan ludah.

"Ya, Yang Mulia… dan gadis itu tampak… mempercayainya."

Ratu Frostveil berdiri.

Suasana ruangan bergetar beku.

Ratu Frostveil:

"Kirimkan Silent Winter Unit."

"Cari Lyanna."

"Dan bunuh semua yang menghalanginya."

Bayangan es pun memudar seperti asap putih.

---

šŸ”„ KEMBALI KE DAMIEN — DI DALAM PENGINAPAN

Malam sudah larut.

Damien duduk di ranjang, menatap langit-langit, merasakan energi primanya.

Suara Misterius berbicara lagi:

"Damien… kau harus tahu sesuatu."

Damien membuka mata.

"Dunia ini mengenal istilah 'Pewarisan Primordial'.

Tapi warisanmu… berada DI ATAS ITU."

Damien:

"…Maksudmu?"

[Suara Misterius]

"Kau bukan pewaris primordial."

"Kau pewaris Dewa Tertinggi di dunia paling puncak."

Damien terdiam.

Nafasnya tercekat.

[Suara Misterius]

"Kalau orang-orang dunia ini tahu… bukan hanya Frostveil atau Solflare.

Seluruh benua akan memburumu."

Damien mengepal tangan.

"Biarkan mereka datang."

Aura dingin—yang bukan milik Lyanna—menggetarkan ruangan.

"Aku akan membunuh siapa pun yang mengincar kita."

Lyanna, yang diam-diam berdiri di depan pintu, mendengar semuanya.

Ia menggigit bibir, wajah pucat tapi hatinya… semakin yakin.

"Damien… siapa sebenarnya dirimu?"

---

āšœļø ADEGAN TERAKHIR — BAYANGAN MENGINTAI

Saat Damien tertidur…

Tiga bayangan membeku muncul di atap penginapan.

Salah satunya berbisik:

"Target ditemukan. Lyanna Frostveil berada di ruangan 3…"

Yang lain menatap jendela Damien.

"Dan bocah bernama Damien… memiliki aura primordial. Perintah ratu—bunuh siapapun yang bersamanya."

Namun…

Sebelum mereka bergerak—

Salah satu bayangan terpental mundur seperti ditampar petir tak terlihat.

"AAARGH—?!"

Dua lainnya panik.

"Ada penghalang? Siapa yang memasang—"

Di kejauhan, sosok berjubah putih menatap mereka…

Mata bintang itu berbisik:

"Jangan sentuh dia."

---

šŸ”„ END CHAPTER 25

More Chapters